November 24, 2015

Surat untuk Presiden dari Hanum


Banyuwangi, 7 November 2015

Kepada Yth
B. Joko Widodo
Di Tempat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Pertama-tama saya akan memperkenalkan diri saya. Saya Hanum. Saya adalah siswi kelas 7 MTs Al-Fatah Sragi.
Tujuan saya menulis surat ini adalah saya mau menyampaikan unek-unek saya tentang pendidikan yang selama ini berjalan. Saya merasa tersentuh saat melihat masih banyak anak-anak belia yang terlantar yang mengemis di pinggir jalan. Padahal itu bukan tugas dari seorang anak. Tugas dari seorang anak adalah belajar karena generasi muda adalah penerus bangsa. Bagaimana sebuah Negara bisa maju kalau tidak ada faktor pendorong di dalamnya, salah satunya adalah generasi muda yang berilmu. Saya mohon kepada Bapak Joko Widodo, tolong bantu perkembangan ilmu mereka, dengan cara membangun beberapa sekolah gratis untuk anak yang tidak mampu.
Demikian surat dari saya. Apabila ada kata-kata yang mungkin tidak layak untuk saya ucapkan, saya mohon maaf.
Wassalamu’alaikum warahtaullahi wabarakatuh.


Hormat saya,
  

Hanumatul Hasuna S.B.H.

November 16, 2015

Menulis Surat Untuk Presiden


Di sekolah selain mengajar mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan Matematika, aku juga mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini lantaran guru Bahasa Indonesia yang bersangkutan mengundurkan diri sehingga aku diminta sekolah untuk menggantikannya sementara selama semester ganjil ini. Aku sih baik-baik saja dengan tawaran ini. Sebab, aku sendiri suka pelajaran Bahasa Indonesia. Ditambah lagi aku suka membaca dan menulis. Jadi, menurutku mengajar Bahasa Indonesia menjadi hal yang menarik buatku.

Aku mendapat kesempatan mengajar Bahasa Indonesia di dua kelas, yaitu VII C dan VII D. Pada suatu hari materi pelajaran yang kubahas adalah menulis surat pribadi. Seperti biasa, setelah menerangkan atau berdiskusi mengenai materi bersangkutan, aku meminta siswa-siswi mengerjakan tugas yang berkaitan dengannya. Untuk materi menulis surat pribadi, aku pikir bila menulis surat pribadi untuk sahabat atau keluarga sudah biasa dan pernah keluar di soal UTS kemarin. Oleh karenanya, kali ini aku ingin membuat tantangan bagi anak-anak, yaitu menulis surat pribadi untuk Presiden Indonesia, Joko Widodo.

Pada mulanya, anak-anak mengeluh tidak bisa, tetapi mau tidak mau mereka tetap harus membuatnya. Entah tiba-tiba aku menjadi terbesit sesuatu agar tugas ini menjadi lebih menarik. Yaitu, aku mengumumkan kepada anak-anak bahwa surat terbaik dari masing-masing kelas akan aku posting di blog-ku. Respon kelas VII C biasa saja. Namun, di kelas VII D, beberapa anak cukup antusias. Salah satunya, Moh. Adib Maulana. Ia terlihat berharap suratnya yang terpilih untuk di-posting di blog-ku. Bahkan Adib juga sempat menanyakan alamat blogku.

Saat satu per satu surat dikumpulkan dan kubaca, isinya beragam mulai dari pernyataan kekaguman, pujian, motivasi, hingga kritikan kepada pak Joko Widodo. Aku salut kepada anak-anak karena mereka cukup up to date dengan perkembangan berita yang ada. Beberapa mereka ada yang mengulas tentang bencana asap di pulau Sumatra dan Kalimantan, pembunuhan siswa di dalam kardus, kenaikan harga BBM, bencana banjir yang sering menimpa ibukota hingga menyoroti pendidikan Indonesia yang belum memuaskan. Ini membuktikan bahwa mereka ternyata bisa kan membuat surat untuk presiden.  Mereka juga bisa kritis. Bahkan mereka cukup kreatif.

