![]() |
Sejak
bulan Juli 2014 lalu Indonesia dihangatkan oleh pemberitaan mengenai Islamic
State of Iraq dan Syam (ISIS). Dalam pemberitaan yang ada, ISIS disebut-sebut
telah memproklamirkan berdirinya Khilafah Islamiyah di sebagian wilayah Iraq
dan Suriah. Tidak hanya itu, beredar video yang berisi ajakan kepada kaum
Muslim di Indonesia –yang notabene mayoritas Muslim- untuk berbaiat kepada Abu
Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS tersebut.
Tentu
saja pemberitaan ini memicu reaksi yang beragam dari berbagai kalangan. Ada
yang kontra dan ada pula yang pro. Sejauh ini dalam pemberitaan yang ada,
banyak pihak yang kontra dan memberi alarm waspada kepada Muslim Indonesia
untuk berhati-hati terhadap fenomena ISIS ini. Salah satunya, sikap yang
dikeluarkan oleh pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam surat
edaran Menteri Dalam Negeri tanggal 7 Agustus 2014, yang isinya meminta kepada
seluruh kepala daerah agar mencegah merebaknya pengaruh ISIS di Indonesia.
Nah,
lebih lanjut dalam pembahasan ini, saya tidak bermaksud akan mengulas ISIS
lebih jauh mengenai siapa, apa, dan bagaimana sejarah ISIS tersebut. Namun, ada
potret penting yang saya tarik di balik merebaknya isu ISIS ini, yaitu mengenai
respon sebagian kalangan umat Islam mengenai isu ISIS ini, khususnya para
ulama, tokoh Islam, organisasi Islam dan para aktivis dakwahnya.
Di
tengah resahnya masyarakat Indonesia tentang beredarnya isu ISIS ini, bagaimana
mereka harus merespon dan menyikapinya. Pasalnya, poin tentang khilafah adalah
ada dalam khazanah Islam, seperti dalam sirah Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam. Sejarah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hijrahnya
bersama kaum Muslim dari Mekkah ke Madinah adalah bagian dari perjuangan beliau
mendirikan tonggak pertama Daulah Islam (baca: Negara Islam). Beliau berperan
tidak hanya sebagai nabi yang meluruskan aqidah umat manusia dengan Islam,
namun juga sebagai kepala negara (khalifah) yang melayani urusan umat dalam
segala aspek kehidupan dengan syariat Islam. Yang dalam kelanjutannya pasca Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, kekhalifahan ini dilanjutkan oleh Khulafaur
Rasyidin (Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, Khalifah Umar bin al-Khatab, Khalifah ‘Utsman
bin Afan, dan Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib) lalu dinasti kekhalifahan (Umayyah,
Abassiyah, Utsmaniyah). Bila dihitung masa usianya, kekhilafahan saat itu mampu
bertahan kokoh menjadi mercusuar peradaban selama sekitar 13 abad atau 1300
tahun lamanya. Selain itu, kabar tentang khilafah ini juga tertuang dalam
hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan Ahmad sebagai
berikut.
“Di tengah kalian berlangsung masa kenabian. Masa
itu ada selama Allah menghendaki. Lalu, Allah mencabutnya, jika Ia telah
berkehendak mencabutnya. Kemudian akan ada masa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.
Masa itu ada selama Allah menghendaki. Lalu, Allah mencabutnya, jika Allah
telah berkehendak mencabutnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang menggigit/
zhalim. Masa itu ada selama Allah menghendaki. Lalu, Allah mencabut masa itu
jika Ia telah berkehendak untuk mencabutnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan
pemaksa/ diktator. Masa itu ada selama Allah menghendaki. Lalu, Allah mencabut
masa itu jika Ia telah berkehendak mencabutnya. Kemudian akan ada masa khilafah
‘ala minhajin nubuwwah, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam diam.”
HR.
Ahmad dalam musnadnya
Jadi,
sebenarnya dari konteks ide kekhilafahannya tidak bertentangan dengan khazanah
Islam. Yang menjadi masalahnya adalah keberadaan ISIS yang memproklamirkannya,
yang keadaannya sering diwarnai dengan jalan kekerasan, pemaksaan kehendak,
bahkan pembunuhan secara sadis. Lebih dari itu, keberadaan khilafah yang
diproklamirkan ISIS terjadi di saat perang berlangsung dan wilayah yang tidak
menjamin keamanan rakyatnya. Bahkan sikap ISIS atas agresi Israel terhadap
penduduk Gaza juga menyisakan tanda tanya, tidak terlihat komitmen ISIS membela
Palestina, yang tidak korelatif dengan eksistensi dan kapasitas ISIS sebagai
Negara Islam.
