February 04, 2014

Senja Di Kala Senja



Burung kertas itu berayun-ayun menggantung di bawah seutas benang putih yang terikat di kayu ventilasi atas jendela. Angin sepoi-sepoi merasuk dari luar melalui jendela kamar yang terbuka lebar. Dodo masih menerawang, menatap langit sore yang mulai keemasan. Tangannya bertopang di dagunya. Sesekali menyandarkan diri di punggung kursi sambil memainkan pulpen di tangan kanannya.

“Aku masih tidak mengerti dengan maksud mbak itu,” kata-kata itu mengulang-ulang dalam benak pikirnya. Sudah beberapa kali ia mengamati pola tingkah ‘aneh’ kakak angkatan kuliahnya. Mbak Senja, mahasiswa semester IX. Belakangan ini mbak Senja sering kedapatan pergi ke pinggiran sungai yang tidak jauh dari tempat kos Dodo.

Saat itu tak sengaja Dodo keluar pagar kosnya, ia mendapati siluet seorang wanita bergamis dan berkerudung membelok ke arah turunan menuju sungai. Belokan itu berjarak beberapa rumah dari tempat kos Dodo. Tadinya Dodo tak ingin merespon, tapi rasa penasarannya terlalu kuat untuk mengusiknya, mengikuti wanita itu.

Sesampainya di turunan paling bawah, ia sudah mendapati wanita itu berjongkok di atas sebuah batu besar. Terlihat tangannya seolah telah menghanyutkan sesuatu. Ternyata tak jauh dari tempat ia berjongkok, sebuah perahu kertas berlayar mengikuti aliran sungai.

Dodo mengamati beberapa detik kemudian ia menoleh kembali ke wanita itu yang masih berjongkok memunggunginya, melihat perahu kertasnya berlayar semakin menjauh.

“Mbak! Ngapain?” Senja yang tidak menyadari diikuti oleh Dodo sedari tadi sedikit terkejut mendengar sapaan itu. Ia menoleh.

“Hah, Dek, saya kira siapa?” Senja memegang dadanya yang terasa degupan jantungnya berdetak kencang karena terkejut tadi.

Dodo malah tersenyum lebar, melihat keterkejutan Senja. “Ceritanya niru Perahu Kertas nih!” Ia berjalan perlahan menghampiri Senja. Senja menjadi tidak enak dengan keadaan itu.

“He...ingin melepas kegundahan saja!” ia bergegas berjalan kembali menuju tangga yang tadi ia turuni, menjauhi Dodo. “Lagian sampeyan ngapain ke sini. Kalau kelihatan orang nanti salah paham. Saya gak mau terlihat berdua-duaan. Permisi!

Saat Senja menginjakkan kaki di tanjankan kedua, Dodo berseru, “Mbak!” Senja berhenti dan menoleh.

“Terus terang saya tertarik.” 

Senja mengernyitkan kening tak mengerti. “Tertarik apa?”

“Tertarik dengan apa yang pean lakukan.” Senja menghela napas dan bergegas membalikkan badan lalu pergi meninggalkan Dodo sendirian.

Dodo menatap siluet Senja dari belakang hingga hilang dari pandangan di ujung belokan menuju jalan. Lalu ia membalikkan badan, melihat ke arah sungai, perahu kertas tadi telah tak nampak .


~Wenny Pangestuti~

No comments :