Ya sebenarnya kita bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Intinya adalah adanya keyakinan bahwa kita bisa dan mau mencoba. Aku jadi teringat momen saat aku pernah mengajak anak-anak VII C menyanyikan lagu Coboy Junior yang berjudul Terhebat. Dengan harapan, mereka mengerti bahwa inti keberhasilan adalah kemauan untuk mencoba dan tidak takut gagal.

Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut
Takut tuk mencoba dan gagal, tapi...

Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi
Mimpi tuk menjadi berarti karena...

Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan
Tuk jadikan dunia ini lebih indah

Tak perlu tunggu hebat
Untuk berani memulai apa yang kau impikan
Hanya perlu memulai
Untuk menjadi hebat raih yang kau impikan

Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat

Setelah menilai dan menyeleksi, surat yang akhirnya terpilih untuk di-posting di blog-ku ada 4, yaitu surat milik Hanumatul Hasuna S.B.H. (VII C), Alanda Nuvida Tsuroya (VII D), Fathimah Faza Almuna (VII D) dan Moh. Adib Maulana (VII D). Seperti apa isi dari surat-surat mereka? Simak terus pada posting-an selanjutnya.


~Wenny Pangestuti~

November 13, 2015

Hujan Telah Kembali


Hujan. Akhirnya hujan turun. Setelah sekian hari hujan menjadi bahan pembicaraan di tengah kemarau yang melanda. Indahnya, hujan pertama turun di kala mendekati senja sehingga aroma tanah yang basah oleh air hujan diiringi hawa teduh senja menjadi suasana yang syahdu nan nikmat.

Suasana yang mengingatkanku saat aku tengah berbaring santai di kamar rumah Tanggul dengan banyak jendela, sambil menikmati rasa setelah melalui hari bersama teman di sekolah.

Suasana yang telah lama tidak kurasakan lagi. Suasana yang menyadarkanku bahwa ternyata aku merindukan suasana seperti ini.

Hujan menjadi anugerah dari Allah subhanallahu ta’ala untuk makhluk di Bumi. Warga bersyukur karena akhirnya tanaman pertanian mereka terbasahi oleh air hujan. Hujan disambut dengan rasa haru, gembira, rindu nan syukur. Hujan menjadi kabar gembira bagi penduduk Bumi setelah mereka diterpa panas tak berkesudahan.

Hujan kembali menghiasi aspal dengan basahnya. Hujan kembali mewarnai rona hidup pelajar di sekolah menuntut ilmu; membasahi paving halaman sekolah; menjadi background atmosfir di balik kaca jendela kelas.
Hujan telah kembali.


