October 08, 2016

Pohon Impian VII C


Setiap orang pasti memiliki impian. Ada yang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan impian mereka. Walau hambatan dan rintangan menghadang, mereka tidak mempedulikan itu semua demi  meraih impian tersebut.

Namun, adapula yang justru kemudian menyerah kalah. Mereka  mengubur dan menutup rapat  impian  disaat terbentur kondisi dan situasi yang tidak berpihak.  Mereka kalah dan menyerah untuk  menerima nasib yang mempermainkan.

Impian memang perlu konsisten untuk diwujudkan. Sebesar apapun hambatan dan rintangan menghadang, wajib kita lawan sekuat daya dan upaya untuk mewujudkannya. Salah satu inisiatif saya untuk memendarkan impian siswa-siswi VII C agar mereka selalu termotivasi  mewujudkannya adalah membuat pohon impian di kelas.

Gambar di atas adalah pohon impian kelas VII C, yang saya buat sebagai program kerja saya sebagai wali kelas VII C. Pohon impian di sini dilakukan dengan cara anak-anak diminta untuk menuliskan impiannya pada sebuah kertas yang berbentuk buah –kita sebut’buah impian’. 

Siswa menulis bermacam-macam impian mereka masing-masing dan berikut impian mereka tersebut: 

  1. Abdul Khotib: “cita-cita menjadi guru”
  2. Agus Candra Wijaya: “cita-cita saya ingin menjadi orang yg pintar, membanggakan kedua orang tua yg sudah merawat saya dari kecil sampai sebesar ini. Jadi cita-cita saya adalah menjadi orang yg sukses/ pengusaha yg sukses”
  3. Ahmad Fais Fairushayun: “memperbaiki elektronik”
  4. Aisyah Yuli Anggraeni: “guru”
  5. Ana Bela: “menjadi guru”
  6. Badiun Ni’am: “polisi”
  7. Bahrur Rochim: “menjadi bingkil motor yang sukses”
  8. Cindi Cantika Triana: “impianku tidak banyak hanya ingin masuk surga dan ingin membanggakan kedua orang tua, ingin memberangkatkan orang tua haji dan ingin menjadi lebih baik lagi”
  9. Dimas Dani Al-Fairus: “cita-cita saya menjadi orang yang sukses”
  10. Fatiq Thoyyib Ardani: “cita-cita menjadi guru”
  11. Ikfina Ilma Salwa: “guru”
  12. Imroatul Hasanah: “guru, semoga tercapai cita-citaku”
  13. Intan Utami: “menjadi doktor/dokter, aku ingin menjadi orang yang sukses dan aku ingin menjadi orang yang dihormati aamiin, semoga aku menjadi orang yang lebih baik dari hari ini aamiin”
  14. Jefri Wahyudi: “masuk surga”
  15. Jisavira Dela Ananta: “saya ingin menjadi dokter”
  16. Khoirul Umam: “pengusaha yang sukses”
  17. Lilis Suryani: “guru”
  18. Mashuri: “cita-cita menjadi ustad/ kyai”
  19. Miftahul Rizki: “sepak bola”
  20. Mohammad Rizki: “pengusaha yang sukses”
  21. Muhammad Nur Afandi: “ingin menjadi polisi”
  22. Nadila Rahmawati: “guru”
  23. Nuorma Issrinasyifa: “polwan”
  24. Nur Fahmi: “astronot”
  25. Nurul Sholeha: “pramugari”
  26. Rani Arlinda: “guru”
  27. Rindi Antika: “guru”
  28. Rivaldo Dwi Saputra: “ingin bertemu Nabi Muhammad”
  29. Serli Zahrotus Sakinah: “cita-cita saya ingin menjadi guru”
  30. Shinta Dhuhrotul Himayah: “guru”
  31. Sintia Imroa Sholihah: “saya ingin jadi guru”
  32. Siti Al Mukarromah: “guru”
  33. Tasiyati: “guru vokal”
  34. Taufiqurrohman: “menjadi guru”
  35. Vera Indah Kusumasari: “dokter”
  36. Wahyudi Firmansyah: “cita-cita ingin menjadi hakim”
  37. Arlin Sukma Padisia: “pramugari”
  38. Inan Nabila: “guru/dokter”
  39. Firda Fitrianingsih: “polwan, membanggakan orang tua dan ingin menaikkan haji orang tua ke tanah suci”
 
