April 10, 2017

Kontemplasi Sunyi-Sendiri


Perjalanan kali ini terasa lebih baik, nyaman, dan menenangkan dibanding sebelum-sebelumnya. Kereta sore kala itu terasa lengang, sepi penumpang. Bahkan biasanya ada satu atau dua orang duduk di sampingnya, kali ini tak seorang pun.  Benar-benar seperti perjalanan privasi bagi Rara.

Ia menikmati pemandangan senja dari balik jendela sambil menyandarkan bahu dan kepalanya di dinding kaca jendela tersebut. Ia hanyut dalam kontemplasi pikirannya. Segala macam pemikiran dan kenangan bercampur aduk dalam benaknya. Tak tahu mana yang benar-benar difokuskan. Bertebaran.

Baginya, cukuplah kesempatan membiarkan ia sendiri tanpa diusik. Beristirahat sejenak dari hingar bingar kehidupan, gelak tawa orang-orang, cecaran kata tanya dari teman, apapun itu. Stop! Ia ingin dibiarkan sendiri, mengistirahatkan jiwa dan pikirannya. Anggaplah ia ingin men-charge energi dalam dirinya.

Hari ini untuk sepersekian jam biarlah waktu menjadi miliknya, bersama kesendirian. Tanpa usikan. Menghayati kontemplasi sunyi yang harmoni. Biarkan ia sendiri.

Sendiri.


~Wenny Pangestuti~

NB:
Kon-tem-pla-si (n): renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh

Ber-kon-tem-pla-si (v) : merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian

January 31, 2017

Memilih Menantu Idaman ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ~part 1~


Ini adalah catatan yang saya peroleh dari tayangan Khalifah Trans7 pada 22 Mei 2016 silam. Kajian ini seperti biasa menghadirkan sosok Ustadz Budi Ashari sebagai narasumber dan dihadiri ibu-ibu jamaah Majelis Taklim Mar’atus Sholihah Bandung. Kala itu membahas tema yang menjadi dilema bagi banyak orang tua dalam memilih menantu yang ideal bagi anak-anaknya dan sekaligus bagi para pemuda dan pemudi jomblo dalam menjadi calon menantu idaman.

Bagi setiap orang tua tentu tidak mudah mencari menantu. Kadang kriteria tidak memenuhi syarat seperti kadar intelektual, status pekerjaan, latar belakang keluarga, kesamaan suku hingga hal sepele seperti warna kulit. Itulah yang kemudian menjadi kendala bagi pemuda dan pemudi jomblo betapa beratnya menjadi seorang calon menantu.

Di sisi lain, di jaman penuh keterbukaan ini ternyata semakin rapat dosa tertutup. Maka, kesulitan bagi setiap orang tua adalah bagaimana mencari calon menantu yang amanah sesuai dengan anak-anaknya; yang akan merawat mereka; dan terlebih dapat menjadi alasan bagi mereka untuk masuk ke Surga-Nya Allah Azza wa Jalla.

Oleh karenanya, kita kembalikan semuanya pada panduan yang pernah diberikan contohnya oleh orang terbaik, yang keluarganya adalah keluarga terbaik, yang bahagianya di dunia luar biasa, dan berkumpul bersama di Surga Allah Subhanallahu Ta’ala. Bukankah itu semua juga menjadi keinginan kita? Untuk itulah, bergurunya tidak kemana-mana. Bergurunya ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saat ini banyak yang masih bingung terutama dalam konsep mencari menantu. Ada orang tua yang entah apa yang melandasinya mungkin atas nama agar dianggap sebagai orang tua yang bijak sehingga asal anaknya datang kemudian menyampaikan keinginan kepada orang tuanya bahwa umpamanya, “Ayah, ibu, saya mau menikah. Calonnya sudah ada.” Kadang-kadang muncul kalimat orang tua yang sederhana kelihatannya bijak, tetapi tidak bijak. Bahwa orang tua hanya mengatakan, “Yang penting kamu suka. Yang penting kamu cinta. Dia juga cinta sama kamu.” Maka, orang tua tinggal setuju dan ridla saja.

Dalam hal ini, Ustadz Budi Ashari pun mengajak kita kembali menyusuri kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan shahabat mulia Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu, salah satu menantu beliau.

