February 02, 2016

Cause Life is Never Flat


Kalau mau hidup tanpa masalah, rasanya itu tidak mungkin. Kalau hidup mau enak-enak saja tanpa beban, tanpa kesulitan, tanpa pengorbanan, ya itu juga tidak mungkin. Kalau memang mau hidup yang demikian, ujung-ujungnya hidup menjadi biasa-biasa saja, tak berarti, tak bermakna, alias hanya ‘nyumpek-nyumpeki’ isi Bumi.

Dimana-mana kalau mau mencapai sukses atau meraih yang kita inginkan, harus melalu jalan yang berliku; ada hal yang harus kita perjuangkan, kita korbankan; dan harus ada stress yang dirasakan, hingga jatuh bangun dalam usaha meraihnya. Gak bisa jalannya mulus-mulus saja. Pasti ada masa kita merasa gelisah dan letih, seolah-olah kapan perjalanan ini, perjuangan ini, pengorbanan ini akan berakhir. Mau berhenti atau mencari jalan lain, rasanya sama saja. Semua alternatif jalan atau cara akan memberikan tawaran tantangan, kesulitan, dan keletihannya masing-masing.

Pernah ada saat saya merasa berat menghadapi masa, seperti masa kuliah ketika saya akhirnya menempuh mata kuliah KKPPL (Kuliah Kerja Praktek Pengalaman Langsung), yaitu melakukan praktek mengajar langsung di sekolah sesuai penempatan dari kampus. Terus terang saya sering betanya-tanya apa saya salah jurusan ya memilih ilmu pendidikan. Sebab, saya sebenarnya tipe introvert. Bagi saya tak mudah untuk berinteraksi dengan banyak orang. Bagi saya, butuh kekuatan besar dalam diri saya untuk sekedar membagun interaksi dengan orang lain. Yang mungkin bagi sebagian besar orang itu mudah-mudah saja, tapi bagi saya hal itu luar biasa tantangan. Makanya, saya was-was melalui masa KKPPL karena saya akan tampil di hadapan banyak anak di kelas. Apalagi saya ditempatkan di smp, yang usia anak-anaknya adalah ABG. Tentu mereka bukan tipe anak yang ‘manut-manut’ aja, tapi sudah mulai kritis.

Namun ketakutan tersebut, keengganan tersebut mau gak mau harus dilalui, harus dihadapi. Saya berusaha mengerahkan energi, melawan kekhawatiran saya semampu yang saya bisa. Hasilnya, sambil berjalannya waktu saya menjalani KKPPL, tidak terasa bahwa sebenarnya saya mampu melalui kekhawatiran saya. Bahkan saya menemukan banyak nilai dari pengalaman baru saya itu, seperti nilai pelajaran dari perkenalan saya dengan guru pamong yang inspiratif dan unik; nilai cinta dan kasih sayang dengan para siswa kelas 8F, kelas saya mengajar; nilai pengalaman hidup yang berharga. Terus terang selama menjalani masa KKPPL, saya sering bergumam, “Kapan masa sulit akan berakhir. Aku sungguh payah!” Namun, aku pun membatin, “Sabar, sabar, sabar semua ini akan selesai. Setelah kesulitan, ada kemudahan.” Dan, ternyata benar. Tanpa terasa, KKPPL pun berakhir. Benar-benar tidak terasa dan tidak menyangka bahwa sebenarnya waktu 3 bulan itu sebentar. Hanya butuh waktu 3 bulan untuk melawan kekhawatiran ini. Bahkan, hasilnya menimbulkan kesan kelegaan, syukur, bangga, dan bahagia bahwa aku bisa melalui hal tersebut. Tentu Anda bisa merasakan, kan, kelegaan yang luar biasa dalam diri Anda saat berhasil menghadapi masa sulit yang Anda takutkan dengan keberanian yang dikerahkan dan mau gak mau dipaksakan? Rasanya, tuh, plong-nya di sini!

Percayalah, setiap kita akan melalui berlapis-lapis kesulitan, kekhawatiran, ketakutan, kepayahan. Setelah tantangan satu berlalu, nantinya akan datang lagi tantangan baru. Begitulah hidup. Adakalanya memberi jeda kita dengan takut dan payah, adakalanya memberi jeda kelegaan dan kebahagiaan. Yang kalo kita renungkan bahwah hal ini memberi nilai tambah pada kualitas pribadi kita.

Begitulah cara saya selalu me-refresh pikiran saya, menghibur diri saya di kala saya melalui masa-masa sulit, masa-masa penuh kekhawatiran, masa-masa penuh kepayahan, seperti masa saya menyelesaikan skrispi dengan status mahasiswa kadaluarsa (karena gak lulus tepat waktu); seperti sekarang saya melalui masa diserang pertanyaan memojokkan, “Kapan nikah?”,””Kalo gak pacaran, gimana ketemu jodoh?”,”Cepat nikah, keburu tua, gak laku2.”; dan seperti masa sekarang saya mengalami kepayahan menjadi seorang guru: menyiapkan bahan ajar di kelas, membuat perangkat pembelajaran, menghadapi anak-anak yang seringkali sulit dikendalikan, mengikuti program-program sekolah, dll. Setiap kali saya merasa tertekan, saya ingat-ingat kembali bahwa saya sudah pernah melalui masa payah dan sulit. Saya yakin kelak ada masa saya merasakan kelegaan, buah usahan saya mengahadapi masa sulit tersebut. I believe it!



