Showing posts with label catatan sahabat. Show all posts
Showing posts with label catatan sahabat. Show all posts

October 23, 2018

Berani Menerima Kebenaran dari Anak-anak


Sebagian dari kita mungkin ada yang menilai anak-anak hanyalah anak-anak, yang pendapatnya atau perkataannya hanyalah sebagai candaan, tidak perlu menjadi bahan pertimbangan. Bila benar demikian, maka penilaian kita perlu diluruskan. Karena, salah satu poin yang menjadi metode mendidik anak ala Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam adalah menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya.

Berikut ini adalah kutipan dari buku Prophetic Parenting, Cara Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam Mendidik Anak, karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, terkait poin Menunaikan Hak Anak.


Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Di samping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran sehingga dia melihat suri teladan yang baik di hadapannya. Membiasakan diri dalam menerima dan tunduk pada kebenaran membuka kemampuan anak untuk mengungkapkan isi hati dan menuntut apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang tertutup dan dingin.


Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

  • Aku berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat universal dan bermanfaat.” Beliau bersabda, “Beribadalah kepada Allah dan janganlah engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Selalu berpeganglah dengan al-Qur’an dalam kondisi apa pun. Terimalah kebenaran dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cintai dan dekat.”

Di antara hak anak adalah menjadi imam dan pemimpin apabila dia memiliki kemampuan dan pengetahuan yang memadai untuk itu.


Salafus – saleh selalu menerima persaksian dan kebenaran dari anak-anak apa pun bentuknya.


Abu Hanifah rahimahullah melaksanakan nasihat seorang anak kecil. Beliau melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan lumpur. Beliau katakan, “Hati-hati, jangan sampai terjatuh ke dalam lumpur.” Anak kecil itu balik berkata kepada imam agung ini, “Berhati-hatilah Anda dari terjatuh (salah dalam memberi fatwa), karena jatuhnya seorang ulama adalah jatuhnya seluruh dunia.” Mendengar perkataan ini, tubuh Abu Hanifah gemetar. Setelah mendengar nasihat dari anak kecil tersebut, beliau tidak lagi mengeluarkan fatwa, kecuali setelah melakukan penelitian mendalam bersama murid-muridnya selama satu bulan penuh.


Ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai khalifah, banyak delegasi berdatangan memberikan selamat atas jabatan barunya itu. Juru bicara salah satu delegasi adalah anak muda yang berbicara mewakili delegasinya. Khalifah Umar berkata, “Apakah mereka tidak menemukan seseorang yang lebih tua usianya darimu?” Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kalau memang yang menjadi tolak ukur adalah tuanya usia, tentu yang menduduki jabatanmu sekarang ini adalah orang yang lebih tua darimu. Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau tahu bahwa manusia itu dinilai dari dua bagian terkecil dari tubuhnya: lidah dan hati?” Khalifah Umar berkata, “Berilah aku nasihat, wahai anak kecil.” Dia pun memberinya nasihat sampai sang khalifah menangis.


Nah, itu tadi kutipan menarik yang bisa kita ambil pelajaran bahwa salah satu bentuk tanggung jawab kita dalam mendidik anak dengan baik adalah menunaikan haknya dalam menyampaikan kebenaran dan kita sebagai yang lebih tua tidak ada salahnya mendengar dan menerima kebenaran tersebut. Karena yang namanya hidayah atau kebenaran kita tidak pernah tahu bagaimana jalannya sampai kepada kita atau melalui apa dan siapa perantaranya. Bisa jadi melalui lisan seorang anak kecil. Sebagai orang tua, sebuah pelajaran penting untuk mau mendengar perkataan anak dan selalu menanggapinya dengan baik karena didengar dan direspon itu adalah hak anak yang penting kita berikan kepadanya sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan kebenaran. Semoga Allah menganugerahi kita anak-cucu yang berani menyampaikan kebenaran dan giat berdakwah. Aamiin.



~Wenny Pangestuti~

January 31, 2017

Memilih Menantu Idaman ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ~part 1~


Ini adalah catatan yang saya peroleh dari tayangan Khalifah Trans7 pada 22 Mei 2016 silam. Kajian ini seperti biasa menghadirkan sosok Ustadz Budi Ashari sebagai narasumber dan dihadiri ibu-ibu jamaah Majelis Taklim Mar’atus Sholihah Bandung. Kala itu membahas tema yang menjadi dilema bagi banyak orang tua dalam memilih menantu yang ideal bagi anak-anaknya dan sekaligus bagi para pemuda dan pemudi jomblo dalam menjadi calon menantu idaman.

