August 21, 2016

Mau? Bisa!


Alhamdulillah. Bila ada kemauan, insyaAllah mampu. Ketakutan dan keluhan tanpa berusaha hanya akan menciptakan kelemahan berjuang, memandang masalah sebagai beban, bukan tantangan yang harus diselesaikan.

Hari ini aku mencoba membuktikannya pada diriku sendiri. Sebelumnya, aku merasa beban saja diminta mengajar di madrasah aliyah. Pasalnya, aku udah terbiasa mengajar di madrasah tsanawiyah yang siswa-siswinya masih cenderung unyu-unyu dan menggemaskan. Sedangkan madrasah aliyah yang setingkat dengan sma, aku akan menghadapi anak-anak yang lebih dewasa, sudah tidak bisa disebut anak-anak lagi. Mampukah aku, batinku bertanya.

Hari-hari setiap masuk kantor aliyah sering ku-isi dengan keluhan-keluhan kepada pak Fadli selaku wakil kepala bagian kurikulum. Kenapa saya diberi tugas ini. Saya gak siap. Saya harus ngomong apa. Begitulah kata-kata yang sering keluar dari lisan saya.

Dipikir-pikir kok kayaknya gak baik ya saya bersikap seperti itu. Gak baik buat pak Fadli yang masa' harus sering menerima keluhan-keluhan saya yang tak pernah usai. Melihat beliau juga banyak urusan, banyak hal yang harus dipikrirkan dan ditangani. Setidaknya kalo mau mengeluh, mbok ya dengan mencari atau menawarkan solusi. Selain itu, gak baik buat saya juga. Apa untungnya berkeluh terus tanpa solusi. Yang ada, masalah gak tersolusi, malah semakin membebani. Mengajar pun menjadi tidak bergairah. Padahal anak-anak menanti, merindukan sosok-sosok guru yang inspiratif. Kalo guru-nya loyo tak kreatif, apa jadinya nasib pendidikan negeri ini. Betul gak?

Mau gak mau, bisa gak bisa, saya harus mencoba melakukan yang terbaik yang saya bisa, seperti kutipan khusus saya :

"I just wanna do the best I can for this life."

~Wenny Pangestuti~




Saya coba mempelajari materinya, merangkum, mengangankan apa dan bagaimana cara saya menyampaikan. Sip. Bismillah. InsyaAllah saya bisa.

Pada hari-H, alhamdulillah ketakutan yang pernah saya rasakan terpental begitu saya. Saya bisa. Semua terasa lancar, mudah, bahkan tak terasa sudah terlalui begitu saja. Tuh kan ternyata saya bisa. Allah tak membebani hambanya di luar batas kemampuannya. Benar. Persepsi kita lah yang sering menilai kita tak bisa, lemah. Namun, sebenarnya bila ada kemauan, niat, insyaAllah mampu.

Coba saja!


Saturday, August 20, 2016
6:11 PM


~Wenny Pangestuti~


Sumber Foto : wix.com

August 20, 2016

Jangan Sampai


Segala puji bagi Allah. Dengan adanya smartphone setidaknya komunikasi dan sila-ukhuwah dengan teman-teman bisa lebih lancar dan baik. Senang saja bisa bertemu dengan orang-orang yang cukup lama tak kutemui. Ada kerinduan di sana.

Hanya saja, aku harus berhati-hati. Agar keberadaan smartphone tak melalaikan dari banyak hal yang lebih urgen, salah satunya mengingat Allah. Jangan sampai gara-gara smartphone mengabaikan ibadah kepada Allah. Na’udzubillahi min dzalik!

Aku takut apa yang manusia pandang baik ternyata tidak baik di hadapan Allah. Aku takut kalau aku terlena pada sesuatu yang aku anggap baik, tetapi tidak baik di hadapan Allah. Jangan sampai kita mati dalam kesia-sia-an atau banyak mengantongi amal yang sia-sia. Na’udzubillahi min dzalik!

Ingat mati. Hidup di dunia ini hanyalah sementara. Kita tidak tahu kapan kita mati, kapan ajal menjemput. Bisa jadi kan sebentar lagi. Dan kita tidak tahu. Bagaimana bila tahu-tahu kita udah mati dan ternyata itu saat melakukan amal yang sia-sia. Na’udzubillahi min dzalik!