~Wenny Pangestuti~

January 23, 2016

Dari Bermain Rumah-rumahan Hingga Dunia Arsitektur


Aku bersyukur terlahir sebagai generasi 90an. Karena di era 90an, kami sebagai anak-anak masih belum terlalu terkontaminasi oleh gadget. Kami masih suka bermain di luar rumah, baik di kala siang hari selepas pulang sekolah, sore hari, maupun malam hari. Tak jarang teriakan para orang tua mewarnai keceriaan kami di saat asyik bermain, seperti “Ayo, pulang tidur siang!”, Ayo, pulang, mandi dulu!”, “Ayo pulang, ngaji!” atau, “Jangan berisik sudah malam, ayo leren (berhenti)!” Permainan yang kami mainkan pun bemacam-macam, mulai yang dilakukan secara bersama-sama, seperti gobak sodor, petak umpet, lompat tali, kempyeng, bekel, kartu remi, engklek dan lain-lain hingga yang dilakukan sendiri, seperti bongkar pasang.

Karena aku perempuan, permainan yang cukup berkesan adalah permainan rumah-rumahan dari tanah. Kita membuat semacam denah rumah dengan membentuk tanah sedemikian rupa. Ada ruang tamunya, ruang keluarga, ruang makan, kamar mandi, ruang tidur, hingga dapur. Kita membentuk gundukan kecil tanah yang memanjang sebagai dindingnya, lalu gundukan tanah lain sebagai kursi, meja, kasur, toilet, dan lain-lain. Permainan ini kadang kumainkan secara sendiri, kadang juga bersama teman-teman.  Setelah rumah jadi, kami bermain peran-peranan sebagai pemilik rumah. Biasanya kami menggunakan lidi sebagai orangnya atau orang-orangan dari permainan bongkar pasang yang terbuat dari kertas. Begitulah cara kami memainkannya hingga bosan.

Kalau dipikir-pikir, permainan tersebut unik dan kreatif juga ya. Ada kaitannya dengan ilmu merancang denah bangunan. Tanpa sadar, ketika anak-anak memainkannya, ia mengembangkan imajinasinya tentang dunia arsitektur. Jika para orang tua peka dan senantiasa memantau apa yang sering dimainkan anak-anaknya, mereka bisa menggali minat dan bakat anak lalu mengarahkannya sehingga anak-anak dapat terbimbing apa yang menjadi keinginan dan cita-citanya.

Aku gak tahu apakah permainan rumah-rumahan dari tanah ini masih dimainkan anak-anak zaman sekarang atau tidak. Yang kutahu, anak-anak di sekitar rumahku belum ada yang pernah memainkannya. Tapi, aku cukup senang karena anak-anak di sekitar rumahku masih banyak yang suka bermain di luar rumah sambil tertawa ceria dan berteriak nyaring, seperti bermain petak umpet, masak-masakan, bulu tangkis, bola, jalan-jalan di desa, lompat tali, bersepeda, dan lain-lain. Walaupun tak dipungkiri beberapa dari mereka ada yang berkeinginan mempunyai iPad supaya bisa bermain games, atau sudah mulai ketagihan playstation, hingga pergi ke warnet untuk main games atau nonton video-video.


Bermain memang terkesan hanya bersenang-senang, tapi dengan bermain sebenarnya anak-anak juga dapat sambil belajar. Belajar yang tidak hanya dibatasi oleh tembok dan papan tulis, tapi belajar yang dapat mengekslopari gerak , imajinasi , dan rasa mereka. Sebagai orang dewasa, alangkah bijak bila kita tak mengabaikan begitu saja anak bermain, tapi dapat membimbing dan memantau apa yang dimainkan anak. Yang di sanalah kita dapat mengali hingga mengarahkan apa yang menjadi potensi, minat dan cita-cita masa depannya. Mari bermain dan belajar!


"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa" 

http://www.lidyafitrian.com/2016/01/giveaway-permaianan-masa-kecil.html



~Wenny Pangestuti~

December 08, 2015

Surat untuk Presiden dari Adib


Banyuwangi, 8 November 2015

Yth :    Bapak Joko Widodo
di Tempat


Salam sejahtera untuk Pak Jokowi
Kedatangan surat saya ini mengundang Pak Jokowi untuk berkunjung ke Banyuwangi. Di sini udaranya sangat sejuk dan aliran sungainya jernih. Pak Jokowi pasti senang di sini.
Pak Jokowi patut berbangga menjadi presiden karena Pak Jokowi dipilih oleh rakyat. Bagaimana dengan keadaan di sana, Pak? Apa masih banyak penumpukan sampah di sekitar bantaran Sungai Ciliwung? Di sini masih banyak sampah yang menumpuk dan masih terkena banjir yang meluap hingga 2 m. Semoga Pak Jokowi sabar menghadapi urusan ini. Pak Jokowi semangat terus dan pantang menyerah.
Dengan ini sekian surat saya. Terima kasih atas perhatian Pak Jokowi. Wabillahi taufik wal hidayah.
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh


Salamku Pak Presiden,


Moh. Adib Maulana