~Wenny Pangestuti~

November 01, 2015

Ada

Angin sepoi-sepoi membelai lembut bulir-bulir padi di sawah itu. Di sebuah gubuk di tengah hamparan sawah, terduduklah seorang gadis sambil mengoreskan penanya pada sebuah buku yang identik dengan warna coklat muda. Tinggal beberapa kalimat lagi, maka semuanya akan selesai, buku itu siap beralih tangan.
Di sudut lain, satu per satu orang di halaman rumah tersebut disalami oleh pria itu. Yang laki-laki dewasa disalami lalu dipeluknya hangat. Yang perempuan dewasa, cukup disalami. Lalu yang anak-anak, disalami sambil dikoyak-koyak lembut rambutnya, atau mengusap lembut kerudungnya. Ini saatnya perpisahan dengan keluarga besar itu setelah sekian hari ia menghabiskan waktu tinggal di sana. Semua telah tersalami, tetapi ada satu yang belum. Entah kemana, sosok yang dimaksud tak ada di tempat. Semua menanyakan keberadaannya. Padahal ia tahu ini hari pria itu berpamitan pulang ke tempat asalnya.
“Titip salam saya untuk Wenny”, ucapnya  tanpa meninggalkan senyum identiknya. Usai mengucapkannya, ia perlahan menuju mobil yang akan membawanya pergi menuju stasiun.
Tak berapa lama ia melangkahkan kaki, terdengar derap langkah seseorang berlari. Wenny. Ia menyusul. Tepat beberapa meter di hadapan pria itu, gadis itu berhenti diiringi hembusan nafas yang beritme cepat.
Pria itu tersenyum, “Aku pamit.”
Setelah ritme nafasnya cukup stabil untuk berkata, Wenny hanya tersenyum sederhana dan memandang dengan sudut pandang ke bawah. Ia tak pernah berani melihat langsung ke arah lawan bicaranya. Tiba-tiba kedua tangannya menyodorkan sebuah buku bersampul coklat muda. Pria itu mengernyitkan  alisnya, tak mengerti. “Apa ini?”
Lama tak menjawab, Wenny perlahan mengangkat kepalanya, lalu mulai berkata, “Semua...semua yang pernah kamu ceritakan. Lengkap di sini. Aku menuliskannya semua di sini. Cerita-cerita yang luar biasa. Cerita-cerita yang belum pernah kudengar sebelumnya. Cerita yang tidak boleh kamu lewatkan pada setiap orang yang kamu jumpai.”
Pria itu sedikit terkejut dan perlahan meraih buku coklat muda itu. Lalu ia kembali tersenyum identik, “Great! Terima kasih.”
Seperti teringat pada sesuatu, pria itu berbalik arah, berjalan menuju mobil lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
“Ini!” Ia menyodorkan sebuah benda elektronik. Berganti, kini Wenny yang mengernyit tak mengerti. Pria itu menjelaskan, “ Cerita-cerita yang belum aku tuturkan...”
Wenny meraih benda tersebut, yang tak lain adalah perekam suara. Wenny mengamatinya agak lama, lalu melihat ke arah pria itu sambil tersenyum sederhana,” Terima kasih.”
Pria itu pun kembali berpamitan pada setiap orang di sana. Ketika hampir memasuki mobil, ia berbalik arah kembali. Telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah Wenny lalu berkata, “Menulis-Bertutur,” bergantian, telunjuknya menunjuk ke arah dirinya.
Wenny tersenyum sederhana lalu menirukan lengkap dengan gerakannya, “Bertutur-Menulis”.
“Senang berkenalan denganmu.”
So do I.

Tangan yang biasa yang menggenggam
mata yang terus menatapku
bibir yang selalu tersenyum
kau selalu disini

peluk yang tak ingin lepas
jari yang belai keningku
pundak tempatku bersandar
kau selalu disini

kini kita harus berpisah
jarak waktu mempermainkan kita
ku disini dan kau disana
tapi ku tak sendiri

suara kau dihati
terbawa di mimpi
walau kau disana
aku tak sendiri

ada kau dihati
ada kau dihati
aku tak sendiri
kau selalu bersama aku

kekuatanmu buatku tangguh
percayamu buatku yakin
kemana pun dimana pun ada kau di hati

kini kita harus berpisah
jarak waktu mempermainkan kita
ku disini dan kau disana
tapi ku tak sendiri

suara kau dihati
terbawa di mimpi
walau kau disana
aku tak sendiri

ada kau dihati
ada kau dihati
aku tak sendiri
ku simpan disini
kau selalu bersama aku

[Dikutip dari lirik lagu Sherina Munaf yang berjudul “Ada”]

  
~Wenny Pangestuti~

October 10, 2015

Writing, Blogging and Inspiration


Menulis. Aku mulai terbiasa menulis sejak sekolah dasar kelas lima. Saat itu aku menulis diari pertamaku. Lambat laun kurasakan ada kenyamanan menuliskan pengalaman sehari-hari di sebuah buku sekalipun itu pengalaman yang mungkin tidak begitu berarti untuk diceritakan. Aktivitas menulis diari pun berlanjut. Waktu berganti waktu. Buku berganti buku. Aku tetap menulis diari sampai sekarang.

