Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

October 26, 2018

Kekuatan Doa Orangtua


Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.”
(T.Q.S. Al-Mu’min : 60)

Secara lahiriyah, berdoa adalah aktivitas yang mudah untuk dilakukan. Seseorang tak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan aktivitas ini. Tetapi secara batiniyah, berdoa adalah aktivitas yang membutuhkan perjuangan untuk sungguh-sungguh mengkoneksikan hati terkait apa yang dipanjatkan. Berdoa adalah dialog yang bermakna antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga ketika hati kosong saat berdoa, maka berdoa hanyalah ucapan saja, tak terpatri di dalam hati.

Berdoa, aktivitas sederhana, tapi saangat bermakna. Dalam buku Dream & Pray, karya akun twitter @DoaIndah yang dikelola oleh Arif Rahman Lubis, disebutkan bahwa:
  • Doa adalah ‘senjata’ kita dalam menjalani hidup. Dengan ‘senjata’ ini, kita melindungi diri dari segala keburukan; membangun keyakinan bahwa kita bisa melewati ujian dan meraih impian; serta tak ada yang mustahil.

Selain itu, disebutkan pula manfaat berdoa bagi muslim yang menjalankannya adalah:
  1. Menyembuhkan segala penyakit
  2. Semakin dekat dengan Allah
  3. Menguatkan mental dan semangat hidup
  4. Menumbuhkan optimisme
  5. Membantu kita fokus pada tujuan
  6. Semua keinginan akan dikabulkan
  • “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa kepada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahim (antar kerabat) melainkan Allah akan memberi padanya tiga hal: Allah akan segera mengabulkan doanya, Allah akan menyimpannya bagi dirinya di akhirat kelak, dan Allah akan menghindarkan keburukan dan yang semisalnya darinya. “Para sahabat kemudian berkata, “Kalau begitu, kami akan memperbanyak berdoa.” Nabi Shallallahu ‘alyahi wa Sallam menjawab, “ Allah nanti yang memperbanyak pengabulan doa-doa kalian.” (HR. Ahmad)
  • Jangan pernah bosan berdoa. Karena, doa yang kita panjatkan kepada Allah akan selalu membawa kebaikan. Apa saja kebaikan itu? Setidaknya ada lima hal yang akan diterima oleh orang yang berdoa, yaitu:
1)  Allah segera mengabulkan doa orang tersebut, sehingga ia mendapatkan apa yang ia minta;
2)  Allah mengganti permintaan orang itu dan memberinya keselamatan dari bencana;
3)  Allah menjawab permintaan orang itu dengan ganti yang jauh lebih baik;
4)  Allah menunda pengabulan doa orang itu hingga waktu yang lebih tepat;
5) Allah menunda pengabulan doa orang itu sampai ajal menjemputnya.
Doanya menjadi simpanan di akhirat.

Apalagi bila doa dipanjatkan oleh orangtua bagi anaknya, maka maknanya luar biasa. Dalam buku Prophetic Parenting Cara Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam Mendidik Anak disebutkan bahwa doa adalah salah satu metode mendidik anak ala Nabi.

  • Doa merupakan landasan asasi yang setiap orangtua dituntut untuk selalu konsisten menjalankannya. Mereka juga harus selalu mencari waktu-waktu dikabulkannya doa yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Doa kedua orangtua selalu dikabulkan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dikisahkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi, yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian, dan doa orang yang dizhalimi.”
(HR. Abu Dawud)

Kita dapat mengambil hikmah dari kisah tiga tokoh hebat Islam berikut bahwa betapa ‘ajaib’-nya doa seorang ibu yang shalihah dan tulus mengenai harapan-harapan baiknya bagi anaknya. Kisah ini saya kutipkan dari buku Dream & Pray.
  1. Imam Bukhari dirawat dengan sepenuh cinta oleh ibunya. Meski ia buta, sang ibu tetap bersyukur kepada Allah dan tetap mencintainya. Di akhir setiap shalat malamnya, sang ibu selalu menangis dan berdoa kepada Allah agar penglihatan anaknya disembuhkan. Allah menjawab lunas doa itu. Kesehatan mata Imam Bukhari kembali. Ia bahkan kemudian menjadi imam terbesar dalam ilmu hadits. Kitabnya, Shahih Bukhari, menjadi rujukan utama bagi kaum muslim setelah Al-Qur’an.
  2. Imam Syafi’i adalah anak yatim. Kecintaannya kepada agama dan ilmu pengetahuan mendorongnya meminta restu sang ibu untuk merantau dan menuntut ilmu. Sang ibu mengizinkannya dan memberi bekal doa. “Ya Allah, mudahkanlah urusannya, jagalah keselamatannya, dan panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya kembali saat pulang nanti dengan dada yang penuh ilmu yang berguna. Aamiin.” Allah menjawab doa ibu Imam Syafi’i, berkali-kali lipat. Anaknya menjadi salah satu menara ilmu fikih yang dijadikan pedoman banyak orang.
  3. Imam Ahmad juga seorang anak yatim. Ibunya adalah madrasah pertamanya. Sepanjang waktu, ibunya mendoakan kebaikan dan kemuliaan untuk anaknya. Allah mengabulkan permintaan ibu Imam Ahmad. Bahkan, Allah memberi balasan kebaikan yang sangat besar. Anaknya adalah salah satu dari empat imam mazhab. Fatwa-fatwanya terus diikuti oleh umat Islam sampai sekarang.
Dari ketiga kisah di atas, kita belajar bahwa betapa dahsyatnya pengaruh doa dari orangtua bagi anaknya. Maka, seyogyanya sebagai anak, kita wajib memperhatikan adab dan akhlak kita dalam bergaul dengan keduanya agar tak menciderai hati keduanya. Sebagai orangtua, kita wajib menghindarkan diri dari mendoakan keburukan bagi anak-anak kita.