Bagi setiap orang tua tentu tidak mudah mencari menantu. Kadang kriteria tidak memenuhi syarat seperti kadar intelektual, status pekerjaan, latar belakang keluarga, kesamaan suku hingga hal sepele seperti warna kulit. Itulah yang kemudian menjadi kendala bagi pemuda dan pemudi jomblo betapa beratnya menjadi seorang calon menantu.

Di sisi lain, di jaman penuh keterbukaan ini ternyata semakin rapat dosa tertutup. Maka, kesulitan bagi setiap orang tua adalah bagaimana mencari calon menantu yang amanah sesuai dengan anak-anaknya; yang akan merawat mereka; dan terlebih dapat menjadi alasan bagi mereka untuk masuk ke Surga-Nya Allah Azza wa Jalla.

Oleh karenanya, kita kembalikan semuanya pada panduan yang pernah diberikan contohnya oleh orang terbaik, yang keluarganya adalah keluarga terbaik, yang bahagianya di dunia luar biasa, dan berkumpul bersama di Surga Allah Subhanallahu Ta’ala. Bukankah itu semua juga menjadi keinginan kita? Untuk itulah, bergurunya tidak kemana-mana. Bergurunya ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saat ini banyak yang masih bingung terutama dalam konsep mencari menantu. Ada orang tua yang entah apa yang melandasinya mungkin atas nama agar dianggap sebagai orang tua yang bijak sehingga asal anaknya datang kemudian menyampaikan keinginan kepada orang tuanya bahwa umpamanya, “Ayah, ibu, saya mau menikah. Calonnya sudah ada.” Kadang-kadang muncul kalimat orang tua yang sederhana kelihatannya bijak, tetapi tidak bijak. Bahwa orang tua hanya mengatakan, “Yang penting kamu suka. Yang penting kamu cinta. Dia juga cinta sama kamu.” Maka, orang tua tinggal setuju dan ridla saja.

Dalam hal ini, Ustadz Budi Ashari pun mengajak kita kembali menyusuri kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan shahabat mulia Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu, salah satu menantu beliau.

Jarak usia Ali bin Abu Thalib 30 tahun lebih mudah dari Rasulullah. Abu Thalib bin Abdul Muthalib adalah ayahanda dari Ali bin Abu Thalib sekaligus paman yang dulu merawat Nabi sejak kecil. Beliau seorang ayah dengan dengan banyak anak, namun tidak banyak harta. Inilah kebiasaan bangsa Arab yang membantu saudaranya dengan cara merawat anak-anak mereka yang tidak mampu. Pada akhirnya, Nabi Muhammad memilih Ali bin Abu Thalib berada di bawah pengasuhannya. Jadi, sedari kecil Ali bin Abu Thalib hidup dengan kualitas pendidikan yang terbaik, yakni pendidikan nabawiyah, yang langsung di bawah didikan Rasulullah.

Suatu hari ketika Ali bin Abu Thalib pulang ke rumah Rasulullah, ia melihat Rasulullah dan Khadijah melakukan shalat, gerakan-gerakan yang terlihat aneh dan asing bagi Ali bin Abu Thalib. Gerakan yang tidak pernah ia jumpai di masyarakat Mekkah.

Begitu Rasulullah selesai shalat, Ali pun bertanya, “Apa yang engkau lakukan, wahai Muhammad?”

Rasul mengatakan, “Ini shalat namanya.”

Kemudian Nabi menyampaikan tentang islam yang baru saja beliau terima. Rasul menjelaskan tentang shalat dan apa itu islam. Setelah itu Nabi menawarkan, “Ali, apakah kau mau ikuti agama ini?”

Ali menjawab, “Saya harus diskusi dengan ayah saya dahulu.” Yaitu, Abu Thalib.