Kegiatan siswa-siswi VII C menggantung buah impian mereka pada pohon impian

Setelah anak selesai menuliskan impiannya, saya telah menyiapkan ilustrasi pohon yang saya gambar di kertas manila putih dan saya warnai dengan cat air untuk digunakan sebagai tempat menggantungkan impian para siswa. Pohon tersebut kemudian ditempel di dinding kelas, dengan harapan setiap ada orang yang membaca impian-impian siswa tersebut, mereka mengamininya dan mendoakan kepada Allah agar impian para siswa dikabulkan.

Hasbunallah wani’mal wakil
(Cukuplah Allah yang memenuhi harapan dan sebaik-baik pertolongan)

Impian manusia adalah sebuah doa kepada Allah. Impian adalah suatu keharusan bagi insan yang mengiginkan kehidupan yang lebih baik. Mimpi bukanlah sekedar angan-angan tanpa aksi, tapi harus kita lakukan. Menjadikan impian kita sebagai motivasi, dan membuat kita untuk bergerak menyusun langkah-langkah untuk mewujudkan impian yang telah direncanakan.

“Mimpi terus sampai Tuhan memelu mimpi kita” 
[Coboy Junior - Pelangi dan Mimpi song]



Selasa, 04-10-2016
Wenny Pangestuti

August 23, 2016

Setia Membersamai


Ada beberapa profil pasangan suami istri (pasutri) yang kutemui di kehidupan nyata yang sudah cukup lama membina rumah tangga. Namun, ada satu hal yang kurang. Mereka belum dikaruniai buah hati. Padahal sebenarnya mereka juga tidak menunda-nunda program punya anak. Mereka juga berharap diberi buah hati.

Awalnya, melihat fakta ini aku kasihan. Kelihatannya sepele. Tetapi ketika aku mencoba berempati, menempatkan diri bila ada dalam posisi demikian, sungguh hal itu tak bisa dianggap mudah. Tak bisa dipungkiri rasa gelisah ada mungkin, walaupun bentuk perwujudan setiap orang berbeda. Ada yang menyikapi dengan sikap yang kelihatan kecewa. Ada yang tetap bersikap tenang.

Salutnya aku adalah ketika melihat pasutri yang tetap harmonis dan setia membersamai menghadapi ujian tersebut. Mereka tetap memilih tetap bersatu, tetap bersama, dan saling setia ketika pernikahan mereka dihadapkan pada masalah belum dikaruniai buah hati. Mereka tetap memilih bersabar menghadapi komentar-komentar miring dari masyarakat kok belum hamil-hamil, kok belum punya anak, apa mandul, kasihan ya.

Ada kisah nyata, seorang dosen –perempuan- kenalan kakak tingkat kuliah saya, yang pernah telah bertahun-tahun menikah belum dikaruniai anak. Namun, akhirnya usaha dan penantian lama itu berbuah hasil, beliau dan suaminya dikaruniai anak laki-laki. Saat saya diajak bersila-ukhuwah ke rumahnya, kelihatannya ibu tersebut sudah tidaklah muda. Anaknya masuk usia balita. Aku salut dengan kesetiaan masing-masing keduanya, ya ibunya, ya suaminya. Saya lihat suaminya masih kelihatan gagah. Bisa saja lho beliau –suami- kalo mau nikah lagi demi mendapatkan buah hati. Tetapi, beliau memilih tetap setia, tetap saling membersamai, mendukung, dan menguatkan dalam menghadapi ujian tersebut bersama. Hingga akhirnya, kesabaran mereka berbuah hasil dengan hadirnya putra laki-laki yang tampan.