Jarak usia Ali bin Abu Thalib 30 tahun lebih mudah dari Rasulullah. Abu Thalib bin Abdul Muthalib adalah ayahanda dari Ali bin Abu Thalib sekaligus paman yang dulu merawat Nabi sejak kecil. Beliau seorang ayah dengan dengan banyak anak, namun tidak banyak harta. Inilah kebiasaan bangsa Arab yang membantu saudaranya dengan cara merawat anak-anak mereka yang tidak mampu. Pada akhirnya, Nabi Muhammad memilih Ali bin Abu Thalib berada di bawah pengasuhannya. Jadi, sedari kecil Ali bin Abu Thalib hidup dengan kualitas pendidikan yang terbaik, yakni pendidikan nabawiyah, yang langsung di bawah didikan Rasulullah.

Suatu hari ketika Ali bin Abu Thalib pulang ke rumah Rasulullah, ia melihat Rasulullah dan Khadijah melakukan shalat, gerakan-gerakan yang terlihat aneh dan asing bagi Ali bin Abu Thalib. Gerakan yang tidak pernah ia jumpai di masyarakat Mekkah.

Begitu Rasulullah selesai shalat, Ali pun bertanya, “Apa yang engkau lakukan, wahai Muhammad?”

Rasul mengatakan, “Ini shalat namanya.”

Kemudian Nabi menyampaikan tentang islam yang baru saja beliau terima. Rasul menjelaskan tentang shalat dan apa itu islam. Setelah itu Nabi menawarkan, “Ali, apakah kau mau ikuti agama ini?”

Ali menjawab, “Saya harus diskusi dengan ayah saya dahulu.” Yaitu, Abu Thalib.

Nabi tidak menginginkan agama yang baru ini begitu saja menyebar ramai dan geger sebelum waktu yang tepat. Sebab, hanya akan merugikan sesuatu yang baru muncul tersebut. Makanya, Nabi berkata, “Ali, tidak! Kalau harus diskusi dengan ayahmu, tidak. Kalau memang kamu tidak suka atau belum mau menerima agama ini, ya sudah tidak usah. Tapi, kamu tidak perlu bicara dengan ayahmu, Abu Thalib.”

Malam itu, Ali bin Abu Thalib pun berpikir. Apa saya terima? Ia timbang. Ia analisa. Anak 10 tahun mampu menganalisa sesuatu yang paling besar dalam kehidupan manusia. Pagi harinya, ia menemui Nabi dan mengatakan dua kalimat syahadat. Ia mengikuti agama yang ditawarkan Rasulullah. Inilah sosok imam yang akan memimpin keluarganya; penerus darah keturunan Rasulullah; suami seorang putri mulia, Fatimah.

Suatu hari Ali bin Abu Thalib mendapat berita. Orang-orang datang menghampiri Ali bin Abu Thalib, “Ali, itu Fatimah mau dilamar orang. Kamu saja datang. Kamu lebih layak.”

Bahkan, orang lain pun melihat kalau Fatimah, putri Nabi yang luar biasa itu cocoknya hanya dengan Ali. “Sayang kalau orang lain. Kenapa bukan kamu. Kamu yang dididik dari kecil. Kamu orang luar biasa. Kamu berasal dari keluarganya. Fatimah cocoknya sama kamu. Kamu saja yang datang ke Nabi.”

Mendengarnya, Ali bin Abu Thalib pun datang ke Nabi. Nabi pun bertanya, “Ada apa, Ali?”

“Tidak ada apa-apa, ya Rasulullah,” Ali bin Abu Thalib menjawab dengan perasaan malu. Ini menjadi pelajaran bahwa orang tua janganlah hanya memutuskan dari apa yang diucapkan anaknya. Karena terkadang mereka malu.

Ditanya lagi oleh Nabi, “Ali ada perlu apa?”

“Tidak ada, ya Rasulullah.”

Lalu, apa kata Nabi selanjutnya? “Apakah engkau ingin melamar Fatimah?”

Kok tahu? Ali mengatakan, “Iya, ya Rasulullah. Tapi, saya tidak punya mahar untuk menikahi putri engkau, Fatimah.”

Nabi mengatakan, “Kemana baju besi yang aku berikan padamu?” Ternyata Nabi pernah memberi hadiah baju besi, baju perang kepada Ali bin Abu Thalib.

“Ada, ya Rasulullah.”

Nabi berkata, “Aku nikahkan engkau dengan mahar itu.”

Betapa luar biasanya keluarga ini di tengah kesederhanaan hidup yang luar biasa. Ali bin Abu Thalib saat itu berada pada masa-masa miskin. Ali bin Abu Thalib memang dikenal ahli dalam masalah ilmu, tetapi dalam masalah harta, ia miskin. Ini pelajaran mahal bahwa Nabi kita ternyata memilih menantu miskin.