Dalam buku Prophetic Parenting Cara Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam Mendidik Anak disebutkan bahwa:
  • Besarnya bahaya orang yang medoakan keburukan bagi anaknya. Karena, doa keburukan bagi anak akan membawa dampak kehancuran bagi masa depan si anak dan juga kehancuran diri kedua orangtua tersebut. Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam melarang para orangtua untuk mendoakan keburukan bagi anak-cucu mereka. Sebab, hal ini menafikan akhlak islami, kontradiktif dengan metode pendidikan Nabi dan jauh dari konsep kenabian yang mengajak umat manusia untuk memeluk agama Islam dengan segala kebaikan.

Semoga hati kita senantiasa diselimuti perasaan cinta dan penuh kasih sayang agar lidah kita selalu melantunkan doa-doa yang baik seperti keluar-masuknya napas. Aamiin.




~Wenny Pangestuti~

October 23, 2018

Berani Menerima Kebenaran dari Anak-anak


Sebagian dari kita mungkin ada yang menilai anak-anak hanyalah anak-anak, yang pendapatnya atau perkataannya hanyalah sebagai candaan, tidak perlu menjadi bahan pertimbangan. Bila benar demikian, maka penilaian kita perlu diluruskan. Karena, salah satu poin yang menjadi metode mendidik anak ala Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam adalah menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya.

Berikut ini adalah kutipan dari buku Prophetic Parenting, Cara Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam Mendidik Anak, karya Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, terkait poin Menunaikan Hak Anak.


Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam dirinya dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Di samping itu juga merupakan pelatihan bagi anak untuk tunduk kepada kebenaran sehingga dia melihat suri teladan yang baik di hadapannya. Membiasakan diri dalam menerima dan tunduk pada kebenaran membuka kemampuan anak untuk mengungkapkan isi hati dan menuntut apa yang menjadi haknya. Sebaliknya, tanpa hal ini akan menyebabkannya menjadi orang yang tertutup dan dingin.


Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dan ad-Dailami dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

  • Aku berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, “Ajarilah aku beberapa kalimat yang bersifat universal dan bermanfaat.” Beliau bersabda, “Beribadalah kepada Allah dan janganlah engkau sekutukan Dia dengan sesuatu apa pun. Selalu berpeganglah dengan al-Qur’an dalam kondisi apa pun. Terimalah kebenaran dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu benci dan jauh. Tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, baik masih anak-anak atau sudah dewasa, walaupun kamu cintai dan dekat.”

Di antara hak anak adalah menjadi imam dan pemimpin apabila dia memiliki kemampuan dan pengetahuan yang memadai untuk itu.


Salafus – saleh selalu menerima persaksian dan kebenaran dari anak-anak apa pun bentuknya.


Abu Hanifah rahimahullah melaksanakan nasihat seorang anak kecil. Beliau melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan lumpur. Beliau katakan, “Hati-hati, jangan sampai terjatuh ke dalam lumpur.” Anak kecil itu balik berkata kepada imam agung ini, “Berhati-hatilah Anda dari terjatuh (salah dalam memberi fatwa), karena jatuhnya seorang ulama adalah jatuhnya seluruh dunia.” Mendengar perkataan ini, tubuh Abu Hanifah gemetar. Setelah mendengar nasihat dari anak kecil tersebut, beliau tidak lagi mengeluarkan fatwa, kecuali setelah melakukan penelitian mendalam bersama murid-muridnya selama satu bulan penuh.


Ketika Umar bin Abdul Aziz dilantik sebagai khalifah, banyak delegasi berdatangan memberikan selamat atas jabatan barunya itu. Juru bicara salah satu delegasi adalah anak muda yang berbicara mewakili delegasinya. Khalifah Umar berkata, “Apakah mereka tidak menemukan seseorang yang lebih tua usianya darimu?” Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kalau memang yang menjadi tolak ukur adalah tuanya usia, tentu yang menduduki jabatanmu sekarang ini adalah orang yang lebih tua darimu. Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau tahu bahwa manusia itu dinilai dari dua bagian terkecil dari tubuhnya: lidah dan hati?” Khalifah Umar berkata, “Berilah aku nasihat, wahai anak kecil.” Dia pun memberinya nasihat sampai sang khalifah menangis.