Ada juga, pasutri yang masih saudara dekat dengan saya. Mereka sudah menikah saat saya mungkin usia sekolah dasar. Namun, hingga sekarang belum dikaruniai buah hati. Alhamdulillah sampai sekarang pernikahan mereka masih tetap utuh. Mereka tetap memilih bersama, walaupun pernah saya dengar kondisi keluarga mereka dilanda masalah lain, lebih tepatnya istrinya. Alhamdulillah, suaminya tetap memilih setia membersamai dan mendampingi istrinya menyelesaikan masalah yang dihadapi. Padahal sang suami masih kelihatan ganteng dan gagah, bisa saja lho dia kalo mau cari wanita lain demi memperoleh keturunan. Tetapi ia memilih tetap setia.

Sungguh, pasutri yang dihadapkan ujian belum diberi buah hati ketika pernikahan mereka telah berusia lama, bahkan mereka sudah berusaha banyak hal untuk meraihnya, tetapi belum membuahkan hasil dan mereka tetap memilih setia membersamai, saya sungguh salut. Karena ujian seperti itu bukan hal yang mudah dan setiap orang bisa melaluinya dengan sabar dan tetap positive thinking. Apalagi bila ujian tersebut ditambahi dengan komentar-komentar kurang mengenakan dari mulut orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik yang maksudnya tidak menyinggung hingga yang beneran menyindir. Sungguh, saya bisa merasakan bahwa hal semacam itu bukanlah hal yang mudah dilalui oleh setiap orang meskipun saya sekarang ini masih single. Bisa ngerasain.

Tapi, saya mengingat-ngingat kembali teladan yang pernah ada dalam sejarah Islam mengenai masalah ini. Bukankah masalah seperti ini juga pernah menerpa sosok Nabi Ibrahim alaihissalam? Bukankah juga masalah ini pernah dihadapi oleh Nabi Zakariyyaa alaihissalam? Benar begitu? Dan, apa yang terjadi? Nabi Ibrahim dan ibu Sarah tetap saling setia membersamai dalam kesabaran dan positive thinking terhadap Allah. Usia kian menua. Secara logika sepertinya sudah tidak mungkin lagi punya anak. Tapi, Maha Besar Allah, ketika Allah telah bekehendak kun faya kun, segalanya bisa terjadi walaupun logika manusia sulit menalarnya. Nabi Ibrahim dan ibu Sarah akhirnya dikarunia anak walaupun usia mereka sudah tua.


69. Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat." Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

70. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth."

71. Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub.

72. Isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."

73. Para malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

(Terjemahan Qur’an Surah Huud [11]:69-73)
 

Begitu pula halnya kisah yang dihadapi Nabi Zakariyyaa. Sama.


2. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariyyaa,

3. yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

4. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

5. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera,

6. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai."

7. Hai Zakariyyaa, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

8. Zakariyyaa berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua."

9. Tuhan berfirman: "Demikianlah." Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali."

(Terjemahan Qur’an Surah Maryam [19]: 2-9)


Jadi, sebesar apapun ujian yang menerpa, jika manusia tetap memilih berusaha menghadapi masalah dengan sabar dan positive thinking kepada Allah, insyaAllah segalanya dapat dilalui dengan mudah, ringan, tanpa beban. Pertolongan Allah selalu ada bagi hamba-hamba-Nya. 

Terakhir dari tulisan saya, semoga kita dikarunia pasangan (suami/istri) yang berjiwa besar, setia membersamai dalam kesabaran dan ketaqwaan. Dan semoga kita bisa menjadi sosok yang juga berjiwa besar, setia membersamai dalam kesabaran dan ketaqwaan bagi pasangan kita masing-masing. Aamiin.


~Wenny Pangestuti~


Sumber Foto : google.com

August 21, 2016

Mau? Bisa!


Alhamdulillah. Bila ada kemauan, insyaAllah mampu. Ketakutan dan keluhan tanpa berusaha hanya akan menciptakan kelemahan berjuang, memandang masalah sebagai beban, bukan tantangan yang harus diselesaikan.