Hidup ini adalah amanah. Bagaimana kita menjaga dan menjalankannya sebaik-baiknya. Jangan sampai sesal yang begitu sesal datang menghampiri ketika kita sudah tak mampu lagi untuk merubah atau mengusahakannya.

Semoga kita dikaruniai usia yang berkah.

Semoga kita dimatikan dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.


~Wenny Pangestuti~


Sumber Foto : Google

August 11, 2016

Deep Inside of My Heart


Jika ditanya apakah aku bahagia dengan profesiku sekarang? Ya, aku jawab bahagia. Aku bersyukur punya pekerjaan, punya penghasilan sendiri. Namun, tak dipungkiri bahwa adakalanya aku mengeluh. Keletihan bekerja membuatku berpikir, aku masih single seperti ini merasa payah menjadi wanita bekerja di luar rumah, lalu bagaimana jika kelak aku sudah berumah tangga?

Jujur-jujur saja, dari dulu –sma- aku pengennya jadi ibu rumah tangga tulen alias ibu rumah tangga saja tanpa bekerja di luar rumah. Aku tahu bahwa pilihan ini mungkin akan berat mengingat aku kuliah, lalu mau diapakan pendidikan tingginya kalo hanya jadi ibu rumahan saja? Sebenarnya tidak ada rugi-ruginya, toh ilmu dan pengalaman yang kudapatkan selama jadi anak kuliah tetap akan ada manfaatnya nanti saat aku menjadi ibu. Contoh, aku bisa jadi guru les buat anakku sendiri. Ya kan?

Sebenarnya jadi ibu rumahan saja gak rendah-rendah amat. Justru aku senang-senang aja punya tugas mencuci, membersihkan rumah, memasak, mengurus anak dan suami, mendidik anak, dan tugas rumahan lain. Bagiku, tugas ibu yang kelihatannya remeh temeh, berat juga lho alias gak mudah. Jadi, aku bayangin apa jadinya bila tugas tersebut dibagi waktu, tenaga, dan pikiran dengan tugas bekerja di luar rumah. Jujur, aku tak begitu multi-tasking,  walaupun ada banyak ibu di luar sana yang mampu membuktikan bahwa mereka bisa melakukannya dengan baik. Tapi, ini pilihanku di balik pertimbangan-pertimbangan pribadiku.

Sebenarnya maksudku tidak membela ibu rumahan di atas ibu berkarir di luar rumah. Karena menurutku, semuanya itu tergantung pilihan masing-masing individu dengan pertimbangannya masing-masing. Jadi, tidak ada maksud men-judge siapapun di sini. Yang berhak menentukan kita sendiri mana pilihan yang terbaik untuk diri kita sendiri. Dan aku cenderung memilih ingin menjadi ibu rumahan.

Lalu, bagaimana dengan profesi guru sekarang ini? Jujur, aku senang sekali mengajar. Senang. Apalagi bertemu dan mengenal anak-anak. Aku senang. Satu-satunya alasan terberat untuk melepas pekerjaan ini nantinya adalah anak-anak. Ya, anak-anak. Aku senang mengenal mereka, berusaha memahami mereka, mengamati keunikan mereka, bercanda dan dicandai dengan mereka. Senang.

Aku juga tertantang mengenalkan, mengajarkan, dan memahamkan anak-anak pada matematika dengan mudah dan menyenangkan. Karena selama ini, mayoritas anak jika ditanya suka tidaknya, sulit tidaknya dengan pelajaran matematika, mereka menjawab tidak suka dan sulit. Ini terkesan sebagai PR buatku sebagai guru matematika.

Banyak hal yang kutemui. Salah satunya, ada sebenarnya anak itu punya kecerdasan matematika, tetapi terjebak dalam suasana belajar mengajar yang tidak nyaman. Ada yang memang kecerdasan matematikanya tidak begitu menonjol, tapi berusaha untuk menyukai. Ada juga yang bikin terheran-heran sekaligus senang pada mereka yang suka dan antusias jika pelajaran matematika. Yang semua itu membutuhkan penyikapan, penanganan, dan pendekatan yang berbeda. Itulah mengapa, kadang aku juga terbesit sesuatu yang sebenarnya itu juga menjadi impianku, tetapi tidak masuk prioritas utama. Bahwa aku masih punya keinginan dan harapan untuk kuliah lagi, untuk belajar lagi di universitas impianku, yaitu Universitas Gadja Mada (UGM) Yogyakarta dengan jurusan Magister Psikologi Pendidikan. Aku ingin lebih memahami korelasi ilmu psikologi dengan pendidikan, khususnya dalam mendukung pembelajaran matematika. Aku benar-benar ingin punya kesempatan tinggal di Yogyakarta.