Hangatnya
perbincangan soal ISIS di Indonesia membuat sejumlah ormas Islam dan sejumlah
ulama berkumpul, bertemu, dan mendiskusikan fenomena ini untuk bisa menelurkan
pernyataan sikap bersama supaya langkah yang akan diambil satu padu. Salah
satunya, pada 8 Agustus 2014 lalu Majelis Ulama Intelektual dan Ulama Muda
Indonesia (MIUMI) menggelar pertemuan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang
dihadiri sejumlah utusan dari ormas-ormas Islam, tokoh masyarakat, juga putra
Abu Bakar Ba’asyir, Abdurochim Ba’asyir, serta Abu Rusyan, ideolog dan
pemerhati gerakan jihad. Tidak hanya itu, Bachtiar Nasir, Sekretaris Jenderal
MIUMI dan sejumlah ulama muda MIUMI bertandang ke Malaysia serta berkumpul
dengan ulama-ulama lain se-Asia Tenggara pada awal Agustus lalu guna
membicarakan tentang ISIS ini.
Dari
sini, saya bersyukur dengan keberadaan para ulama, tokoh Islam, ormas Islam dan
para aktivis dakwahnya yang peduli terhadap kondisi kaum Muslim. Bukan hanya
saya seharusnya, tetapi kita semua umat Islam seharusnya bersyukur
dan termotivasi dengan masih adanya ulama-ulama yang peduli pada
nasib umat Islam, pada kemurnian penerapan syariat Islam.Mengapa bersyukur dan
termotivasi?
Ya,
bersyukur karena di tengah carut marut problematika sekarang
ini, masih ada orang-orang yang tidak diam saja, tetapi kritis bergerak
membela, menyuarakan kebenaran tanpa lelah, putus asa dan pamrih. Ulama.
Aktivis dakwah Islam. Bayangkan saja bila Bumi ini dehidrasi dari keberadaan
sosok demikian, maka mungkin peradaban manusia tetap ada dan mungkin tetap dan
bisa semakin menjulang, namun rendah nilai harkat dan martabat manusianya
karena mungkin tak lagi mengenal batasan-batasan antara hak dan batil, halal
dan haram. Maka, alhamdulillah masih adanya ulama-ulama dan aktivis dakwah Islam yang istiqomah membasahi Bumi ini dengan kalimatul haq, Lailahaillallah Muhammadurrasulullah.
Termotivasi artinya, meskipun kita bersyukur karena masih
adanya ulama-ulama dan aktivis dakwah Islam, tidak berarti kita cukup aman-aman
saja, atau berdiam diri, memasrahkan diri, menyandarkan diri terhadap
keberadaan mereka semata. Justru ini seharusnya dapat memotivasi kita betapa
pentingnya mencari, mempelajari, memahami dan memelihara tsaqafah Islam demi
keberlangsungan peradaban manusia yang tidak hanya maju teknologi, tetapi mulia
dan beradab. Tentu cukup memprihatinkan bila dalam mengetahui syari’at Islam,
umat Islam cukup mengandalkan pada bertanya kepada ustadz, ulama, atau kyai. “Apa hukumnya ini?” “Apa hukumnya itu?” Namun, tidak terlihat upaya sadar untuk
memahami lebih dalam dengan rutin mengkaji tsaqafah Islam sebagai wujud
tanggung jawab diri untuk senantiasa terikat pada syari’at Allah, baik itu
melalui buku, menghadiri kajian-kajian keislaman, atau berguru secara intensif
pada ustadz, ustadzah, atau ulama.
Terkait
isu ISIS ini, agar kita tidak ikut arus ‘perpecahan’, hendaknya kita, umat
Islam tidak latah bagitu saja dengan mendukung atau membenci secara membabi
buta apalagi menjadi mudah phobia atau mudah melabelisasi negatif para aktivis
dakwah islam penegak syariat dimana pun berada. “Membiasakan
dirilah bersikap mengenal, memahami, baru menilai”. Semoga ini dapat menjadi inspirasi kita untuk
sekiranya mengisi hidup dengan rasa syukur dan senantiasa termotivasi dalam
spirit kebaikan dan kebenaran.
~Wenny
Pangestuti~
Jember, 17 Oktober
2014
05:50 WIB
Sumber:
- Majalah Suara Hidayatullah Edisi 5 | XXVII | September 2014 |Dzulqa’idah 1435
- Majalah Wanita Ummi No. 9 | XXVI | September 2014 | 1435H
No comments :
Post a Comment