Mau tahu miskinnya seperti apa? Bisa tidak ada makanan. Sampai-sampai untuk mendapatkan beberapa butir kurma, Ali bin Abu Thalib harus membantu mengangkat air untuk mengairi kebun orang lain. Upahnya, beberapa butir kurma. Miskin. Miskin sekali. Itulah yang membuat tangan Fatimah kasar, atau bahasa kita ‘kapalan’. Sebab Fatimah mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, tanpa bantuan pembantu.

Itulah sosok salah satu menantu Nabi. Miskin. Namun, bukan berarti miskin termasuk kriteria. Menantu harus miskin. Tidak. Sebagaimana pula tidak masuk kriteria bahwa menantu harus kaya. Inilah yang harus dipahami betul.

Namun, dalam hal ini Ali paham betul bahwa tugas laki-laki adalah menafkahi keluarga. Itu sudah sangat cukup.

Itulah salah satu potret bagaimana Rasulullah mengajari setiap orang tua dalam memilih calon menantu. Kenalilah calon menantu seperti halnya mengenali anak sendiri. Mengenal bukan dalam jangka waktu setahun dua tahun. Namun mengenal sedari kecil. Padahal bisa saja Rasulullah memilih shahabat lain. Namun, Rasulullah justru memilih seorang menantu yang sudah dikenalnya sejak kecil.

Pelajaran mahal yang bisa diambil dari kisah sosok mulia Ali bin Abu Thalib ini adalah bagaimana seharusnya muslim memilih pasangan hidup. Pesan penting ini untuk semua orang tua muslim yang ingin memilihkan jodoh bagi anaknya. Sekaligus pesan penting bagi seluruh pemuda dan pemudi jomblo yang ingin meraih cinta sejati.

Buat para orang tua hendaknya memasang parameter taqwa di atas segalanya. Jauhkan anak-anak dari parameter dunia apalagi hanya sebatas harta. Ketahuilah bahwa seorang pemuda miskin seperti B.J. Habiebie kelak akan menjadi orang super kaya raya karena memiliki sederet ijin paten di bidang penerbangan. Bahkan beliau menjadi presiden Republik Indonesia. Maka orang tua manakah yang tertipu dengan kemiskinan Habibi ketika itu.

Buat pemuda dan pemudi jomblo hendaknya menjadikan Ali bin Abu Thalib sebagai idola, pemuda yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla dan sangat taat kepada Rasulullah. Pantaskanlah diri seperti seorang muslim sejati: shalat diperkuat; zakat dan sedekah diperbanyak; ngaji diperdalam. Bila parameter taqwa sudah digenggaman, maka kisah Ali bin Abu Thalib bisa jadi akan menjadi kisah kita berikutnya.

Nah, demikianlah isi kajian Khalifah Trans7 bersama Ustadz Budi Ushari dan ibu-ibu jamaah Mar’atus Shaliha Bandung. Eits, tapi belum selesai! Masih ada pembahasan selanjutnya, yaitu pengembangan materi dari sesi tanya jawab antara para jamaah dengan Ustadz Budi Ashari. Jadi, nantikan postingan selanjutnya ya! Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat dan menginspirasi pembaca.

To be continued…


Salam,
Wenny Pangestuti

December 22, 2016

#Resolusiku2017 : Tanpa Usaha, Rasa Tak Kan Sama



“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”
(TQS. Ar-Ra’d [13]: 11)


Bukan tanpa sebab saya mengawali tulisan ini dengan penggalan ayat di atas. Tak lain sebagai sesama muslim mengingatkan bahwa pentingnya berusaha. Karena tanpa berusaha, segala impian hanyalah angan kosong.

Pergantian tahun menjadi momentum pas bagi seseorang untuk merefleksi diri tentang capaian-capaian yang telah ia lalui di tahun sebelumnya dan yang akan ia raih di tahun mendatang. Begitulah hakikat kehidupan, tak lepas dari yang namanya perubahan. Disadari atau tidak, diinginkan atau tidak, yang namanya perubahan itu pasti ada. Tinggal kita yang memilih apakah memilih perubahan yang terjadi sendiri tanpa usaha kita atau perubahan terencana dengan usaha kita. Semua pilihan ada pada diri kita sendiri. Coz life is choice.

Sebagai wanita yang masih berusia 25 tahun hingga 13 Juni 2017 nanti, to the point saja #Resolusiku2017 Yang Paling Ingin Saya Wujudkan adalah M-E-N-I-K-A-H. Saya punya harapan di usia 25 tahun saya sudah menikah. Walaupun memang masalah kematangan, masalah usia ideal itu relatif, tergantung kepribadian masing-masing orang, saya pikir di usia sekianlah saya insyaAllah mempunyai kesiapan dan kematangan untuk menikah. Rencana ini sudah tertulis dalam Yearly Planning yang pernah saya buat di akhir tahun 2013 silam. Saat itu saya membuat perencanaan dalam lima tahun mendatang. Saya menuliskan pada tahun 2017 bahwa “InsyaAllah saya siap dan matang untuk menikah”.

