May 01, 2018

Arti Penting Kata Pengantar Buatku


Dalam membaca sebuah buku, menurut saya penting sekali untuk membaca kata pengantarnya terlebih dahulu apalagi bila buku-buku tersebut tebal sejenis fikih. Dengan membaca kata pengantar, saya bisa memperoleh gambaran umum isi buku tersebut dan cara penulis menjabarkan dan mengalurkan pendapatnya hingga mencapai titik kesimpulan. Karena saya pikir bahwa setiap penulis memiliki ciri khas tersendiri dalam menulis, menjabarkan, dan mencapai kesimpulan yang hendak disampaikan kepada pembacanya. Di sinilah (red: kata pengantar) saya bisa mengenal ciri khas penulis tersebut.

Buku-buku tebal seperti buku fikih akan terkesan membosankan bila dibaca berlama-lama atau sekedar mengisi waktu. Apalagi di dalamnya banyak dipaparkan sejumlah dalil-dalil berupa hadits dari berbagai sumber. Mungkin bagi kita yang ingin segera tahu kesimpulannya akan tidak sabar membaca itu semua hingga tuntas, bahkan mungkin akan bingung sebenarnya mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu, dengan membaca penjelasan dan cara penulis memaparkan dalil-dalil hingga mencapai kesimpulan pada halaman kata pengantar membuat kita sedikitnya mengetahui secara awal karakter isi buku tersebut; sadar diri akan konsekuensi membaca buku tersebut sehingga dapat mempertimbangkan pada saat bagaimana dan perlu mengaloksikan waktu berapa lama untuk meluangkan diri membaca buku tersebut atau bisa sekadar dibaca santai kapan pun dan dimana pun; serta dapat menggunakan buku tersebut sebagaimana mestinya.

Bagaimana menurut kamu?


~Wenny Pangestuti~

April 25, 2018

Sepenggal Hikmah dari Mengawasi UAN-BK


Kemarin saya berkesempatan menjadi pengawas Ujian Akhir Nasional Berbasis Komputer atau yang biasa disingkat dengan UAN-BK. Saya bertugas di MTS Negeri 8 Banyuwangi yang berlokasi di Kecamatan Genteng. Tepat pada Selasa kemarin mata pelajaran atau mapel yang diujikan adalah Matematika, sesuai dengan bidang studi yang saya ampu.

Dari mandat yang diberikan, saya harus mengawasi ujian selama 3 sesi dengan rincian waktu sebagai berikut.
  •   Sesi 1 pukul 07.30 – 09.30
  •   Sesi 2 pukul 10.30 – 12.30
  •   Sesi 3 pukul 14.00 – 16.00
Jadi, bisa dibayangkan mengawasai ujian dari pukul 07.30 sampai pukul 16.00 betapa membosankan, letih, dan mengantuk. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini sudah tugas, mau tidak mau harus diikuti dan dilaksanakan.

Saat berkeliling mengawasi para siswa, saya melihat tampilan layar monitor komputer mereka. Rasanya saya ‘gatal’ ingin ikut mengerjakan juga. Pikir saya, kalau saya yang menjadi siswanya, saya akan semangat mengikuti UAN-BK ini. Dibandingkan UAN jaman saya SMP yang masih berbasis manual, mengandalkan kertas dan pensil.

Kemudahan teknologi zaman sekarang seharusnya disyukuri siswa zaman now. Mereka mendapat kemudahan dalam mengakses ilmu. Berbeda saat zaman saya yang untuk mengakses internet harus pergi ke warnet dulu dengan tarif rata-rata Rp 3.000/ jam. Selain itu, untuk pelajaran komputer, rasanya untung-untungan kalau bisa mengoperasikan komputer sendiri. Karena faktanya, saya lebih sering memakai komputer secara bersamaan. Rata-rata satu komputer dipakai 2-4 orang siswa sehingga kepuasan belajar teknologi menjadi kurang. 

Itu sebabnya, sekarang ketika saya menjadi guru dan masih berkecimpung di lingkungan sekolah, saya merasa miris, sedih, sekaligus marah melihat fenomena siswa yang malas-malasan dalam belajar. Mereka kurang menghargai kemudahan dalam menimba ilmu di era moderen ini. Mereka larut dalam zona santai dengan memanfaatkan teknologi hanya sebagai hiburan atau having fun semata. Sungguh ironi sekaligus mengundang emosi.