Nah, itu tadi kutipan menarik yang bisa kita ambil pelajaran bahwa salah satu bentuk tanggung jawab kita dalam mendidik anak dengan baik adalah menunaikan haknya dalam menyampaikan kebenaran dan kita sebagai yang lebih tua tidak ada salahnya mendengar dan menerima kebenaran tersebut. Karena yang namanya hidayah atau kebenaran kita tidak pernah tahu bagaimana jalannya sampai kepada kita atau melalui apa dan siapa perantaranya. Bisa jadi melalui lisan seorang anak kecil. Sebagai orang tua, sebuah pelajaran penting untuk mau mendengar perkataan anak dan selalu menanggapinya dengan baik karena didengar dan direspon itu adalah hak anak yang penting kita berikan kepadanya sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan kebenaran. Semoga Allah menganugerahi kita anak-cucu yang berani menyampaikan kebenaran dan giat berdakwah. Aamiin.



~Wenny Pangestuti~

October 19, 2018

Kesan Pertama tentang Buku Prophetic Parenting


“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[T.Q.S. al-Ahzab (33): 21]

Kalau ditanya buku apa yang sekarang menjadi favorit saya, maka jawabannya adalah buku PROPHETIC Parenting, Cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Mendidik Anak, karya Dr Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Buku ini merupakan buku terjemahan dengan judul asli Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl.

Sebelumnya, saya pernah menuliskan di blog bahwa saat akan memulai membaca suatu buku, saya akan membaca terlebih dahulu kata pengantarnya. Kenapa? Karena melalui kata pengantar biasanya kita akan tahu gambaran umum isi dari buku tersebut dan kita juga bisa mengetahui alur berpikir atau cara penulis menyimpulkan gagasannya atau bisa dikatakan metode penulisan buku tersebut.

Buku ini memuat lima kata pengantar yang ditulis oleh orang-orang yang tidak diragukan lagi keilmuannya, diantaranya

  1. Asy-Syaikh Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadawi (Anggota Pendiri Rabitah Alam al-Islami; mantan Ketua Dewan untuk Pusat Kajian Islam Universitas Oxford)
  2. Dr. Muhammad Fauzi Faidhullah (Ketua Jurusan Fikih dan Ushul Fakultas Syariah dan Pendidikan Pascasarjana Universitas Kuwait; mantan Ketua Jurusan Fikih Universitas Damaskus)
  3. Al-‘Allamah asy-Syaikh Abdurrahman Hasan Habnakah (Dosen Universitas Ummul Qura – Mekah Mukarramah)
  4. Al- ‘Allamah al-Murabbi asy-Syaikh Ahmad Qallasy (salah seorang ulama Halab. Mayoritas ulama Halab pernah berguru kepadanya)
  5. Dr. Mahmud ath-Thahhan (Ketua Jurusan Tafsir dan Hadits Fakultas Syariah Universitas Kuwait)

Penulis buku memberikan copy naskah dari bukunya untuk dimintai tanggapan terkait isi dari buku tersebut. Bagi saya, dengan hanya membaca kelima kata pengantar tersebut, saya sudah jatuh cinta dengan buku tersebut dan merasa tidak menyesal membelinya. Bagi saya, ini buku yang bagus sekali. Bagusnya adalah karena bermanfaat. Penulis menyusunnya tidak dengan cuma-cuma, tetapi melakukan penelaahan yang luar biasa dan berhati-hati. Bagi saya, buku ini ditulis bukan sekadar untuk mengejar terbit atau mencapai best seller, tapi ada nilai-nilai kebaikan yang ingin sampai kepada pembaca.

Buku ini juga dilengkapi dengan bab Metode Penulisan Buku dan bab Makna di Balik Judul, yang kedua bab ini semakin memperjelas maksud dan tujuan penulis, kerangka isi buku, serta karakter isi dari buku tersebut. Lebih dari itu, kedua bab itu membuat saya kian berdebar, antara tak sabar membaca lanjut dan perasaan sangat beruntung dan tidak menyesal telah membeli dan memiliki buku itu dalam daftar koleksi buku saya.