Life Mapping yang pernah saya buat di akhir tahun 2013

Kenapa menikah? Karena saya ingin membangun keluarga impian saya; memiliki partner hidup yang membersamai dalam kebaikan; melahirkan generasi Islami yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah dan menjadi salah satu satu pahala yang tak akan terputus saat saya meninggal nanti.

Lalu apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkannya? Terus terang saya bingung bila ditanya sudah sejauh mana persiapan saya untuk menikah. Sebab persiapan itu adalah proses perbaikan dan proses pemantasan itu sendiri. Saya coba menambah wawasan dengan membaca, bertanya, atau mendengar cerita dari mereka yang telah lebih dulu menikah.


Referensi buku pernikahan yang saya miliki

Sebenarnya di tahun 2016 gaung menikah dan menikah begitu bising di telinga saya. Selain pertanyaan yang tak usai dari orang-orang ‘kapan menikah?’, baik dengan nada serius atau bercanda, saya sendiri kerap merasakan kegelisahan itu sendiri. Saya coba menghibur diri saya sendiri bahwa ini bukan-lah masalah besar. Bukankah jodoh hal yang sudah pasti dari Allah, sesuatu yang kerap dikhawatirkan, tetapi seharusnya tidak perlu dikhawatirkan. Karena ada perkara yang harusnya dikhawatirkan, tetapi seringkali tidak dikhawatirkan, yaitu kematian. Ya, karena bisa jadi kematian saya-lah yang lebih mendahului dari pertemuan saya dengan jodoh di dunia. Namun, semuanya adalah sama-sama perkara gaib yang tak bisa diterka oleh manusia, pun dengan saya. Saya coba memotivasi diri saya bahwa yang harus saya lakukan berusaha. Berusaha memantaskan diri untuk siap mati dan memantasakn diri untuk menjadi bidadari kekasih hati (jodoh).

Apa yang akan menjadi rencana saya? Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu saya berencana mengikuti biro jodoh online AyoNikah.com Tetapi, saya terhalang uang untuk aktivasi sebagai anggota. Jadi, untuk aktivasi keanggotaan kita harus membayar uang pendaftaran senilai Rp300.000. Selama menjadi anggota, identitas kita akan terjaga. Itu mengapa saya percaya dan yakin ingin mengikuti program ini. InsyaAllah akan saya lakukan di tahun 2017 mendatang. Bismillah.

Mengapa harus dengan biro jodoh online? Mengapa tidak meminta bantuan orang tua, teman atau saudara, tokoh agama yang dikenal? Saya juga berteman kok secara offline dengan siapa pun. Saya pikir itu tidak perlu dibahas lebih jauh. Semuanya bermuara pada satu kata, yaitu B-E-R-U-S-A-H-A.

Jujur, sebenarnya saya malu juga membahas ini apalagi sampai dikutsertakan pada giveaway. :-) Saya membutuhkan dukungan, masukan, dan doa dari para pembaca. Terima kasih.


Dengan atau tanpa usaha mungkin bisa saja seseorang tetap mendapatkan hasil yang sama. Namun, tetap akan ada yang berbeda, yaitu rasa. Rasa menikmati hasil yang sama dengan usaha tak kan sama dengan rasa menikmati hasil yang sama tanpa usaha. Karena tanpa usaha, rasa tak kan sama.






~Wenny Pangestuti~

October 08, 2016

Pohon Impian VII C


Setiap orang pasti memiliki impian. Ada yang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan impian mereka. Walau hambatan dan rintangan menghadang, mereka tidak mempedulikan itu semua demi  meraih impian tersebut.

Namun, adapula yang justru kemudian menyerah kalah. Mereka  mengubur dan menutup rapat  impian  disaat terbentur kondisi dan situasi yang tidak berpihak.  Mereka kalah dan menyerah untuk  menerima nasib yang mempermainkan.

Impian memang perlu konsisten untuk diwujudkan. Sebesar apapun hambatan dan rintangan menghadang, wajib kita lawan sekuat daya dan upaya untuk mewujudkannya. Salah satu inisiatif saya untuk memendarkan impian siswa-siswi VII C agar mereka selalu termotivasi  mewujudkannya adalah membuat pohon impian di kelas.

Gambar di atas adalah pohon impian kelas VII C, yang saya buat sebagai program kerja saya sebagai wali kelas VII C. Pohon impian di sini dilakukan dengan cara anak-anak diminta untuk menuliskan impiannya pada sebuah kertas yang berbentuk buah –kita sebut’buah impian’. 