Nabi tidak menginginkan agama yang baru ini begitu saja menyebar ramai dan geger sebelum waktu yang tepat. Sebab, hanya akan merugikan sesuatu yang baru muncul tersebut. Makanya, Nabi berkata, “Ali, tidak! Kalau harus diskusi dengan ayahmu, tidak. Kalau memang kamu tidak suka atau belum mau menerima agama ini, ya sudah tidak usah. Tapi, kamu tidak perlu bicara dengan ayahmu, Abu Thalib.”

Malam itu, Ali bin Abu Thalib pun berpikir. Apa saya terima? Ia timbang. Ia analisa. Anak 10 tahun mampu menganalisa sesuatu yang paling besar dalam kehidupan manusia. Pagi harinya, ia menemui Nabi dan mengatakan dua kalimat syahadat. Ia mengikuti agama yang ditawarkan Rasulullah. Inilah sosok imam yang akan memimpin keluarganya; penerus darah keturunan Rasulullah; suami seorang putri mulia, Fatimah.

Suatu hari Ali bin Abu Thalib mendapat berita. Orang-orang datang menghampiri Ali bin Abu Thalib, “Ali, itu Fatimah mau dilamar orang. Kamu saja datang. Kamu lebih layak.”

Bahkan, orang lain pun melihat kalau Fatimah, putri Nabi yang luar biasa itu cocoknya hanya dengan Ali. “Sayang kalau orang lain. Kenapa bukan kamu. Kamu yang dididik dari kecil. Kamu orang luar biasa. Kamu berasal dari keluarganya. Fatimah cocoknya sama kamu. Kamu saja yang datang ke Nabi.”

Mendengarnya, Ali bin Abu Thalib pun datang ke Nabi. Nabi pun bertanya, “Ada apa, Ali?”

“Tidak ada apa-apa, ya Rasulullah,” Ali bin Abu Thalib menjawab dengan perasaan malu. Ini menjadi pelajaran bahwa orang tua janganlah hanya memutuskan dari apa yang diucapkan anaknya. Karena terkadang mereka malu.

Ditanya lagi oleh Nabi, “Ali ada perlu apa?”

“Tidak ada, ya Rasulullah.”

Lalu, apa kata Nabi selanjutnya? “Apakah engkau ingin melamar Fatimah?”

Kok tahu? Ali mengatakan, “Iya, ya Rasulullah. Tapi, saya tidak punya mahar untuk menikahi putri engkau, Fatimah.”

Nabi mengatakan, “Kemana baju besi yang aku berikan padamu?” Ternyata Nabi pernah memberi hadiah baju besi, baju perang kepada Ali bin Abu Thalib.

“Ada, ya Rasulullah.”

Nabi berkata, “Aku nikahkan engkau dengan mahar itu.”

Betapa luar biasanya keluarga ini di tengah kesederhanaan hidup yang luar biasa. Ali bin Abu Thalib saat itu berada pada masa-masa miskin. Ali bin Abu Thalib memang dikenal ahli dalam masalah ilmu, tetapi dalam masalah harta, ia miskin. Ini pelajaran mahal bahwa Nabi kita ternyata memilih menantu miskin.

Mau tahu miskinnya seperti apa? Bisa tidak ada makanan. Sampai-sampai untuk mendapatkan beberapa butir kurma, Ali bin Abu Thalib harus membantu mengangkat air untuk mengairi kebun orang lain. Upahnya, beberapa butir kurma. Miskin. Miskin sekali. Itulah yang membuat tangan Fatimah kasar, atau bahasa kita ‘kapalan’. Sebab Fatimah mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tanpa bantuan pembantu.

Itulah sosok salah satu menantu Nabi. Miskin. Namun, bukan berarti miskin termasuk kriteria. Menantu harus miskin. Tidak. Sebagaimana pula tidak masuk kriteria bahwa menantu harus kaya. Inilah yang harus dipahami betul.

Namun, dalam hal ini Ali paham betul bahwa tugas laki-laki adalah menafkahi keluarga. Itu sudah sangat cukup.

Itulah salah satu potret bagaimana Rasulullah mengajari setiap orang tua dalam memilih calon menantu. Kenalilah calon menantu seperti halnya mengenali anak sendiri. Mengenal bukan dalam jangka waktu setahun dua tahun. Namun mengenal sedari kecil. Padahal bisa saja Rasulullah memilih shahabat lain. Namun, Rasulullah justru memilih seorang menantu yang sudah dikenalnya sejak kecil.

