April 25, 2018

Sepenggal Hikmah dari Mengawasi UAN-BK


Kemarin saya berkesempatan menjadi pengawas Ujian Akhir Nasional Berbasis Komputer atau yang biasa disingkat dengan UAN-BK. Saya bertugas di MTS Negeri 8 Banyuwangi yang berlokasi di Kecamatan Genteng. Tepat pada Selasa kemarin mata pelajaran atau mapel yang diujikan adalah Matematika, sesuai dengan bidang studi yang saya ampu.

Dari mandat yang diberikan, saya harus mengawasi ujian selama 3 sesi dengan rincian waktu sebagai berikut.
  •   Sesi 1 pukul 07.30 – 09.30
  •   Sesi 2 pukul 10.30 – 12.30
  •   Sesi 3 pukul 14.00 – 16.00
Jadi, bisa dibayangkan mengawasai ujian dari pukul 07.30 sampai pukul 16.00 betapa membosankan, letih, dan mengantuk. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini sudah tugas, mau tidak mau harus diikuti dan dilaksanakan.

Saat berkeliling mengawasi para siswa, saya melihat tampilan layar monitor komputer mereka. Rasanya saya ‘gatal’ ingin ikut mengerjakan juga. Pikir saya, kalau saya yang menjadi siswanya, saya akan semangat mengikuti UAN-BK ini. Dibandingkan UAN jaman saya SMP yang masih berbasis manual, mengandalkan kertas dan pensil.

Kemudahan teknologi zaman sekarang seharusnya disyukuri siswa zaman now. Mereka mendapat kemudahan dalam mengakses ilmu. Berbeda saat zaman saya yang untuk mengakses internet harus pergi ke warnet dulu dengan tarif rata-rata Rp 3.000/ jam. Selain itu, untuk pelajaran komputer, rasanya untung-untungan kalau bisa mengoperasikan komputer sendiri. Karena faktanya, saya lebih sering memakai komputer secara bersamaan. Rata-rata satu komputer dipakai 2-4 orang siswa sehingga kepuasan belajar teknologi menjadi kurang. 

Itu sebabnya, sekarang ketika saya menjadi guru dan masih berkecimpung di lingkungan sekolah, saya merasa miris, sedih, sekaligus marah melihat fenomena siswa yang malas-malasan dalam belajar. Mereka kurang menghargai kemudahan dalam menimba ilmu di era moderen ini. Mereka larut dalam zona santai dengan memanfaatkan teknologi hanya sebagai hiburan atau having fun semata. Sungguh ironi sekaligus mengundang emosi.

Dalam beberapa kesempatan saya terkadang mengingatkan mereka di kelas. Saya meminta mereka untuk lebih baik banyak-banyak membaca buku daripada bermain gadget. Saya menyarankan mereka membaca buku-buku biografi tokoh-tokoh muslim terdahulu tentang bagaimana adab dan karakter mereka dalam belajar atau memperlakukan ilmu. Agar dari kegiatan tersebut, mereka dapat meneladaninya dan mempunyai semangat dalam belajar serta memiliki cita-cita yang dicapai. Karena usia muda adalah usia yang berharga untuk mereka manfaatkan sebaik-baiknya dalam menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Jangan sampai mereka menyesal karena terlalu banyak melewatkan masa muda dengan kesia-siaan. Kelak, masa muda akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alllah Subhanallahu ta’ala, untuk apa saja mereka pergunakan atau isi.

Sungguh dunia kian berubah. Hal yang tadinya sulit kian dipermudah, termasuk dalam mengakses dan mempelajari ilmu. Maka, mari kita bijak memanfaatkan kemudahan teknologi ini untuk belajar dengan sungguh-sungguh.


~Wenny Pangestuti~

No comments :