Entahlah!

Kata ibuku, jangan terlalu mikirin ke depannya bagaimana. Sekarang ya sekarang, dijalani saja dulu. Nanti ya nanti. Benar juga sih. Mungkin aku terlalu gelisah dengan masa depan dan kurang menikamati esensi masa sekarang. Tetapi, inilah ungkapan dari lubuk hatiku yang paling dalam.


~Wenny Pangestuti~


Sumber foto : wp.com

July 16, 2016

Doaku di Malam Hari

www.iman.ge

Ya..  Allah, Yang Maha Mendengar..
Siapakah sahabat terbaik bagi hamba-Mu ini?
Yang hamba bisa mencurahkan buncah dalam dada ini
mencurahkan suka duka dari perjalanan hari ini
menjadi pelipur lara

Ya.. Allah, Engkau sesungguhnya sahabat sejati
yang selalu ada bagi hamba-hamba-Mu
senantiasa Mendengar
senantiasa Menolong

Ya.. Allah
Dengarkan lara ini
dari jiwa yang lemah ini
yang bimbang dan gontai mengarungi badai kehidupan
misteri kehidupan

Mata ini
sungguh tak sudi untuk terlelap masih
dalam kemelut yang belum terkuak
dalam bimbang yang tak pasti

Ya Allah..
Mohon pertolongan-Mu
Mohon petunjuk-Mu
Lepaskan rasa resah, gelisah ini
Hempaskanlah kemelut ini
dalam balutan cahaya petunjuk-Mu, ya Allah..
Mohon pertolongan-Mu
Aamiin yaa Rabb..


~Wenny Pangestuti~

*Ditulis 25 November 2012
21.35 WIB

June 27, 2016

Perjalanan Suatu Hari dengan KA Pandanwangi

from Google

me:                 Assalamu’alaikum..
pak, bu, q bsk mau
pulkam ya k bwi..?
27-Okt-2014 17:24:39

ibu:                ya ko nk ws budal
smso
27-Okt-2014 18:26:15

me:                 Pak, bu, bsk insya
Allah q naik kreta
pagi brgkt 5.10.
27-Okt-2014 18:57:38

bapak:          Ok yg penting klo
hmpir sampai St. T
guruh beri kbar.
27-Okt-2014 19:40:30

Aku tidak tahu harus berkata apa. Mungkin ini terlihat sederhana, tetapi keduanya sering membuatku menangis. Menangis karena cinta. Karena aku belum dapat menjadi siapa-siapa selain seperti sekarang.

28/10/2014, 23:22 WIB

***

Pukul 05.10an aku melaju dengan Kereta Api Pandanwangi. Ini pengalaman pertamaku naik kereta api di pagi hari dari Jember menuju Banyuwangi. Biasanya aku memilih jadwal keberangkatan sore sekitar pukul 14.45. Perjalanan pagi ini diiringi dengan sinar mentari yang kejingga-jinggaan. Embun pagi melatari atmosfir alam. Semuanya terlihat teduh dari balik jendela kereta api ini.

Diawali dari keberangkatanku tadi dari tempat kos yang berlokasi di Jalan Jawa VI pada pukul 04.33 WIB dengan berjalan kaki. Langit masih bersuasana temaram. Udara dingin, namun segar yang bersahabat. Jalan-jalan masih lengang. Satu dua tiga sepeda motor berkeliaran. Ada pedagang yang bersiap memulai aktivitas mencari nafkahnya. It was interesting. I never knew this experience and condition. I enjoyed my challenge just now. Walaupun tas di punggung lumayan berbobot, itu tak menjadi masalah. Alhamdulillah, aku diberi kesehatan dan kekuatan fisik.

Dengan kecepatan yang sudah kuatur sedemikian rupa, -tidak terlalu lambat, juga tidak terlalu cepat, alias sedang-, aku berhasil sampai di Stasiun Jember sekitar pukul 05.00. Alhamdulillah sekaligus fiuhh lega! Akhirnya, aku telah sampai tepat pada waktunya. Lumayan, kurang lebih 30 menit menyusuri Jalan Jawa, Jalan Bengawan Solo yang berputar-putar dan menanjak.