Pelajaran mahal yang bisa diambil dari kisah sosok mulia Ali bin Abu Thalib ini adalah bagaimana seharusnya muslim memilih pasangan hidup. Pesan penting ini untuk semua orang tua muslim yang ingin memilihkan jodoh bagi anaknya. Sekaligus pesan penting bagi seluruh pemuda dan pemudi jomblo yang ingin meraih cinta sejati.

Buat para orang tua hendaknya memasang parameter taqwa di atas segalanya. Jauhkan anak-anak dari parameter dunia apalagi hanya sebatas harta. Ketahuilah bahwa seorang pemuda miskin seperti B.J. Habiebie kelak akan menjadi orang super kaya raya karena memiliki sederet ijin paten di bidang penerbangan. Bahkan beliau menjadi presiden Republik Indonesia. Maka orang tua manakah yang tertipu dengan kemiskinan Habibi ketika itu.

Buat pemuda dan pemudi jomblo hendaknya menjadikan Ali bin Abu Thalib sebagai idola, pemuda yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla dan sangat taat kepada Rasulullah. Pantaskanlah diri seperti seorang muslim sejati: shalat diperkuat; zakat dan sedekah diperbanyak; ngaji diperdalam. Bila parameter taqwa sudah digenggaman, maka kisah Ali bin Abu Thalib bisa jadi akan menjadi kisah kita berikutnya.

Nah, demikianlah isi kajian Khalifah Trans7 bersama Ustadz Budi Ushari dan ibu-ibu jamaah Mar’atus Shaliha Bandung. Eits, tapi belum selesai! Masih ada pembahasan selanjutnya, yaitu pengembangan materi dari sesi tanya jawab antara para jamaah dengan Ustadz Budi Ashari. Jadi, nantikan postingan selanjutnya ya! Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi pembaca.

To be continued…


Salam,
Wenny Pangestuti

December 08, 2015

Surat untuk Presiden dari Adib


Banyuwangi, 8 November 2015

Yth :    Bapak Joko Widodo
di Tempat


Salam sejahtera untuk Pak Jokowi
Kedatangan surat saya ini mengundang Pak Jokowi untuk berkunjung ke Banyuwangi. Di sini udaranya sangat sejuk dan aliran sungainya jernih. Pak Jokowi pasti senang di sini.
Pak Jokowi patut berbangga menjadi presiden karena Pak Jokowi dipilih oleh rakyat. Bagaimana dengan keadaan di sana, Pak? Apa masih banyak penumpukan sampah di sekitar bantaran Sungai Ciliwung? Di sini masih banyak sampah yang menumpuk dan masih terkena banjir yang meluap hingga 2 m. Semoga Pak Jokowi sabar menghadapi urusan ini. Pak Jokowi semangat terus dan pantang menyerah.
Dengan ini sekian surat saya. Terima kasih atas perhatian Pak Jokowi. Wabillahi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Salamku Pak Presiden,


Moh. Adib Maulana

November 30, 2015

Surat untuk Presiden dari Faza


Banyuwangi, 7 November 2015

Kepada : Bapak Presiden H. Joko Widodo
di Istana Negara


Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar, Pak? Semoga semua yang ada di sana baik-baik saja. Maaf, Pak, mengganggu hari Bapak yang lagi sibuk dengan urusan Negara. Saya doakan agar urusan Bapak bisa tuntas dengan baik.
Perkenalkan, Pak, nama saya Fathimah Faza Almuna, pelajar dari MTs Al-Fatah Sragi, Banyuwangi, Jawa Timur. Bolehkah saya mengkritik Bapak? Saya ingin Indonesia ini lebih maju, bukan sekedar teknologinya, tetapi juga keanekaragaman hayatinya. Kemarin-kemarin ini adalah kemarau panjang. Tolong Bapak turun tangan atas musibah ini. Sudah banyak korban di sana. Sudah banyak hutan yang gundul karena pergesekan rumput kering. Mungkin usul saya ini bisa membantu. Tolong hutan-hutan gundul tersebut direboisasi lagi agar flora dan fauna kita lebih terjaga kembali dan tidak punah. Kalau dibiarkan akan jadi apa Indonesia??
Cukup sekian di akhir kata. Mohon maaf atas kesalahan penulisan dan tata bahasa dalam surat ini. Semoga bisa membantu. Selebihnya mohon dimaklumi.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Dari saya,