Berikut poin-poin penting yang saya kutipkan dari bab Metode Penulisan Buku:
  • Perlu digarisbawahi bahwa sumber kenabian adalah landasan utama dalam menyimpulkan suatu pemikiran dan menyusunnya. Penulis tidak menuangkan pemikiran terlebih dahulu kemudian baru mencari dalil dari hadis-hadis Nabi; namun justru sebaliknya, dan itulah yang benar.
  • Setiap kali menemukan satu hadis, hati penulis berbunga dengan cahaya yang Allah Subhnahu wa Ta’ala tanamkan di hati ini. Ini semua setelah penulis menghabiskan banyak waktu untuk melakukan studi komprehensif terhadap buku-buku rujukan Barat seputar pendidikan anak. Penulis sama sekali tidak memperoleh pelajaran apa pun selain pendapat-pendapat dan berbagai statement yang berbeda-beda. Masing-masing membawa alasan sendiri-sendiri dan berbagai hasil observasi yang tidak lengkap.
  • Ketika penulis menelaah hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, penulis menemukannya menjadi penengah bagi setiap perbedaan, meletakkan segala perkara di posisinya yang layak, menjelaskan, memberi petunjuk, memerintahkan dan melarang. Itu semua membuat penulis semakin mantap untuk melanjutkan penelaahannya dan menggali hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam yang khusus berkaitan dengan pendidikan anak tanpa ada rasa bosan dan jemu. Penulis juga semakin yakin akan kebenaran konsep yang dia ikuti. Hal inilah yang menjadikannya semakin bersemangat untuk meneruskan studinya tentang kaitan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dengan anak-anak, baik dengan pengarahan secara langsung, pengarahan secara tidak langsung, pengakuan maupun koreksi.
  • Hadis Nabi adalah materi utama dalam buku ini. Kemudian diikuti dengan amalan para shahabat, tabi’in dan ulama salafus-saleh.
  • Buku ini tidak disusun sebagai buku kiat (how to) untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh para orangtua dan guru dengan anak-anak, atau mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak itu sendiri. Buku ini adalah gizi lengkap yang dapat mencegah berbagai penyakit tersebut, sementara permasalahan yang mereka hadapi hanyalah cabang dari penyakit itu. Apabila terjadi suatu permasalahan apa pun itu, artinya telah ada kesalahan dalam memberikan gizi lengakap dari pendidikan kenabian ini. Pendidik hanya perlu untuk mencari gizi yang kurang tersebut dalam buku ini kemudian ‘menghidangkannya’ kepada anak-anak dalam bentuk yang baik. Dengan demikian, permasalahan yang dihadapi dapat teratasi. Misalnya, apabila permasalahan yang dihadapi adalah masalah sosial, maka hanya perlu merujuk pada pembahasan tentang kemasyarakatan, dan demikian seterusnya.

Berikut saya kutipkan mengenai cakupan bab isi dari buku ini, yang dipaparkan dalam Pengantar Dr. Muhammad Fauzi Faidhullah:
  • Penulis membaginya dalam beberapa bab dan menyusunnya sedemikian rupa. Satu bab tentang nasihat-nasihat untuk kedua orangtua, satu bab tentang hak-hak balita yang masih mengonsumsi ASI dan satu bab tentang pembangunan kepribadian anak sejak disapih hingga masuk usia baligh. Penulis juga menyusun satu bab khusus yang berisi  pengarahan kepada anak agar berbakti kepada kedua orangtua. Juga bab lain yang mengkaji tentang metode pendidikan fisik dan psikis yang berpengaruh pada anak.
  • Kemudian penulis menutup bab-bab ini dengan bab yang khusus mengkaji  pemberian hukuman kepada anak. Setelah itu penulis menutup seluruh pembahasan buku ini dengan membawakan dua kali empat puluh buah hadis; empat puluh hadis pertama ditujukan kepada para orangtua, dan empat puluh berikutnya ditujukan kepada para anak.
Pada bab Makna di Balik Judul penulis menguraikan makna kata per kata dari judul aslinya (yang berbahasa Arab). Penulis menjabarkan dari makna secara etimologis dan menyimpulkan makna secara istilah. Berikut saya kutipkan makna di balik judulnya secara istilah. Judul aslinya adalah Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lith Thifl. Manhaj bermakna metode.  At-Tarbiyyah bermakna membentuk kepribadian anak sedikit demi sedikit sampai mencapai tingkatan lengkap dan sempurna. An-Nabawiyyah maksudnya adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, baik perkataan, perbuatan atau pengakuan yang khusus untuk tingkatan anak. Sedangkan lith Thifl maksdunya bayi sampai menginjak usia baligh.

Intinya, saya merasa salut dengan orang yang mampu menulis atau menyusun buku yang sangat bermanfaat dan berkualitas seperti ini. Sebuah buku yang disusun lebih dari sekedar mengejar target terbit atau best seller. Buku yang ditulis tidak dengan asal-asalan, tetapi sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan keilmuan. Sebuah buku yang disusun bukan atas dasar ciptaan imajinasi atau rekaan angan belaka, tetapi berdasarkan dalil dan bukti nyata yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam.

Terbesit dalam keinginan bahwa kelak ada dari generasi saya yang bisa seperti ini. Menulis dan menghasilkan karya ilmu yang bermanfaat bagi umat. Aamiin.
 