Pada usia sekolah menengah atas aku mulai mengenal yang namanya membuat website sendiri dari guru komputerku. Aku juga mulai mengenal blog dari majalah atau informasi di internet. Dari sanalah ada ketertarikan untuk memiliki sebuah website pribadi yang bisa menampung tulisan-tulisan pribadiku. Hal yang selaras dengan hobiku, menulis.

Pada awal masuk kuliah aku mulai merintis membuat blog. Blog pertamaku masih berisi tentang tulisan-tulisan yang copy-paste dari website lain. Hanya saja aku mempercantik tampilan teks-nya dan menambahkan ilustrasi yang menarik dari mbah google. Jadi, aktivitas blogging pertamaku lebih terfokus pada cara mempercantik blog. Di sanalah aku belajar mengenal istilah-istilah dalam blog, seperti template, html, blogroll, atau cara menambah widget dalam blog.

Setelah sekitar empat tahun, aku memutuskan untuk membuat blog baru yang isinya tentang tulisan-tulisan asliku. Blog yang lama aku non-aktifkan. Menurutku, sudah saatnya aku mem-posting tulisan sendiri, bukan copy-paste tulisan orang lain. Alhamdulillah, blog yang sekarang inilah yang kumaksud, blog yang kuusahakan berisi tulisan-tulisan asliku.

Menulis di blog ada kepuasan tersendiri. Selain bisa berbagi inspirasi sederhana kepada orang lain, menulis di blog menjadi semacam healing buatku ketika hati gundah gulana. Pada saat aku sedang menjalani proses penyelesaian skripsi, terus terang saja aku sering melakukan pelarian diri dengan blogging. Kalau di suruh memilih, aku memang lebih nyaman menulis di blog dari pada menulis laporan skipsiku. Setiap kali aku berniat mengerjakan skripsi di area sekitar perpustakaan kampus, seringkali pada akhirnya aku malah keasyikan blogging. Pikiranku saat itu adalah seandainya mengerjakan skripsi itu semenyenangkan blogging.

Menulis di blog membuatku juga belajar kosa kata. Ada rasa tanggung jawab setiap akan mem-publish tulisan. Pertama, aku harus membaca ulang dulu tulisan, mengoreksi bila ada penulisan kata dan kalimat yang kurang tepat dan mengecek pemakaian istilah tertentu. Karena lucu dan sotoy sekali bila sok menggunakan istilah tertentu, tetapi maknanya tidak nyambung. Jadi, seringkali aku mengecek makna istilah tertentu pada kamus agar tidak ambigu pada pemakaiannya. Dari sanalah aku juga bisa semakin memperkaya pembendaharaan kata dan istilah yang menunjang dalam dunia tulis-menulis.

Sejak awal membuat blog yang berisi tulisan asliku, aku sudah memegang prinsip bahwa yang ingin kutonjolkan pada blogku lebih pada kualitas isi. Jadi, aku berusaha mengerem keinginan menulis hal-hal yang dirasa tidak begitu perlu untuk dibagi dan diketahui khalayak banyak. Menulislah yang dapat memberi inspirasi walaupun itu hal yang amat sederhana. Menulis yang bermanfaat dan berhikmah.

Aku juga membatasi untuk tidak tergiur mempercantik blok secara glamor. Aku suka yang sederhana, tapi manis terlihat. Sebenarnya tampilan blogku terinspirasi dari blog Alyssa Soebandono. Aku suka dengan blog Alyssa. Sederhana , tetapi menginspirasi dari segi isi tulisan-tulisan yang di-posting.