Dalam beberapa kesempatan saya terkadang mengingatkan mereka di kelas. Saya meminta mereka untuk lebih baik banyak-banyak membaca buku daripada bermain gadget. Saya menyarankan mereka membaca buku-buku biografi tokoh-tokoh muslim terdahulu tentang bagaimana adab dan karakter mereka dalam belajar atau memperlakukan ilmu. Agar dari kegiatan tersebut, mereka dapat meneladaninya dan mempunyai semangat dalam belajar serta memiliki cita-cita yang dicapai. Karena usia muda adalah usia yang berharga untuk mereka manfaatkan sebaik-baiknya dalam menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Jangan sampai mereka menyesal karena terlalu banyak melewatkan masa muda dengan kesia-siaan. Kelak, masa muda akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alllah Subhanallahu ta’ala, untuk apa saja mereka pergunakan atau isi.

Sungguh dunia kian berubah. Hal yang tadinya sulit kian dipermudah, termasuk dalam mengakses dan mempelajari ilmu. Maka, mari kita bijak memanfaatkan kemudahan teknologi ini untuk belajar dengan sungguh-sungguh.


~Wenny Pangestuti~

February 03, 2018

“Patah Hati” yang Lain



Sebenarnya saya sedih. Tapi mau bagaimana lagi. Semua ini memang kesalahan saya sendiri.


Ceritanya, laptop saya mengalami masalah dengan baterainya. Ketika di-charging baterainya masih dan selalu menunjukkan 0% available (plugged in, charging) berapa pun lamanya. Ketika charger dilepas, laptop juga tak menyala. Ia akan menyala hanya jika di-charging. Sedih. Pengalaman pahit yang kedua kalinya setelah dulu pernah terjadi pada laptop adik saya.

Saya coba mengingat-ngingat kesalahan apa yang telah saya lakukan pada si laptop. Saya menduga terakhir kali menggunakan laptop dalam keadaan low battery. Saya matikan laptop karena ada kepentingan lain dan saat itu tak segera saya charging. Dan keadaan itu berlangsung agak lama. Saya tak menggunakan laptop dalam kurun waktu lama dan juga tak punya niatan segera men-charging laptop meskipun tidak memakainya. Jadi, mungkin perlakuan inilah yang membuat laptop saya benar-benar dalam keadaan baterai 0% dan tak berfungsi lagi untuk di-charging. Apesnya lagi, jenis baterai laptop saya ini adalah baterai tanam, yg tidak bisa dibongkar pasang seenaknya. Semakin sedihlah saya.


Ketika kita tak mampu merawat barang kita dengan baik, sakitnya tuh tak jauh berbeda dengan sakitnya patah hati.


Pertama mengetahui keadaan menyedihkan ini, saya benar-benar terluka. Ingin menangis tak mampu meneteskan air mata. Hanya penyesalan. Mengingat usia laptop ini dari pertama saya membelinya masih sekitar 2,5 tahun. Lagi, saya membelinya dengan uang gajian saya sendiri. Jujur, ini bisa dikatakan pertama kali saya membeli barang di atas 1 juta dengan uang sendiri. Benar-benar patah hati.

Rasanya setiap melihat laptop ini sekarang, hati saya sakit. Akhirnya, saya menaruhnya di dalam lemari agar tak sering terlihat oleh mata saya. Baru sekarang ini saat saya menggunakannya untuk mengetik tulisan ini saya membukanya kembali sambil menyediakan hati yang lapang, menerima akibat dari kelakuan saya. Melawan rasa sedih dan sakit itu. Mensyukuri hal yang masih bisa disyukuri bahwa laptop ini masih bisa digunakan walaupun sekarang bergantung pada charger. Tidak masalah. Boleh sedih, tapi tak berlarut-larut. Ku harus move on.

Saya gak terlalu paham dunia IT. Jadi, saya juga bingung apakah laptop ini masih ada harapan diperbaiki. Jika iya, bagaimana prosesnya. Saya terlalu pusing untuk mencari info lewat Google. Barangkali dari pembaca ada yang paham, bisa memberi saran, terima kasih. Sebagai info, merk laptop saya adalah Asus. Lebih detail wujud dan deskripsi produknya saya tampilkan dalam bentuk gambar. 