~Wenny Pangestuti~

July 02, 2018

[Book_Review] Salihah Mom’s Diary


Menjadi ibu adalah pilihan yang kamu jalani setiap hari demi mendahulukan kebahagiaan dan kebaikan orang lain dibanding dirimu sendiri
-Donna Ball-

Book Information
Judul                : Salihah Mom’s Diary
Penulis             : Dewi Nur Aisyah & MoMMeeID
Penerbit           : Ikon, Jakarta Selatan
Tahun Terbit   : Cetakan 2, Januari 2018
ISBN                 : 978-602-61440-1-0
Genre               : Kumpulan Cerita/ Parenting
Harga               : Rp72.000 (P. Jawa)

Overview
Menjadi ibu berarti kita telah setuju untuk mengambil keputusan mencintai orang lain lebih banyak dibandingkan mencintai diri kita sendiri. Kita belajar untuk berkorban dan mengeja kata ikhlas lebih dalam lagi. Lelahnya kehamilan dan sakitnya melahirkan menjadi konsekuensi yang kita pilih untuk dijalani. Bahkan, risiko nyawa terpisah dari badan ketika melahirkan sanggup kita hadapi. Malam-malam panjang dan waktu tidur rela kita korbankan demi menyusui bayi agar kebutuhannya terpenuhi. Terbangun di malam hari, sedih ketika anak sakit, hingga bangun lebih pagi juga siap untuk dilalui. Tidak hanya sampai di situ, dengan menjadi ibu, kita pun tumbuh lebih dewasa dalam menghargai dan mengatur waktu. Mengiringi pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi sesuatu yang begitu indah di dalam kalbu.

Ada ibu yang terkejut saat anaknya justru menjelma menjadi ‘guru’ untuknya. Ada pula yang takjub menyaksikan doa dan teladan yang ia curahkan untuk sang anak benar-benar terwujud dalam tingkah laku buah hati. Ada ibu yang diuji dengan anak yang lahir dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Ada yang ingin menunda momongan, lalu Allah justru anugerahkan keturunan dengan cepat. Ada juga ibu yang harus berjuang keras melawan baby blues. Dan, ada yang bergulat dengan gigih untuk dapat menempuh pendidikan tinggi sekaligus membesarkan buah hati.

Di lembaran-lembaran buku ini terekam jejak-jejak para ibu yang gigih dan mampu menolak untuk menyerah. Para ibu yang melintasi banyak tantangan, berdamai dengan kondisi ekonomi, anak, dan suami. Lembaran-lembaran yang menjadi sarana untuk berbagi dan saling menguatkan.


My Review
Sebagaimana kata ‘diary’ dalam judulnya, buku ini memuat catatan-catatan para ibu mengenai pengalaman mereka tentang kehamilan, proses melahirkan hingga serba-serbi cerita pasca melahirkan seperti tentang menyusui, mendidik anak, hingga cara mengelola emosi ibu dengan beragam kesibukannya mengurus rumah tangga. Ada 16 ibu yang berkontribusi dalam buku ini, yang kesemuanya tergabung dalam komunitas MoMMeeID.

Apa sih MoMMeeID?
Seperti namanya, MoMMee (Mother and Muslimah Meet Up) merupakan tempat bertemunya ibu maupun muslimah calon ibu untuk bergabung, saling berbagi dan menguatkan dalam menjalani status dan perannya di mana pun. Aktivitas MoMMeeID di dunia maya dapat diakses di web mommee.org dan jejaring social instagram @mommeeid.

Buku ini didesain dengan cukup menarik. Di dalamnya didominasi warna hitam, putih, dan hijau tosca. Di beberapa lembarannya tersaji kutipan-kutipan menarik, baik dari segi isi maupun tampilan layout-nya. Beberapa kalimat yang menekankan poin penting dan mengena dari penulisnya di-bold dengan warna hijau tosca sehingga membaca buku ini terkesan tidak membosankan. Ukurannya yang juga handy menjadikan buku ini layak untuk dibaca para ibu maupun calon ibu. ^_^





~Wenny Pangestuti~

June 09, 2017

Konsep Pendidikan Anak, Harapanku


Sekitar bulan April lalu, saat saya sedang menjaga ujian, sambil menjaga ujian saya corat-coret di atas kertas. Menjaga ujian cukup membosankan juga. Jadi, dengan sambil corat-coret bisa mengusir kejenuhan, bahkan rasa kantuk.

Saat itu yang ada dalam benak saya adalah kualitas generasi sekarang yang banyak mengundang rasa miris dari tingkah laku, cara berpikir hingga pergaulannya. Saya jadi gregetan dan ingin mendobrak keadaan generasi yang kian rusak. Makanya muncul harapan dan komitmen bila kelak saya menjadi orang tua, saya harus benar-benar menjadi orang tua yang berkualitas dalam mendidik anak. Saya tidak ingin nasib anak-anak saya salah arah, salah pikiran, hingga salah pergaulan. Saya ingin anak-anak saya adalah anak yang berbobot ilmu, khususnya ilmu agama. Generasi yang menjadi oase ilmu dan akhlakul karimah di tengah rusaknya tatanan interaksi dalam masyarakat.