Dalam menulis blog, menurutku adanya ilustrasi cukup penting karena bisa menambah daya tarik sebuah tulisan untuk dibaca. Itulah mengapa, setiap kali mem-posting tulisan, aku selalu menyertakan gambar di awal tulisan setelah judul. Pemilihan gambar pun tidak asal sembarang. Aku memilih gambar yang mempunyai resolusi baik. Sejauh ini gambar yang kupakai di dalam blog adalah hasil pencarian di mbah google. Maklum, aku belum memiliki kamera sendiri. Dari sini pula aku juga menjadi tertarik dengan dunia photography. Jiwa seniku menjadi terpancing saja hehehe.

Kalau soal isi tulisan, aku lebih suka mengangkat tema yang ringan, tapi bisa menginspirasi. Isinya yang mungkin berangkat dari pengalamanku atau pengalaman orang lain, yang dari sana memicuku merenungkan hikmah di balik pengalaman itu. Aku memang tipe orang perenung. Jadi, dengan menulis aku berusaha menyiratkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaanku yang mungkin tak terlisankan kepada orang-oarang di sekitarku.

Harapanku, dengan adanya kegiatan blogging ini adalah menciptakakan peluangku sendiri dalam dunia menulis. Yang mungkin sekarang aku bukan siapa-siapa dan tidak dikenal banyak orang. Karena memang inti aku menulis bukan kepopuleran, tetapi writing is my passion and my healing.
Aku teringak kisah Helvy Tiana Rosa, Founder Forum Lingkar Pena, bahwa dia suka menulis berawal dari melihat ibunya sering menulis. Kalau memang aku tidak terlahir sebagai penulis terkenal dan fenomenal, aku berharap suatu saat putra-putriku menadapat energi positif dari melihat aktivitas ibunya yang suka menulis. Peluang yang kuraih adalah menginspirasi orang dengan cara sederhana, menulis. Lalu, bagaimana denganmu? Ciptakan peluangmu.

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Cerita di Balik Blog.


~Wenny Pangestuti~

May 01, 2015

Menabung Langkah, Meraih Mimpi

Source: ask.fm

Menanyakan cita-cita adalah hal yang kerap kali dilakukan oleh orang-orang dewasa kepada anak-anak. Mereka ingin tahu impian apa yang diinginkan oleh anak-anak yang masih polos dan lugu. Begitu pula saya, saya kerap kali menanyakan cita-cita kepada setiap anak yang saya kenal.

Adalah Irma, seorang gadis kecil kelas 2 SD bercita-cita ingin menjadi seorang chef. Mendengar cita-cita Irma, saya pun berkata, "Berarti pintar masak donk. Sudah bisa masak apa aja?" Ia menjawab, "Agar-agar." Dari sanalah tercetus ide untuk merencanakan membuat agar-agar bersama.

Hari yang dipilih adalah hari Minggu karena anak-anak libur sekolah. Jadilah tanggal 29 Maret 2015 dipilih menjadi waktu pelaksanaanya, selesai dari melakukan jalan-jalan pagi. Anak-anak, yaitu Irma, Duwi, dan Dani amat antusias dengan rencana tersebut. Dua hari sebelumnya, yaitu Jum'at sore anak-anak tidak beranjak untuk meninggalkan rumah saya. Mereka tidak lelah mengulang-ngulang pembicaraan mengenai rencana tersebut. Saya sendiri sudah cukup letih untuk meladeni obrolan anak-anak. Akhirnya, saya kerahkan anak-anak untuk membantu saya membersihkan perkarangan rumah. Ternyata mereka juga antusias membantu: menyapu perkarangan, membuang sampah, dan menyiram perkarangan. Dasar anak-anak! Mereka memang tak kenal lelah.

Sehari sebelum rencana, yaitu hari Sabtu mereka kembali datang ke rumah. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 09.00 pagi. Saya pikir ini masih waktu sekolah. Ternyata mereka pulang pagi. Irma datang ke rumah sambil membawa buku tulis dan pensil, siap mencatat resep dan cara memasak serta pembagian tugas masing-masing personel. Dari apa yang sudah kami catat, masing-masing dari kami harus iuran sebesar Rp3.500,-.