Fathimah Faza Almuna

November 26, 2015

Surat untuk Presiden dari Nuvi


Banyuwangi, 07 November 2015

Kepada
Bapak Presiden Ir.H. Joko Widodo
di Istana Negara


Assalamu’alaikum
Apa kabar, Pak? Semoga semua yang ada di sana baik-baik saja. Maaf, Pak, mengganggu hari Bapak yang lagi sibuk dengan urusan Negara. Saya doakan agar urusan Bapak dapat diselesaikan dengan bijak.
Perkenalkan, Pak, nama saya Alanda Nuvida Tsuroya, pelajar dari MTs Al-Fatah Banyuwangi, Jawa Timur. Saya kagum atas kebijakan Bapak dalam menghadapi masalah yang ada di Indonesia. Saya juga turut berduka cita atas peristiwa pembunuhan anak di dalam kardus. Saya dan teman-teman saya yang ada di sini ikut trauma atas peristiwa tersebut. Mohon, Pak, anak-anak lebih diperhatikan atas keselamatannya karena anak-anak adalah pewaris dari Negara kita. Jika anak-anak selalu tersakiti, kasihan, Pak. Anak-anak nggak bisa belajar dengan tenang karena trauma dalam peristiwa pembunuhan. Apakah nyawa anak-anak harus terancam..?
Cukup sekian di akhir kata. Mohon maaf atas kesalahan penulisan dan tata bahasa dalam surat ini. Selebihnya mohon dimaklumi.
Wassalamu’alaikum


Dari saya,
  

Alanda Nuvida Tsuroya

November 24, 2015

Surat untuk Presiden dari Hanum


Banyuwangi, 7 November 2015

Kepada Yth
B. Joko Widodo
Di Tempat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri saya. Saya Hanum. Saya adalah siswi kelas 7 MTs Al-Fatah Sragi.
Tujuan saya menulis surat ini adalah saya mau menyampaikan unek-unek saya tentang pendidikan yang selama ini berjalan. Saya merasa tersentuh saat melihat masih banyak anak-anak belia yang terlantar yang mengemis di pinggir jalan. Padahal itu bukan tugas dari seorang anak. Tugas dari seorang anak adalah belajar karena generasi muda adalah penerus bangsa. Bagaimana sebuah Negara bisa maju kalau tidak ada faktor pendorong di dalamnya, salah satunya adalah generasi muda yang berilmu. Saya mohon kepada Bapak Joko Widodo, tolong bantu perkembangan ilmu mereka, dengan cara membangun beberapa sekolah gratis untuk anak yang tidak mampu.
Demikian surat dari saya. Apabila ada kata-kata yang mungkin tidak layak untuk saya ucapkan, saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahtaullahi wabarakatuh.


Hormat saya,
  

Hanumatul Hasuna S.B.H.

April 01, 2015

Menjaga, Menata, lalu Bercahaya


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilihan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

***

Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abu Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummu Darda’. Belajar menjadi mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan mengelola hati. Lalu mereka pun bercahaya dalam pentas sejarah. Bagaimanakah kiranya?
Ijinkan saya mengenang seorang ulama yang berhasil mengintisarikan Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam Al Ghazali. Ustadz Sa’id Hawa namanya. Dalam buku Tazkiyatun Nafs, beliau menggambarkan pada kita proses untuk menjadi orang yang shadiq, orang yang benar. Prosesnya ada empat, ialah sebagai berikut,

Shidqun Niyah
Artinya benar dalam niat. Benar dalam semburat pertama hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.

Shidqul ‘Azm
Artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya. Benar dalam memancang target-target diri. Benar dalam pekik semangat. Benar dalam menemukan motivasi setiap kali. Benar dalam mengaktivasi potensi diri. Benar dalam memikirkan langkah-langkah pasti. Benar dalam memantapkan jiwa.

Shidqul Iltizam
Artinya benar dalam komitmen. Benar dalam menetapi rencana-rencana. Benar dalam melanggengkan semangat dan tekad. Benar dalam memegang teguh nilai-nilai. Benar dalam memaksa diri. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam menghadapi tantangan dan ancaman. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, fikir, dan ikhtiyar.