Dari benak itulah, tergoreslah uneg-uneg saya dalam beberapa carik kertas yang saya dapatkan di laci meja guru kelas. Dan beginilah uneg-uneg itu:

Corat-coret-ku


Konsep Pendidikan Anak di Masa Depan

  • Menjaga betul interaksi antara laki-laki dan perempuan
  • Kalau memungkinkan memilihkan tempat belajar/ sekolah yang terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan
  • Kenapa?
  • Karena saya menyadari betul bahayanya interaksi antara laki-laki dan perempuan yang kurang terkontrol.
  • Di era sekarang, sekolah bisa menjadi gerbang pertama melencengnya arah yang keliru dalam memahami interaksi antara laki-laki dan perempuan.
  • Menghindari sekolah-sekolah umum -> upaya meminimalisir interaksi laki-laki dan perempuan dari interaksi yang tidak syar’i; meminimalisir tumbuhnya bibit cinta yang kurang tepat.
  • Ini berdasarkan pengalaman masa muda saya. Betapa tidak enaknya kalau sudah terjebak pada konsep cinta yang keliru. Sulit menghilangkannya!
  • Karena itu saya ingin menjaga generasi saya sebaik mungkin.
  • Selain itu, menghindari pengenalan pada musik-musik tentang cinta atau tidak syar’i. agar tidak membuai anak dalam fantasi yang keliru.
  • Menghindari tayangan TV yang tidak mendukung. Bahkan kalau perlu menghindari keberadaan TV di lingkungan rumah. Untuk menjaga pola pikir anak.
  • Mengganti hiburan dengan buku-buku, multimedia yang syar’i dan islami untuk merangsang kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
  • Lebih mengedepankan anak menguasai baca Qur’an dengan tartil, menghafal Qur’an dan hadits serta doa, menguasa bahasa Arab. Itu digunakan sebagai kemampuan yang mendukung spirit dakwah pada diri anak.

Social Media

  • Membatasi mereka ber-social-media hingga mereka cukup matang untuk menggunakannya. Saat menjadi pelajar lebih baik tidak perlu ber-social-media.
  • Ketika baligh (15-21) mereka mungkin boleh memiliki nomor sendiri, social media sendiri dengan anggapan mereka sudah mulai dewasa, memberi keleluasaan dalam mengambil keputusan dalam hidup, mulai mengajarkan kemandirian berpikir. Namun, tetap dalam pengawasan orang tua. Usia sekian menjadikan mereka bukan lagi anak-anak, tetapi sebagai sahabat.

Anak = Investasi Akhirat

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.”
[HR. Muslim]


Bekal untuk Mendidik Anak yang Akan Memasuki Usia Baligh

  • Paham tata cara bersuci dari hadas besar, seperti haid dan mimpi basah
  • Mengajarkan tata cara thaharah lainnya
  • Ilmu fikih seperti tata cara shalat
  • Kewajiban menutup aurat dan berjilbab

Karena ini berkaitan dengan kewajiban fardhiyah yang akan dipikulnya

Dengan semua ini, harapan saya menyiapkan anak dapat tumbuh dan berkembang sekelas generasi sahabat Rasulullah.

Harapan saya di usia memasuki 18-20 mereka sudah memiliki kesiapan dengan tanggung jawab untuk menikah.

Kenapa menikah muda? Karena saya menyadari gejolak syahwat di usia sekian kian membuncah dan godaan dimana-mana.

Daripada anak-anak terkekang bahkan berpotensi salah arah pergaulan, menyiapkan mereka menikah mudah lebih aman. Insya Allah lebih barakah. Intinya menghindarkan anak-anak dari kegalauan seperti kebanyakan generasi masa kini!


“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
5. Hidupmu sebelum datang kematianmu.”
[HR. al-Hakim]


Wenny Pangestuti


Sumber gambar: i1.wp.com

January 31, 2017

Memilih Menantu Idaman ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ~part 1~


Ini adalah catatan yang saya peroleh dari tayangan Khalifah Trans7 pada 22 Mei 2016 silam. Kajian ini seperti biasa menghadirkan sosok Ustadz Budi Ashari sebagai narasumber dan dihadiri ibu-ibu jamaah Majelis Taklim Mar’atus Sholihah Bandung. Kala itu membahas tema yang menjadi dilema bagi banyak orang tua dalam memilih menantu yang ideal bagi anak-anaknya dan sekaligus bagi para pemuda dan pemudi jomblo dalam menjadi calon menantu idaman.

Bagi setiap orang tua tentu tidak mudah mencari menantu. Kadang kriteria tidak memenuhi syarat seperti kadar intelektual, status pekerjaan, latar belakang keluarga, kesamaan suku hingga hal sepele seperti warna kulit. Itulah yang kemudian menjadi kendala bagi pemuda dan pemudi jomblo betapa beratnya menjadi seorang calon menantu.