Hari Minggu pun tiba. Usai jalan-jalan pagi yang masih menunjukkan pukul 06.00an, saya menyarankan anak-anak untuk pulang dulu ke rumah masing-masing, membantu orang tua membersihkan rumah dan memasak. Pukul 09.00 barulah nanti kita berkumpul kembali di rumah saya, siap untuk belanja bahan lalu memulai memasak. Ternyata eh ternyata tidak perlu menunggu sampai pukul 09.00, mereka sudah membaur di rumah. Ck..ck..ck..!

Mereka tampak sudah tidak sabar dan terus merajuk saya untuk segera belanja dan memulai memasak. Akhirnya, saya tidak kuasa dan mengiyakan rajukan mereka. Lagi-lagi saya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah anak-anak.

Kedengarannya, membuat agar-agar bersama tampak sepele, bahkan hal yang amat mudah. Tetapi, bukan itulah yang dapat kita nilai. Selama ini saya sering melihat bagaimana orang tua meremehkan keinginan sederhana anak. Dan bagi anak-anak, keberadaan orang tua yang mengiyakan ide-ide 'gila' mereka juga amat jarang. Tidak sedikit anak-anak dibiarkan bermain diluar tanpa pendampingan orang tua. Padahal usia-usia seperti mereka masihlah mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Jadi, wajarlah mereka terkesan 'ngelitis'.

Saya berpikir, mengiyakan mereka adalah untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka; membantu mereka mengisi waktu libur untuk berinovasi. Hal yang jarang orang tua lakukan, mendampingi anak-anaknya bermain sambil belajar untuk mengisi waktu libur.

Saya berpikir pula bahwa dengan mengiyakan mereka sama halnya membesarkan harapan Irma yang ingin menjadi seorang chef. Saya ibaratkan ini sebagai menabung langkah untuk meraih mimpi. Dimulai dari langkah sederhana, membuat agar-agar; membongkar rasa penasaran mereka bagaimana rasanya memasak dengan kompor sungguhan. Siapa tahu kelak Irma mampu menciptakan inovasi makanan dan rasa yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga halal dan higienis. Aamiin!

Mendengarkan cita-cita anak dan membantu mewujudkannya dengan menabung langkah penting sekali. Agar anak lebih dan semakin percaya diri dalam meraih mimpinya, tidak ada ketakutan dan keraguan dalam dirinya. Semuanya menjadi mungkin selama kita yakin dan mau berusaha. Inilah kekuatan yang dapat terus memotivasi anak-anak. Jadi, mari dimulai dari gerakan kita para orang tua dan orang dewasa untuk mendukung terus pendidikan postif bagi anak-anak. :)

Ini hasil agar-agarnya.

Duwi

Irma

Dani

together


~Wenny Pangestuti~

Mengejar Matahari

Source: http://cutehdwall.com

Aku tidak ingat kapan pertama kali melihat bunga matahari. Yang kuingat, aku pernah berkali-kali melihat bunga matahari sekitar 12 tahun lebih yang lalu. Bunga matahari tersebut tumbuh di halaman kantor, tempat bapak bekerja. Di luar waktu kerja aku sering bermain-main di sana karena jarak rumah dengan kantor bapak cukup dekat. Entah di sana aku belajar naik sepeda; mencari bekicot; melihat beraneka tumbuhan; atau masuk ke dalam gudang yang menyimpan berkarung-karung kopi. Di sana-lah aku tidak asing dengan namanya bunga matahari.

Namun, semenjak kantor dan gudang tersebut tidak lagi difungsikan, serta bapak dan rekan-rekannya menempati kantor yang lain, semenjak itulah aku tidak lagi melihat bunga matahari. Bunga matahari memang jarang terlihat di sembarang tempat.