Hari ini aku mencoba membuktikannya pada diriku sendiri. Sebelumnya, aku merasa beban saja diminta mengajar di madrasah aliyah. Pasalnya, aku udah terbiasa mengajar di madrasah tsanawiyah yang siswa-siswinya masih cenderung unyu-unyu dan menggemaskan. Sedangkan madrasah aliyah yang setingkat dengan sma, aku akan menghadapi anak-anak yang lebih dewasa, sudah tidak bisa disebut anak-anak lagi. Mampukah aku, batinku bertanya.

Hari-hari setiap masuk kantor aliyah sering ku-isi dengan keluhan-keluhan kepada pak Fadli selaku wakil kepala bagian kurikulum. Kenapa saya diberi tugas ini. Saya gak siap. Saya harus ngomong apa. Begitulah kata-kata yang sering keluar dari lisan saya.

Dipikir-pikir kok kayaknya gak baik ya saya bersikap seperti itu. Gak baik buat pak Fadli yang masa' harus sering menerima keluhan-keluhan saya yang tak pernah usai. Melihat beliau juga banyak urusan, banyak hal yang harus dipikrirkan dan ditangani. Setidaknya kalo mau mengeluh, mbok ya dengan mencari atau menawarkan solusi. Selain itu, gak baik buat saya juga. Apa untungnya berkeluh terus tanpa solusi. Yang ada, masalah gak tersolusi, malah semakin membebani. Mengajar pun menjadi tidak bergairah. Padahal anak-anak menanti, merindukan sosok-sosok guru yang inspiratif. Kalo guru-nya loyo tak kreatif, apa jadinya nasib pendidikan negeri ini. Betul gak?

Mau gak mau, bisa gak bisa, saya harus mencoba melakukan yang terbaik yang saya bisa, seperti kutipan khusus saya :

"I just wanna do the best I can for this life."

~Wenny Pangestuti~




Saya coba mempelajari materinya, merangkum, mengangankan apa dan bagaimana cara saya menyampaikan. Sip. Bismillah. InsyaAllah saya bisa.

Pada hari-H, alhamdulillah ketakutan yang pernah saya rasakan terpental begitu saya. Saya bisa. Semua terasa lancar, mudah, bahkan tak terasa sudah terlalui begitu saja. Tuh kan ternyata saya bisa. Allah tak membebani hambanya di luar batas kemampuannya. Benar. Persepsi kita lah yang sering menilai kita tak bisa, lemah. Namun, sebenarnya bila ada kemauan, niat, insyaAllah mampu.

Coba saja!


Saturday, August 20, 2016
6:11 PM


~Wenny Pangestuti~


Sumber Foto : wix.com

August 20, 2016

Jangan Sampai


Segala puji bagi Allah. Dengan adanya smartphone setidaknya komunikasi dan sila-ukhuwah dengan teman-teman bisa lebih lancar dan baik. Senang saja bisa bertemu dengan orang-orang yang cukup lama tak kutemui. Ada kerinduan di sana.

Hanya saja, aku harus berhati-hati. Agar keberadaan smartphone tak melalaikan dari banyak hal yang lebih urgen, salah satunya mengingat Allah. Jangan sampai gara-gara smartphone mengabaikan ibadah kepada Allah. Na’udzubillahi min dzalik!

Aku takut apa yang manusia pandang baik ternyata tidak baik di hadapan Allah. Aku takut kalau aku terlena pada sesuatu yang aku anggap baik, tetapi tidak baik di hadapan Allah. Jangan sampai kita mati dalam kesia-sia-an atau banyak mengantongi amal yang sia-sia. Na’udzubillahi min dzalik!

Ingat mati. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kita tidak tahu kapan kita mati, kapan ajal menjemput. Bisa jadi kan sebentar lagi. Dan kita tidak tahu. Bagaimana bila tahu-tahu kita udah mati dan ternyata itu saat melakukan amal yang sia-sia. Na’udzubillahi min dzalik!

Hidup ini adalah amanah. Bagaimana kita menjaga dan menjalankannya sebaik-baiknya. Jangan sampai sesal yang begitu sesal datang menghampiri ketika kita sudah tak mampu lagi untuk merubah atau mengusahakannya.

Semoga kita dikaruniai usia yang berkah.

Semoga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.


~Wenny Pangestuti~


Sumber Foto : Google