Di sisi lain, di jaman penuh keterbukaan ini ternyata semakin rapat dosa tertutup. Maka, kesulitan bagi setiap orang tua adalah bagaimana mencari calon menantu yang amanah sesuai dengan anak-anaknya; yang akan merawat mereka; dan terlebih dapat menjadi alasan bagi mereka untuk masuk ke Surga-Nya Allah Azza wa Jalla.

Oleh karenanya, kita kembalikan semuanya pada panduan yang pernah diberikan contohnya oleh orang terbaik, yang keluarganya adalah keluarga terbaik, yang bahagianya di dunia luar biasa, dan berkumpul bersama di Surga Allah Subhanallahu Ta’ala. Bukankah itu semua juga menjadi keinginan kita? Untuk itulah, bergurunya tidak kemana-mana. Bergurunya ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saat ini banyak yang masih bingung terutama dalam konsep mencari menantu. Ada orang tua yang entah apa yang melandasinya mungkin atas nama agar dianggap sebagai orang tua yang bijak sehingga asal anaknya datang kemudian menyampaikan keinginan kepada orang tuanya bahwa umpamanya, “Ayah, ibu, saya mau menikah. Calonnya sudah ada.” Kadang-kadang muncul kalimat orang tua yang sederhana kelihatannya bijak, tetapi tidak bijak. Bahwa orang tua hanya mengatakan, “Yang penting kamu suka. Yang penting kamu cinta. Dia juga cinta sama kamu.” Maka, orang tua tinggal setuju dan ridla saja.

Dalam hal ini, Ustadz Budi Ashari pun mengajak kita kembali menyusuri kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan shahabat mulia Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu, salah satu menantu beliau.

Jarak usia Ali bin Abu Thalib 30 tahun lebih mudah dari Rasulullah. Abu Thalib bin Abdul Muthalib adalah ayahanda dari Ali bin Abu Thalib sekaligus paman yang dulu merawat Nabi sejak kecil. Beliau seorang ayah dengan dengan banyak anak, namun tidak banyak harta. Inilah kebiasaan bangsa Arab yang membantu saudaranya dengan cara merawat anak-anak mereka yang tidak mampu. Pada akhirnya, Nabi Muhammad memilih Ali bin Abu Thalib berada di bawah pengasuhannya. Jadi, sedari kecil Ali bin Abu Thalib hidup dengan kualitas pendidikan yang terbaik, yakni pendidikan nabawiyah, yang langsung di bawah didikan Rasulullah.

Suatu hari ketika Ali bin Abu Thalib pulang ke rumah Rasulullah, ia melihat Rasulullah dan Khadijah melakukan shalat, gerakan-gerakan yang terlihat aneh dan asing bagi Ali bin Abu Thalib. Gerakan yang tidak pernah ia jumpai di masyarakat Mekkah.

Begitu Rasulullah selesai shalat, Ali pun bertanya, “Apa yang engkau lakukan, wahai Muhammad?”

Rasul mengatakan, “Ini shalat namanya.”

Kemudian Nabi menyampaikan tentang islam yang baru saja beliau terima. Rasul menjelaskan tentang shalat dan apa itu islam. Setelah itu Nabi menawarkan, “Ali, apakah kau mau ikuti agama ini?”

Ali menjawab, “Saya harus diskusi dengan ayah saya dahulu.” Yaitu, Abu Thalib.

Nabi tidak menginginkan agama yang baru ini begitu saja menyebar ramai dan geger sebelum waktu yang tepat. Sebab, hanya akan merugikan sesuatu yang baru muncul tersebut. Makanya, Nabi berkata, “Ali, tidak! Kalau harus diskusi dengan ayahmu, tidak. Kalau memang kamu tidak suka atau belum mau menerima agama ini, ya sudah tidak usah. Tapi, kamu tidak perlu bicara dengan ayahmu, Abu Thalib.”

Malam itu, Ali bin Abu Thalib pun berpikir. Apa saya terima? Ia timbang. Ia analisa. Anak 10 tahun mampu menganalisa sesuatu yang paling besar dalam kehidupan manusia. Pagi harinya, ia menemui Nabi dan mengatakan dua kalimat syahadat. Ia mengikuti agama yang ditawarkan Rasulullah. Inilah sosok imam yang akan memimpin keluarganya; penerus darah keturunan Rasulullah; suami seorang putri mulia, Fatimah.

Suatu hari Ali bin Abu Thalib mendapat berita. Orang-orang datang menghampiri Ali bin Abu Thalib, “Ali, itu Fatimah mau dilamar orang. Kamu saja datang. Kamu lebih layak.”