Kereta pagi ini cukup lengang. Aku duduk sendiri di areaku. Baru saja sudah melalui Stasiun Kalisat. Sebelumnya, ada sedikit keributan oleh para petugas kereta api, yang merusak kedamaian pagi ini dengan sumpah serapah.

Naik kereta api memang tak tergantikan suasananya. I’m enjoying.

05.40 WIB, tempat duduk K3 7D KA Pandanwangi

***

Kereta api bersiap melaju dari Stasiun Kalibaru. Baru beberapa menit yang lalu aku menyantap sarapanku. Nasi Pecel Garahan. Setelah beberapa kali naik kereta api rute Jember-Banyuwangi, akhirnya aku beli juga Nasi Pecel Garahan. Tadi aku turun dari kereta. Alhamdulillah, dengan uang Rp5000 aku mendapat satu bungkus Nasi Pecel Garahan dan satu bungkus peyek.

Menu Nasi Pecel Garahan sebenarnya sederhana. Satu pincuk nasi, satu buntelan plastik sayur genjer dan manisa, satu buntelan plastik bumbu pecel dan dua buah kerupuk. Just them! Tidak ada lauk tempe atau tahunya. Semua itu dihargai Rp3000,-. Sedangkan peyeknya Rp2000,-.

Dan aku masih sendiri di areaku. Aku cukup menikmati. Ini perjalanan naik kereta api yang lain daripada sebelumnya.

05.47 WIB, tempat duduk K3 7D KA Pandanwangi

***

me:                 Pak, kretanya wis
nympe stasiun
glenmore..
28-Okt-2014 06:55:45

bapak:          Ok bpk brngkat
skrng.
28-Okt-2014 06:57:10

Matahari telah membumbung tinggi, mulai menawarkan terik dan silaunya, menembus jendela kereta api ini. Itu kondisi sebelum sampai di Stasiun Glenmore. Namun, setibanya di Stasiun Glenmore langit dengan awan agak mendung membayang.

Tinggal satu, dua, tiga stasiun aku akan sampai. Dan aku masih sendiri di areaku berada. Baru saja petugas karcis bertugas, memeriksa kesahihan karcis penumpang. Ternyata petugasnya adalah bapak yang kuduga tadi bersumpah serapah.

07:04 WIB, tempat duduk K3 7D KA Pandanwangi

***

Sekitar 07.30an lah aku tiba di Stasiun Temuguruh, tujuan pemberhentianku. Kedatangan ini sebenarnya berjalan terlambat. Sebab, kereta api yang kunaiki berhenti cukup lama di Staisun Kalistail untuk menunggu tibanya kereta api dari arah yang berlawanan. Alhasil, bapak sepertinya juga menunggu sekian menit kedatanganku. Itulah mengapa sesampainya aku di Stasiun Temuguruh tak kudapati sosok bapak dan sepeda motornya. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, setiap aku tiba, bapak sudah siap sedia ada di sana untuk menjemputku.

Tak berapa lama menunggu, ternyata bapak muncul. Bapak tadi beranjak ke suatu tempat setelah menungguku lama belum tiba-tiba. Begitulah ceritanya.

Oh iya sedari tadi aku menuliskan tempat duduk 7D. Apakah ini nomor tempat dudukku? Bukan. Sebenarnya nomor tempat dudukku 7E. Tapi lantaran tempat areaku tak bertuan, maka aku menggeser dudukku di 7D yang bersebelahan dengan jendela.

Inilah sepenggal kisah perjalananku naik kereta Pandanwangi di pagi hari.

09:55, kamar depan rumah Banyuwangi

***

Setelah 5 hari 5 malam berada di rumah Banyuwangi, mulai hari Selasa, akhirnya hari Ahad, 2 November 2014 aku beranjak kembali ke Jember. Tentu saja masih dengan alat transportasi yang sama, yaitu Kereta Api Pandanwangi.

