January 10, 2014

“Putri Kami Telah Jatuh Cinta”


 
Pria itu mengucapkan kata-kata yang mengalihkan pandanganku kepadanya, yang sebelumnya aku tak mengacuhkannnya.


Tak terasa air mata menggenang di pelupuk mata, hendak mengalir keluar, namun sedapat mungkin aku menahannya. Agar tak ada yang menyadari perubahan dalam mimik wajahku oleh mereka, yang juga ada di situ, keluarga besarku. Ayah, ibu, bibi, sepupu-sepupuku dan saudara-saudara ibu lainnya.


Menyadari ada yang aneh, pria itu menoleh heran terhadapku, menghentikan seketika apa yang sedari tadi ia ucapkan. Membuat yang lain pun juga menyadari akan perubahan mimikku.


Wenny?


Ada apa?


Aku membuang pandangan darinya, menatap lurus agak ke bawah pandangan di hadapanku tanpa fokus.


Semua orang yang telah hidup lama denganku tahu bahwa aku yang pendiam, tak biasa mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku atau yang kurasa. Mereka memilih diam, tak juga bertanya seperti pria itu. Mereka tahu bahwa pasti ada yang sedang kupikirkan dan aku tak bisa menyampaikannya pada mereka. Mereka telah cukup mengenalku walau aku tak mengenalkan seperti apa aku dengan detail pada mereka lewat lisanku. Mereka telah banyak dan sering membaca sikapku yang cenderung pendiam, tersenyum sewajarnya, dalam diam seperti ada yang dipikirkan. Mereka tahu aku berbeda. Aku pemikir. Dibanding dengan anggota keluarga lain, aku lebih pemikir, berani memilih apa yang kuyakini walau berbeda dengan kebanyakan orang.


Sudah beberapa hari di rumah kami kedatangan pria itu. Ia menginap, bercengkerama dengan keluargaku tanpa kaku yang menjembataninya. Ia memang pria yang menyenangkan bagi orang lain. Ia identik dengan kemeja berlengan panjang dan celana kain. Rapi, itulah dia. Ia membaur dengan siapa pun. Dari muda hingga tua. Itulah mengapa banyak yang menyukainya. Pun dengan semua keluargaku. Tak ada satu pun yang tak menyukainya. Hanya aku yang bersikap biasa saja dengannya. Bersikap sewajarnya.


Kini, saatnyalah ia pamit pulang. Semua menghantar detik-etik kepergiannya dengan rasa kehilangan setelah sekian hari ia mengisi hari-hari mereka dengan suasana baru yang menyenangkan.


Lalu, bagaimana dengan aku? Aku, tanpa kumengerti, aku pun seperti merasa kehilangan. Ku akui itu. Saat itu terasa semua tiba-tiba menjadi jelas. Setelah sebelumnya aku biasa-biasa saja dan tak yakin. Bahwa aku akan kehilangan dia dan aku takut. Ia telah menuang kehangatan, rasa, dan warna di hatiku. Lagi, air mata menggenang di pelupuk mataku. Namun, sedapat mungkin ku tahan ia keluar dari ujung mataku.


Detik-detik ia mulai membalikkan punggungnya, membelakangi kami, melangkah demi langkah semakin menjauhi kami, saat itu aku seperti sudah hilang kendali. Aku menyeruak dari kerumunan keluarga, dan menghambur berlari menujunya. Sekejap itulah aku merangkul lingkar perutnya dari belakang dengan membungkukkan badan, menempelkan pipi kananku di punggungnya. Aku menangis, terisak-isak, sesekali menjerit pelan. Aku telah menghentikan langkahnya dengan ia terpaku sejenak tak menduga apa yang baru terjadi ini.

Begitu pula keluargaku, terpaku pada pemandangan yang terjadi di hadapan mereka saat itu. Apalagi dengan isak tangisku yang pilu tanpa kata-kata yang keluar sedikit pun dari bibirku.


Hari itu terjadi momen yang langka bagi keluargaku. Karena untuk pertama kalinya mereka melihat aku bersikap penuh harap pada seorang pria. Untuk pertama kalinya mereka melihat cinta dariku untuk seorang pria setelah sekian lama mereka tak pernah tahu menahu aku berurusan dengan laki-laki atau sekadar suka pada laki-laki. Untuk pertama kalinya mereka melihat.... aku telah jatuh cinta.


Putri kami telah jatuh cinta.




~Wenny Pangestuti~