Siswa menulis bermacam-macam impian mereka masing-masing dan berikut impian mereka tersebut: 

  1. Abdul Khotib: “cita-cita menjadi guru”
  2. Agus Candra Wijaya: “cita-cita saya ingin menjadi orang yg pintar, membanggakan kedua orang tua yg sudah merawat saya dari kecil sampai sebesar ini. Jadi cita-cita saya adalah menjadi orang yg sukses/ pengusaha yg sukses”
  3. Ahmad Fais Fairushayun: “memperbaiki elektronik”
  4. Aisyah Yuli Anggraeni: “guru”
  5. Ana Bela: “menjadi guru”
  6. Badiun Ni’am: “polisi”
  7. Bahrur Rochim: “menjadi bingkil motor yang sukses”
  8. Cindi Cantika Triana: “impianku tidak banyak hanya ingin masuk surga dan ingin membanggakan kedua orang tua, ingin memberangkatkan orang tua haji dan ingin menjadi lebih baik lagi”
  9. Dimas Dani Al-Fairus: “cita-cita saya menjadi orang yang sukses”
  10. Fatiq Thoyyib Ardani: “cita-cita menjadi guru”
  11. Ikfina Ilma Salwa: “guru”
  12. Imroatul Hasanah: “guru, semoga tercapai cita-citaku”
  13. Intan Utami: “menjadi doktor/dokter, aku ingin menjadi orang yang sukses dan aku ingin menjadi orang yang dihormati aamiin, semoga aku menjadi orang yang lebih baik dari hari ini aamiin”
  14. Jefri Wahyudi: “masuk surga”
  15. Jisavira Dela Ananta: “saya ingin menjadi dokter”
  16. Khoirul Umam: “pengusaha yang sukses”
  17. Lilis Suryani: “guru”
  18. Mashuri: “cita-cita menjadi ustad/ kyai”
  19. Miftahul Rizki: “sepak bola”
  20. Mohammad Rizki: “pengusaha yang sukses”
  21. Muhammad Nur Afandi: “ingin menjadi polisi”
  22. Nadila Rahmawati: “guru”
  23. Nuorma Issrinasyifa: “polwan”
  24. Nur Fahmi: “astronot”
  25. Nurul Sholeha: “pramugari”
  26. Rani Arlinda: “guru”
  27. Rindi Antika: “guru”
  28. Rivaldo Dwi Saputra: “ingin bertemu Nabi Muhammad”
  29. Serli Zahrotus Sakinah: “cita-cita saya ingin menjadi guru”
  30. Shinta Dhuhrotul Himayah: “guru”
  31. Sintia Imroa Sholihah: “saya ingin jadi guru”
  32. Siti Al Mukarromah: “guru”
  33. Tasiyati: “guru vokal”
  34. Taufiqurrohman: “menjadi guru”
  35. Vera Indah Kusumasari: “dokter”
  36. Wahyudi Firmansyah: “cita-cita ingin menjadi hakim”
  37. Arlin Sukma Padisia: “pramugari”
  38. Inan Nabila: “guru/dokter”
  39. Firda Fitrianingsih: “polwan, membanggakan orang tua dan ingin menaikkan haji orang tua ke tanah suci”
 
Kegiatan siswa-siswi VII C menggantung buah impian mereka pada pohon impian

Setelah anak selesai menuliskan impiannya, saya telah menyiapkan ilustrasi pohon yang saya gambar di kertas manila putih dan saya warnai dengan cat air untuk digunakan sebagai tempat menggantungkan impian para siswa. Pohon tersebut kemudian ditempel di dinding kelas, dengan harapan setiap ada orang yang membaca impian-impian siswa tersebut, mereka mengamininya dan mendoakan kepada Allah agar impian para siswa dikabulkan.

Hasbunallah wani’mal wakil
(Cukuplah Allah yang memenuhi harapan dan sebaik-baik pertolongan)

Impian manusia adalah sebuah doa kepada Allah. Impian adalah suatu keharusan bagi insan yang mengiginkan kehidupan yang lebih baik. Mimpi bukanlah sekedar angan-angan tanpa aksi, tapi harus kita lakukan. Menjadikan impian kita sebagai motivasi, dan membuat kita untuk bergerak menyusun langkah-langkah untuk mewujudkan impian yang telah direncanakan.

“Mimpi terus sampai Tuhan memelu mimpi kita” 
[Coboy Junior - Pelangi dan Mimpi song]



Selasa, 04-10-2016
Wenny Pangestuti