Aku mulai berangkat dari rumah pukul 10.00an, diantar oleh bapak naik sepeda motor. Sampai di Stasiun Temuguruh sekitar pukul 10.30an. Selama perjalanan menuju ke stasiun, bapak menjelaskan keberadaan fasilitas pendidikan di Kecamatan Songgon, Desa Sragi. Bapak juga menjelaskan batas-batas desa di sekitar sana. Bapak ibarat pemandu perjalanan yang menjelaskan ini dan itu dan aku menjadi pendengar setia yang baik.

Di stasiun, sembari menunggu pemeriksaan karcis dan datangnya kereta, bapak mengajakku ke warung, membelikan minuman dan makanan ringan. Aku hanya membeli satu botol ukuran sedang air mineral Aqua dan satu bungkus roti. Aku tidak ingin merepotkan bapak terlalu. Di menit-menit terakhir keberangkatan, bapak tak luput memberikan petuah-petuahnya kepadaku.

Pukul 11.00an Kereta Api Pandanwangi tiba di Stasun Temuguruh. Semua penumpang yang telah menunggu bergegas naik ke atasnya. Lagi-lagi aku mendapat tempat duduk di Gerbong 3. Ternyata Gerbong 3 cukup padat. Beberapa penumpang tidak mendapatkan nomor tempat duduk. Setelah semua penumpang telah naik, kereta tak kunjung berangkat dalam waktu yang cukup lama. Kulihat bapak masih setia menanti di stasiun, menunggu keberangkatan keretaku. Bapak memang selalu seperti itu, tidak akan beranjak meninggalkan stasiun sampai kereta yang kutumpangi berangkat.

Ternyata Kereta Api Pandanwangi tak kunjung berangkat karena masih menunggu kedatangan Kereta Api Probowangi dari arah berlawanan. Ketika Kereta Api Pandanwangi mulai berangkat, kulihat ke arah stasiun, tetapi tidak bisa karena terhalang badan  Kereta Api Probowangi. Aku tidak bisa melihat bapak yang masih ada di stasiun. Sedih.

03/11/2014, 06:09 WIB, kamar kos Jalan Jawa VI


~Wenny Pangestuti~

June 26, 2016

Naik Kereta Api Tuut..Tuut..Tuut..!

Ini adalah tulisan sekitar dua tahun silam, yang sebelumnya tersimpan rapi di draft blog.

from Google
Ini adalah kedua kalinya aku naik Kereta Api Pandanwangi untuk rute keberangkatan dari Jember menuju Banyuwangi setelah adanya pembaruan sistem pelayanan Kereta Api Indonesia. Terus terang, aku cukup senang dengan sistem pelayanan kereta api sekarang. Sebab, kita dapat melakukan pemesanan tiket jauh-jauh hari sehingga kita bisa memastikan mendapat tidaknya nomor tempat duduk selama perjalanan. Berbeda dengan sistem terdahulu, kita membeli tiket beberapa menit sebelum keberangkatan sehingga tidak ada jaminan untuk mendapatkan tempat duduk apalagi bila jumlah penumpangnya membludak.

Lebih lanjut, dengan sistem pelayanan kereta api yang baru, naik kereta api lebih tenang dan nyaman selama perjalanan. Karena semua penumpang mendapat tempat duduknya sendiri, sehingga tidak akan dijumpai pemandangan berdesak-desakan seperti yang masih terjadi pada transportasi bus.

Di sisi lain, tetap terasa ada yang kurang bila dibandingkan dengan sistem lama. Dengan sistem yang baru ini, tak lagi dijumpai berlalu-lalangnya pedagang asongan di dalam kereta, begitu pula para pengamen sehingga suasana di dalam kereta lebih hening. Kesiapan penumpang sendirilah untuk membawa camilan dari rumah karena selama di dalam kereta tak akan ada makanan yang bisa dibeli. Padahal sensasi naik kereta api selama ini bagiku adalah ada beragamnya pedagang asongan yang menjajakan dagangannya. Dari sini muncul pertanyaan pada diri saya sendiri, “Kemana ya sekarang nasib para pedagang asongan tersebut?” Kehilangan.