Kini, setelah 12 tahun lebih berlalu, aku bertemu kembali dengan bunga matahari. Pagi itu, Minggu, 29 Maret 2015 aku dan empat bocah SD yang adalah adik-adik tetanggaku (Aril, Dani, Duwi, dan Irma) melakukan jalan-jalan pagi. Kami memulai perjalanan selepas shalat Shubuh. Di tengah perjalanan barulah kusadari ada tumbuhan bunga matahari di halaman salah satu rumah warga yang kami lewati. Padahal sebelumnya aku cukup sering bolak-balik melewati rumah itu, tetapi baru kusadari ternyata ada bunga matahari di sana. Lalu aku mengajak anak-anak berfoto di bawah bunga matahari tersebut.

Dari kiri: Aril, Dani, Irma, dan Duwi

Pada hari yang lain, Jum'at, 03 April 2015, bertepatan dengan tanggal merah di kalender, anak-anak libur sekolah. Kami pun merencanakan jalan-jalan pagi kembali selepas shalat Shubuh. Kali ini ada penambahan personil, yaitu Bela dan Yopi. Jalan yang kami telusuri juga lebih jauh dari sebelumnya. Saat kami melintasi sebuah rumah dengan bunga matahari-nya tersebut, langit masih kelabu. Kami meneruskan perjalanan. Sekembalinya kami untuk pulang, langit pun berangsur cerah. Aku mengajak anak-anak kembali berfoto di bawah bunga matahari.
"Ayo, kita berfoto di bawah bunga matahari!" ajakku.
"Ayo!!!" seru mereka sambil berlari menuju rumah yang ada bunga matahari-nya tersebut.

Melihat kembali foto mereka di rumah, aku tersenyum. Mereka, anak-anak yang kadangkala lucu dan menggemaskan, kadangpula menjengkelkan dan menguji kesabaran. Mereka mempunyai keunikan masing-masing. Aril yang pemikir, akurat, rapi, tetapi cukup sensitif bercita-cita menjadi seorang pegawai bank. Dani yang memiliki suara serak-serak basah bila berbicara dengan orang lain, tetapi sekali berteriak, suaranya sangat melengking bercita-cita menjadi seorang tentara. Irma yang hiperaktif bercita-cita menjadi seorang chef. Bela dan Yopi dua sahabat yang sama-sama bercita-cita menjadi guru. Sedangkan Duwi, anak yang sangat cerewet, aku belum mengetahui dengan jelas apa sebenarnya cita-cita Duwi.

Berpose di pinggir jalan. Jangan ditiru ya!

Berbaris dengan rapi. Hati-hati di pinggir jalan!

Dari kiri: Aril dan Dani

Aril ganggu Irma aja yang lagi berpose.

Duwi mana senyumnya?

Dari kiri: Yopi dan Bela berpelukan. Kayak teletubbies aja ya.

Seperti halnya di dalam foto mereka berpose di bawah bunga matahari, maka harapanku adalah sinar-sinar harapan selalu menyertai mereka, menyemangati mereka 'ntuk meraih mimpi. Aku pun berdoa semoga apa yang mereka cita-citakan menjadi nyata: Aril menjadi ahli ekonomi Islam; Dani menjadi tentara pembela kebenaran; Irma menjadi juru masak makanan yang halal dan higienis; Bela dan Yopi menjadi guru yang inspiratif; serta Duwi menjadi komunikator Islam. Aamiin!

Di sini ada satu kisah
cerita tentang anak manusia
menantang hidup bersama
mencoba menggali makna cinta


Tetes air mata mengalir di sela derai tawa
selamanya kita tak akan berhenti mengejar

matahari

Tajamnya pisau tak kan sanggup
goyahkan cinta antara kita
menembus ruang dan waktu
menyatu di dalam jiwaku


Tetes air mata mengalir di sela derai tawa
selamanya kita tak akan berhenti mengejar

terus mengejar
matahari

[Dikutip dari lagu 'Mengejar Matahari', dinyayikan oleh Ari Lasso]


~Wenny Pangestuti~