Showing posts with label surat. Show all posts
Showing posts with label surat. Show all posts

December 08, 2015

Surat untuk Presiden dari Adib


Banyuwangi, 8 November 2015

Yth :    Bapak Joko Widodo
di Tempat


Salam sejahtera untuk Pak Jokowi
Kedatangan surat saya ini mengundang Pak Jokowi untuk berkunjung ke Banyuwangi. Di sini udaranya sangat sejuk dan aliran sungainya jernih. Pak Jokowi pasti senang di sini.
Pak Jokowi patut berbangga menjadi presiden karena Pak Jokowi dipilih oleh rakyat. Bagaimana dengan keadaan di sana, Pak? Apa masih banyak penumpukan sampah di sekitar bantaran Sungai Ciliwung? Di sini masih banyak sampah yang menumpuk dan masih terkena banjir yang meluap hingga 2 m. Semoga Pak Jokowi sabar menghadapi urusan ini. Pak Jokowi semangat terus dan pantang menyerah.
Dengan ini sekian surat saya. Terima kasih atas perhatian Pak Jokowi. Wabillahi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Salamku Pak Presiden,


Moh. Adib Maulana

November 30, 2015

Surat untuk Presiden dari Faza


Banyuwangi, 7 November 2015

Kepada : Bapak Presiden H. Joko Widodo
di Istana Negara


Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar, Pak? Semoga semua yang ada di sana baik-baik saja. Maaf, Pak, mengganggu hari Bapak yang lagi sibuk dengan urusan Negara. Saya doakan agar urusan Bapak bisa tuntas dengan baik.
Perkenalkan, Pak, nama saya Fathimah Faza Almuna, pelajar dari MTs Al-Fatah Sragi, Banyuwangi, Jawa Timur. Bolehkah saya mengkritik Bapak? Saya ingin Indonesia ini lebih maju, bukan sekedar teknologinya, tetapi juga keanekaragaman hayatinya. Kemarin-kemarin ini adalah kemarau panjang. Tolong Bapak turun tangan atas musibah ini. Sudah banyak korban di sana. Sudah banyak hutan yang gundul karena pergesekan rumput kering. Mungkin usul saya ini bisa membantu. Tolong hutan-hutan gundul tersebut direboisasi lagi agar flora dan fauna kita lebih terjaga kembali dan tidak punah. Kalau dibiarkan akan jadi apa Indonesia??
Cukup sekian di akhir kata. Mohon maaf atas kesalahan penulisan dan tata bahasa dalam surat ini. Semoga bisa membantu. Selebihnya mohon dimaklumi.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Dari saya,


Fathimah Faza Almuna

November 26, 2015

Surat untuk Presiden dari Nuvi


Banyuwangi, 07 November 2015

Kepada
Bapak Presiden Ir.H. Joko Widodo
di Istana Negara


Assalamu’alaikum
Apa kabar, Pak? Semoga semua yang ada di sana baik-baik saja. Maaf, Pak, mengganggu hari Bapak yang lagi sibuk dengan urusan Negara. Saya doakan agar urusan Bapak dapat diselesaikan dengan bijak.
Perkenalkan, Pak, nama saya Alanda Nuvida Tsuroya, pelajar dari MTs Al-Fatah Banyuwangi, Jawa Timur. Saya kagum atas kebijakan Bapak dalam menghadapi masalah yang ada di Indonesia. Saya juga turut berduka cita atas peristiwa pembunuhan anak di dalam kardus. Saya dan teman-teman saya yang ada di sini ikut trauma atas peristiwa tersebut. Mohon, Pak, anak-anak lebih diperhatikan atas keselamatannya karena anak-anak adalah pewaris dari Negara kita. Jika anak-anak selalu tersakiti, kasihan, Pak. Anak-anak nggak bisa belajar dengan tenang karena trauma dalam peristiwa pembunuhan. Apakah nyawa anak-anak harus terancam..?
Cukup sekian di akhir kata. Mohon maaf atas kesalahan penulisan dan tata bahasa dalam surat ini. Selebihnya mohon dimaklumi.
Wassalamu’alaikum


Dari saya,
  

Alanda Nuvida Tsuroya

November 24, 2015

Surat untuk Presiden dari Hanum


Banyuwangi, 7 November 2015

Kepada Yth
B. Joko Widodo
Di Tempat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri saya. Saya Hanum. Saya adalah siswi kelas 7 MTs Al-Fatah Sragi.
Tujuan saya menulis surat ini adalah saya mau menyampaikan unek-unek saya tentang pendidikan yang selama ini berjalan. Saya merasa tersentuh saat melihat masih banyak anak-anak belia yang terlantar yang mengemis di pinggir jalan. Padahal itu bukan tugas dari seorang anak. Tugas dari seorang anak adalah belajar karena generasi muda adalah penerus bangsa. Bagaimana sebuah Negara bisa maju kalau tidak ada faktor pendorong di dalamnya, salah satunya adalah generasi muda yang berilmu. Saya mohon kepada Bapak Joko Widodo, tolong bantu perkembangan ilmu mereka, dengan cara membangun beberapa sekolah gratis untuk anak yang tidak mampu.
Demikian surat dari saya. Apabila ada kata-kata yang mungkin tidak layak untuk saya ucapkan, saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahtaullahi wabarakatuh.


Hormat saya,
  

Hanumatul Hasuna S.B.H.

July 04, 2014

Surat yang Ditinggal Zaman


Dahulu pernah terlitas dalam pikiran saya untuk memilki sahabat pena. Sahabat, yang bisa rutin kutuliskan dan kukirimkan surat untuknya. Namun, di era saat ini, pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, menulis surat melalui kertas sudah tidaklah populer. Orang bisa dengan mudah menghubungi orang lain dari jarak jauh dalam waktu relatif lebih cepat dengan alat komunikasi elektronik, seperti halnya handphone dengan layanan telepon dan SMS (Short Messenger Service)-nya; komputer yang berkolaborasi dengan internet menawarkan layanan e-mail, chatting, atau jejaring sosial semacam facebook, twitter, dan sejenisnya.