Shidqul ‘Amaal
Artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam melakukan segalanya tanpa menabrak pagar-pagar Ilahi. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam langkah-langkah yang ditempuh. Benar dalam profesionalisme dan ihsannya amal. Benar dalam tiap gerak anggota badan.

Nah, mari coba kita refleksikan proses menjadi orang benar ini dalam proses menuju pernikahan. Seperti Salman. Ia kuat memelihara aturan-aturan syar’i. Dan mengharukan caranya mengelola hasrat hati. Insya Allah dengan demikian keberkahan itu semakin mendekat. Jikalau Ash Shidq berarti kebenaran dan bermakna kejujuran, maka yang pertama akan tampak sebagai gejala keberkahan adalah di saat kita jujur dan benar dalam bersikap pada Allah dan manusia.

***

Apa kiat sederhana untuk menjaga hati menyambut sang kawan sejati? Dari pengalaman, ini jawabnya: memfokuskan diri pada persiapan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya adalah mereka yang berfokus pada “Who”. Dengan siapa. Mereka yang insya Allah bisa melalui kehidupan pernikahan yang penuh tantangan adalah mereka yang berfokus pada “Why” dan “How”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.

Maka jika kau ingin tahu, inilah persiapan-persiapan itu:
Persiapan Ruhiyah (Spiritual)
Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumahtangga.

Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (Ilmu-Intelektual)
Bersiaplah menata rumahtangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang Ad Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang ma’ruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.

Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkait dengan kesehatan reproduksi, harus segera diikhtiyarkan penyembuhannya. Keputihan pada akhwat misalnya. Atau gondongan (parotitis) bagi ikhwan. Karena virus yang menyerang kelenjar parotid ini, jika tak segera diblok, bisa menyerang testis. Panu juga harus disembuhkan, he he. Perhatikan kebersihan. Yang lain, perhatikan makanan. Pokoknya harus halal, thayyib, dan teratur. Hapus kebiasaan jajan sembarangan. Tentang pakaian juga, apalagi pada bagian yang paling pribadi. Kebiasaan memakai dalaman yang terlalu ketat misalnya, berefek sangat buruk bagi kualitas sperma. Nah.

Persiapan Maaliyah (Material)
Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, dan kendaraan yang harus kita punya. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas menghasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, dan kemampuan mengelola sejumlah apapun ia.
Maka memulai pernikahan, BUKAN soal apa kita sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi dan kehendak baik menafkahi. Adalah ‘Ali ibn Abi Thalib memulai pernikahannya bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dan lain-lain dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.

Maka sesudah kompetensi dan kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: pernikahan itu jalan Allah membuka kekayaan (Q.S. 24: 32). Buatlah proyeksi nafkah rumahtangga secara ilmiah dan executable. JANGAN masukkan pertolongan Allah dalam hitungan, tapi siaplah dengan kejutanNya. Kemapanan itu tidak abadi. Saat belum mapan masing-masing pasangan bisa belajar untuk menghadapi lapang maupun sempitnya kehidupan. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite, signifikan memperkuat ikatan cinta. Ketidakmapanan yang dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung dan meningkatkan angka harapan hidup.

Persiapan Ijtima’iyyah (Sosial)
Artinya, siap untuk bermasyarakat, faham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi da’wah di lingkungannya.
Nah, ini semua adalah persiapan. Artinya sesuatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Karena, bahkan proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu.

Lalu, kapan kita menikah?
Ya. Memang harus ada parameter yang jelas. Apa? Rasulullah ternyata hanya menyebut satu parameter di dalam hadits berikut ini. Satu saja. Coba perhatikan.