Sensasi lain yang hilang adalah keberadaan pedagang Nasi Pecel Garahan di Stasiun Garahan. Jika kita naik kereta api rute Jember-Banyuwangi kita akan melalui Stasiun Garahan. Garahan terkenal dengan kuliner nasi pecelnya yang pedas. Pada sistem yang lama, para penumpang akan berame-rame merapat ke arah jendela atau pintu gerbong ketika kereta hampir mendekati Stasiun Garahan. Mereka rame-rame membeli Nasi Pecel Garahan yang dijual para ibu yang telah stand by di stasiun tersebut dengan tampah-tampah yang telah berisi sejumlah pincuk Nasi Pecel Garahan. Dulu dengan Rp2000,- kita sudah mendapat satu pincuk nasi, tapi sekarang sepertinya sudah naik harganya. Isinya sederhana sebenarnya. Sayuran, lauk tempe, nasi, kerupuk, dan taburan bumbu pecelnya. Yang istimewa dari Nasi Pecel Garahan adalah bumbunya yang pedas. Lebih istimewa lagi kalau makannya di dalam kereta. :) 

Namun, dengan sistem yang baru sekarang ini, ibu-ibu penjual nasi pecel tidak boleh berdiri di sekitar rel sehingga bagi para penumpang yang ingin membeli nasi pecel tersebut harus turun dari kereta. Sudah kedua kalinya naik kereta api dengan sistem pelayanan baru, dua kali itu pulalah aku tidak membeli Nasi Pecel Garahan seperti biasanya. Pertama, karena aku naik kereta api sendiri tanpa partner, aku malas mau beranjak untuk turun dari kereta. Kedua, karena aku naik kereta kali ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Masak iya aku mau beli dan makan Nasi Pecel Garahan saat itu juga. He aku kan puasa. :) 

Hal lain yang membuatku senang naik kereta api dua kali ini adalah aku berangkat awal dari Stasiun Jember. Sebelum-sebelumnya saat bapak belum pensiun dan keluarga kami masih tinggal di Tanggul, aku biasa naik kereta dengan transit awal atau akhir Stasiun Temuguruh dan Stasiun Tanggul. Namun, sekarang Stasiun Jember dan Stasiun Temuguruh. Aku terkesan dengan Stasiun Jember karena menurutku stasiun tersebut paling bagus dibandingkan stasiun-stasiun lainnya sepanjang rute Jember-Temuguruh. Selain itu, stasiun tersebut terasa teduh. Sebenarnya aku ingin memotret beberapa sudut bangunan stasiun tersebut. Tetapi apalah daya aku tidak punya kamera ataupun HP yang dilengkapi kamera. Sebenarnya sudah dua kali aku mencoba meminjam kamera milik teman ketika akan melakukan perjalanan naik kereta api, tetapi selalu tidak dapat pinjaman. Tidak apalah. Barangkali lain kali nanti bisa.

Inilah sepenggal cerita tentang aku, perjalananku, dan kesanku akan kereta api dengan sistem pelayanan barunya. :)


~Wenny Pangestuti~
16.30 WIB
di dalam kereta api
yang sedang transit
di Stasiun Glenmore 
29/06/2014

June 22, 2016

Ketika Aku Punya Alasan Untuk …

wallpaperswide.com
Ketika aku punya alasan untuk marah
tetapi aku memilih untuk bersabar
ternyata itu lebih baik bagiku
karena terkadang atau seringkali, marahku
sebagai pembenaran emosionalku,
pembenaran kesensitifanku,
pelampiasan dendamku,
pembungkus kelemahanku,
dan kepengecutan dari kebijaksanaan
yang tak kumiliki

Terkadang atau seringkali dengan bersabar itu
hatiku sedikit lebih lapang,
bibirku lebih berani untuk tersenyum apa adanya,
mata hatiku terbuka melihat kebenaran/ kebaikan yang tersembunyi,
menyayangi lebih tulus

Ketika aku punya alasan untuk banyak bicara
tetapi aku memilih untuk diam mengalah
ternyata itu lebih baik bagiku
karena terkadang atau seringkali, keinginanku untuk bicara
hanya untuk menunjukkan betapa cerdasnya aku,
betapa fasihnya aku,
pengakuan kepercayaan,
dan kepengecutan dari kesalahan
yang tak mau kuakui

Terkadang atau seringkali dengan diam mengalah itu,
aku bisa melihat kesalahan lebih bijaksana,
aku bisa menemukan kebaikan yang tak tersuarakan, tapi tersimpulkan
dari aku mendengar

“ Belajar DIAM dari banyak BICARA
Belajar SABAR dari sebuah keMARAHan ”
(Merry Riana)


~Wenny Pangestuti~