Bahkan, orang lain pun melihat kalau Fatimah, putri Nabi yang luar biasa itu cocoknya hanya dengan Ali. “Sayang kalau orang lain. Kenapa bukan kamu. Kamu yang dididik dari kecil. Kamu orang luar biasa. Kamu berasal dari keluarganya. Fatimah cocoknya sama kamu. Kamu saja yang datang ke Nabi.”

Mendengarnya, Ali bin Abu Thalib pun datang ke Nabi. Nabi pun bertanya, “Ada apa, Ali?”

“Tidak ada apa-apa, ya Rasulullah,” Ali bin Abu Thalib menjawab dengan perasaan malu. Ini menjadi pelajaran bahwa orang tua janganlah hanya memutuskan dari apa yang diucapkan anaknya. Karena terkadang mereka malu.

Ditanya lagi oleh Nabi, “Ali ada perlu apa?”

“Tidak ada, ya Rasulullah.”

Lalu, apa kata Nabi selanjutnya? “Apakah engkau ingin melamar Fatimah?”

Kok tahu? Ali mengatakan, “Iya, ya Rasulullah. Tapi, saya tidak punya mahar untuk menikahi putri engkau, Fatimah.”

Nabi mengatakan, “Kemana baju besi yang aku berikan padamu?” Ternyata Nabi pernah memberi hadiah baju besi, baju perang kepada Ali bin Abu Thalib.

“Ada, ya Rasulullah.”

Nabi berkata, “Aku nikahkan engkau dengan mahar itu.”

Betapa luar biasanya keluarga ini di tengah kesederhanaan hidup yang luar biasa. Ali bin Abu Thalib saat itu berada pada masa-masa miskin. Ali bin Abu Thalib memang dikenal ahli dalam masalah ilmu, tetapi dalam masalah harta, ia miskin. Ini pelajaran mahal bahwa Nabi kita ternyata memilih menantu miskin.

Mau tahu miskinnya seperti apa? Bisa tidak ada makanan. Sampai-sampai untuk mendapatkan beberapa butir kurma, Ali bin Abu Thalib harus membantu mengangkat air untuk mengairi kebun orang lain. Upahnya, beberapa butir kurma. Miskin. Miskin sekali. Itulah yang membuat tangan Fatimah kasar, atau bahasa kita ‘kapalan’. Sebab Fatimah mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tanpa bantuan pembantu.

Itulah sosok salah satu menantu Nabi. Miskin. Namun, bukan berarti miskin termasuk kriteria. Menantu harus miskin. Tidak. Sebagaimana pula tidak masuk kriteria bahwa menantu harus kaya. Inilah yang harus dipahami betul.

Namun, dalam hal ini Ali paham betul bahwa tugas laki-laki adalah menafkahi keluarga. Itu sudah sangat cukup.

Itulah salah satu potret bagaimana Rasulullah mengajari setiap orang tua dalam memilih calon menantu. Kenalilah calon menantu seperti halnya mengenali anak sendiri. Mengenal bukan dalam jangka waktu setahun dua tahun. Namun mengenal sedari kecil. Padahal bisa saja Rasulullah memilih shahabat lain. Namun, Rasulullah justru memilih seorang menantu yang sudah dikenalnya sejak kecil.

Pelajaran mahal yang bisa diambil dari kisah sosok mulia Ali bin Abu Thalib ini adalah bagaimana seharusnya muslim memilih pasangan hidup. Pesan penting ini untuk semua orang tua muslim yang ingin memilihkan jodoh bagi anaknya. Sekaligus pesan penting bagi seluruh pemuda dan pemudi jomblo yang ingin meraih cinta sejati.

Buat para orang tua hendaknya memasang parameter taqwa di atas segalanya. Jauhkan anak-anak dari parameter dunia apalagi hanya sebatas harta. Ketahuilah bahwa seorang pemuda miskin seperti B.J. Habiebie kelak akan menjadi orang super kaya raya karena memiliki sederet ijin paten di bidang penerbangan. Bahkan beliau menjadi presiden Republik Indonesia. Maka orang tua manakah yang tertipu dengan kemiskinan Habibi ketika itu.

Buat pemuda dan pemudi jomblo hendaknya menjadikan Ali bin Abu Thalib sebagai idola, pemuda yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla dan sangat taat kepada Rasulullah. Pantaskanlah diri seperti seorang muslim sejati: shalat diperkuat; zakat dan sedekah diperbanyak; ngaji diperdalam. Bila parameter taqwa sudah digenggaman, maka kisah Ali bin Abu Thalib bisa jadi akan menjadi kisah kita berikutnya.

Nah, demikianlah isi kajian Khalifah Trans7 bersama Ustadz Budi Ushari dan ibu-ibu jamaah Mar’atus Shaliha Bandung. Eits, tapi belum selesai! Masih ada pembahasan selanjutnya, yaitu pengembangan materi dari sesi tanya jawab antara para jamaah dengan Ustadz Budi Ashari. Jadi, nantikan postingan selanjutnya ya! Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi pembaca.

To be continued…


Salam,
Wenny Pangestuti