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian telah bermampu BA’AH, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan farj. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sungguh puasa itu benteng baginya.”
HR. Al Bukhari dan Muslim

Hanya ada satu parameter saja. Apa itu? Ya, ba’ah. Apa itu ba’ah? Sebagian ‘ulama berbeda pendapat tetapi menyepakati satu hal. Makna ba’ah yang utama adalah kemampuan biologis, kemampuan berjima’. Adapun makna tambahannya, menurut Imam Asy Syaukani adalah al mahru wan nafaqah, mahar dan nafkah. Sedang menurut ‘ulama lain adalah penyediaan tempat tinggal. Tetapi, makna utamalah yang ditekankan yakni kemampuan jima’.
Maka, kita dapati generasi awal ummat ini menikahkan putra-putri mereka di usia muda. Bahkan sejak mengalami ihtilam (mimpi basah) pertama kali. Sehingga, kata Ustadz Darlis Fajar, di masa Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, tidak ada kenakalan remaja. Lihatlah sekarang, kata beliau, ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh menyejarah menikah di usia belasan. Yusuf Al Qaradlawi menikah di usia belasan, ‘Ali Ath Thanthawi juga begitu. Beliau lalu mengutip hasil sebuah riset baru di Timur Tengah, bahwa penyebab banyaknya kerusakan moral di tengah masyarakat adalah banyaknya bujangan dan lajang di tengah masyarakat itu.
Nah. Selesai sudah. Seberapa pun persiapan, sesedikit apapun bekal, anda sudah dituntut menikah kalau sudah ba’ah. Maka persiapan utama adalah komitmen. Komitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai perbaikan diri terus menerus. Saya ingin menegaskan, sesudah kebenaran dan kejujuran, gejala awal dari barakah adalah mempermudah proses dan tidak mempersulit diri, apalagi mempersulit orang lain. Sudah berani melangkah sekarang? Apakah anda masih perlu sebuah jaminan lagi? Baik, Allah akan memberikannya, Allah akan menggaransinya:

“Ada tiga golongan yang wajib bagi Allah menolong mereka. Pertama, budak mukatab yang ingin melunasi dirinya agar bisa merdeka. Dua, orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya dari ma’shiat. Dan ketiga, para mujahid di jalan Allah.”
HR At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Ibnu Majah

Pernah di sebuah milis, saya juga menyentil sebuah logika kecil yang pernah disampaikan seorang kawan lalu saya modifikasi sedikit. Apa itu? Tentang bahwa menikah itu membuka pintu rezeki. Jadi logikanya begini. Jatah rezeki kita itu sudah ada, sudah pasti sekian-sekian. Kita diberi pilihan-pilihan oleh Allah untuk mengambilnya dari jalan manapun. Tetapi, ia bisa terhalang oleh beberapa hal semisal malas, gengsi, dan ma’shiat.
Kata ‘Umar ibn Al Khaththab, pemuda yang tidak berkeinginan segera menikah itu kemungkinannya dua. Kalau tidak banyak ma’shiatnya, pasti diragukan kejantanannya. Nah, kebanyakan insya Allah jantan. Cuma ada ma’shiat. Ini saja sudah menghalangi rezeki. Belum lagi gengsi dan pilih-pilih pekerjaan yang kita alami sebelum menikah. Malu, gengsi, pilih-pilih.
Tapi begitu menikah, anda mendapat tuntutan tanggungjawab untuk menafkahi. Bagi yang berakal sehat, tanggungjawab ini akan menghapus gengsi dan pilih-pilih itu. Ada kenekatan yang bertanggungjwab ditambah berkurangnya ma’shiat karena di sisi sudah ada isteri yang Allah halalkan. Apalagi, kalau memperbanyak istighfar. Rezeki akan datang bertubi-tubi. Seperti kata Nabi Nuh ini,
“Maka aku katakan kepada mereka: “Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
TQS. Nuh: 10-12

Pernah membayangkan punya perkebunan yang dialiri sungai-sungai pribadi? Banyaklah beristighfar, dan segeralah menikah, insya Allah barakah. Nah, saya sudah menyampaikan. Sekali lagi, gejala awal dari barakahnya sebuah pernikahan adalah kejujuran ruh, terjaganya proses dalam bingkai syaria’t, dan memudahkan diri. Ingat kata kuncinya; jujur, syar’i, mudah. Saya sudah menyampaikan, Allaahummasyhad! Ya Allah saksikanlah! Jika masih ada ragu menyisa, pertanyaan Nabi Nuh di ayat selanjutnya amat relevan ditelunjukkan ke arah wajah kita.

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?”
TQS. Nuh: 13

Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.


Ditulis oleh:
Salim A. Fillah


Sumber Foto:  riyadhulquran.com