Sebenarnya menulis surat lebih terasa berbeda. Bukan sebatas untuk menyambung hubungan, namun ada nilai tersendiri dengan menulis di atas kertas; membaca karakteristik tulisan orang lain yang berbeda dengan kita. Lain dari itu, menulis surat, lalu mengirimkan lewat pos, memunculkan rasa yang unik, yaitu rasa penuh-penuh penantian dan kerinduan menanti jawaban atas surat kita yang bisa berhari-hari atau berbulan-bulan kehadirannya. Berbeda sekali bukan dengan berkirim surat lewat e-mail di era sekarang atau chatting yang bisa dengan sekejap kita terima balasannya?

Di satu sisi, kehidupan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kian pesat memang membuat kehidupan pribadi setiap orang seperti tiada tabir yang membatasi. Dengan hanya sekali click, kita bisa mendapat sejumlah informasi tentang orang yang ingin kita ketahui. Wajar bila akhirnya muncul penyakit sosial baru yang bernama KEPO (Knowing Everything  of the Particular Object).

Secara pengalaman, surat-menyurat pernah saya lakukan. Surat menyurat tanpa perangko, bahkan beberapa tanpa amplop. Jadi istilahnya surat-menyurat-an. 

Pertama, bersahabat pena – sahabat penaan dengan seseorang yang setiap enam hari dalam seminggu sebenarnya selalu bertemu di sekolah. Dia adalah Evi Akbarwati. Kita memang satu SMA, tapi tidak satu kelas. Hal ini yang acapkali membuat kita menjalin komunikasi lewat surat-menurat untuk sekadar mencurahkan hati melaui kata-kata. 

Kedua, surat menyurat dengan teman yang asli jaraknya jauh dari tempat tinggal saya. Dia adalah Siti Rahayu, yang akrab dipanggil Ayu. Ayu adalah teman SMP saya. Setelah lulus SMP, Ayu melanjutkan studi di Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo kalau tidak salah. Kami hanya surat-menyurat satu kali sebenarnya. Perantara kami adalah orangtua Ayu yang melakukan kunjungan, menengok keadannya putrinya tersebut. Setidaknya saya merasakan rasanya menerima surat  dari jauh dalam waktu yang tidak terlalu instan, walaupun tidak mengunakan jasa layanan pos.

Ketiga, saya pernah menulis surat ketika saya tidak mampu mengungkapkan sesuatu dengan lisan. Seperti pengalaman saya kehilangan jam tangan favorit saya ketika kelas VIII SMP. Itu adalah jam tangan pertama yang dibelikan oleh bapak dan ibu. Itu juga pertama kalinya saya memiliki jam tangan. Jam tersebut cukup berati bagi saya karena saya sering melihat jam tersebut untuk mengukur batas waktu saya harus menyelesaikan soal-soal ujian; mengukur batas waktu saya harus bangun jam berapa untuk belajar tengah malam atau shalat malam atau sahur atau shalat shubuh. Tapi apa hendak dikata, ternyata jam tangan saya akhirnya hilang ketika naik angkot untuk berangkat sekolah. Saya baru menyadarinya ketika jam pelajaran dimulai karena biasanya saya akan melepas jam tangan saya dan menaruhnya di meja di hadapan saya untuk mengukur  batas waktu pergantian jam pelajaran (sepertinya terlalu scheduler ya). Betapa galaunya saya waktu itu. Saya bisa membayangkan ekspresi marahnya ibu saya bila tahu jam tangan saya hilang. Akhirnya, untuk menghindari amarah ibu saya secara langsung, saya menyampaikannya melaui tulisan. Inilah adalah cara pertama kali yang saya lakukan. Setelah menuliskan surat tersebut, saya menaruhnya di tempat ibu saya biasa menjangkaunya untuk mengambil sesuatu. Saya menaruhnya ketika akan berangkat sekolah. Pulang sekolah, saya was-was bagaimana respon ibu saya setelah mengetahui hilangnya jam tangan saya. Betapa tidak menduganya saya melihat respon ibu saya ketika telah membaca surat itu. Ibu tidak marah seperti biasanya. Ibu tidak mengoceh seperti biasanya. Ibu saya hanya bertanya dengan nada yang lunak apa benar jam tangan saya hilang dan mengapa bisa hilang. Fiuh..saya lega sekali. Saya benar-benar tidak menduga dengan respon tersebut. Betapa ajaibnya surat saya. Hehehe.

Dari pengalaman saya menulis surat di atas kertas, ada hal yang menarik. Meskipun berkali-kali menulis ulang suratnya karena tidak puas dengan isinya atau ada beberapa editan kata atau kalimat, hal ini cukup menarik karena ada pengorbanan berupa ketelatenan, kesabaran untuk membuatnya. Sesuatu yang diinginkan, tetapi harus didahului dengan pengorbanan usaha itu memang indah pada waktunya; bahagia pada waktunya; puas pada waktunya. :-)

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memanglah tak bisa kita elak. Ini adalah sisi mengembirakan dalam perkembangan peradaban manusia. Sisi yang lain, hal ini dapat mengefisienkan aktivitas manusia selama pemanfaatannya digunakan sebagaimana fungsinya, tidak melebihi batas.

Kalau sudah begini saya hanya bisa bertanya, "Adakah yang masih mau menulis surat di atas kertas?" :-)



~Wenny Pangestuti~

http://artoftheletter.blogspot.co.id/