~Wenny Pangestuti~

July 23, 2017

Dahulu-Sekarang, Tanpa-Dengan Smartphone



Aku hanya ingin mengingat-ingat bahwa dahulu tanpa smartphone, hidupku tetap bisa bahagia, bahkan bisa dikatakan lebih baik.


Dahulu tanpa smartphone, ponselku hanya bisa digunakan untuk SMS dan telfon. Lebih dari itu, satu-satunya hiburan yang kusukai dari ponselku adalah radio, atau terkadang beberapa game sederhana di dalamnya. Itu saja bagiku sudah cukup saat itu. Aku masih tetap bahagia, bahkan lebih hemat, menggunakan pulsa cukup untuk SMS dan telfon sebagai sarana komunikasi. Kalaupun aku butuh mengakses internet, aku cukup pergi ke warnet seperlunya. Selesai.

Aku menghargai benar-benar kesederhanaan yang kumiliki saat itu. Tak perlu mengeluh. Buat apa merana ketika yang lain memiliki smartphone. Toh aku sadar diri, kondisi keuanganku belum memungkinkan untuk memiliki smartphone seperti yang lain saat itu. Buat apa aku harus memaksa diri untuk memilikinya segera. Toh kadar kebutuhanku belum begitu ada atau bahkan ekstrem untuk memilikinya segera. Ya walaupun kadang ada rasa ingin terhubung lebih mudah dengan teman-teman lama melalui aplikasi seperti Whatsapp atau BBM, tapi sudahlah. Tidak masalah. Masih bisa SMS Alhamdulillah, walaupun tak jarang responnya singkat dan datar. Tak apalah. Toh aku bisa merasakan betapa indahnya rasa rindu itu lalu tiba-tiba ada kesempatan tak terduga berkomunikasi setelah sekian lama tak terhubung, meski itu hanya dalam waktu singkat. Indah dan membahagiakan hati! Kesederhanaan yang membahagiakan.

Sekarang dengan smartphone, segalanya terasa mudah dengan hanya sentuhan jari. Smartphone ibarat jendela atau pintu penghubung menuju kemana saja kita inginkan; menyediakan apa saja yang ingin kita ketahui. Semuanya terasa mudah. Awal mulanya aku senang bisa bertemu kembali dengan teman lama, bisa chat sepuasnya tanpa takut pulsa habis; bisa leluasa mengakses social media kapan pun tanpa harus pergi ke warnet dulu; bisa browsing kapan pun dengan Google untuk mengusir rasa penasaranku pada suatu info; bisa memudahkanku untuk sekedar blogwalking lalu memberi komentar; bahkan sekarang memudahkan untuk posting tulisan di blog. Mudah dengan hanya tinggal duduk manis di rumah atau tempat tertentu. Sekaligus bisa memanjakan ketertarikanku pada photography dengan kamera smartphone yang mendukung. Benar-benar multi manfaat bagiku.

Tetapi…

Lambat laun, aku menyadari sesuatu. Di balik kemudahan ini, coba kita hitung berapa banyak yang benar-benar termasuk kepentingan atau kebutuhan dari sekedar keinginan atau having fun belaka? Ada perubahan yang benar-benar saya rasakan dalam diri saya dengan keberadaan smartphone. Mungkin lebih cenderung menurutku perubahan yang kurang baik. Cukup pertanyaan retoris ini mewakili semuanya bagiku dan bagi siapa pun tentang keberadaan smartphone dalam hidup kita,


 “Berapa banyak hal yang benar-benar termasuk kebutuhan dari sekedar having fun belaka?”



~Wenny Pangestuti~


Sumber gambar : random dari Google

June 21, 2017

Be Effective and Efficient with ASUS E202 Notebook


Di era sekarang nampaknya keberadaan komputer, laptop, notebook, atau sejenisnya bukanlah barang yang mewah lagi, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Beragam profesi atau status membutuhkan adanya laptop untuk menunjang aktivitas mereka.

Salah satu contohnya, mahasiswa. Dulu saat masuk kuliah pertama kali tahun 2009, saya amati tidak semua mahasiswa baru langsung mempunyai laptop. Paling beberapa semester kemudian satu per satu hingga hampir semua mahasiswa tersebut mempunyai laptop. Kalau saya, baru bisa pegang laptop sendiri sekitar memasuki tahun ke-4 kuliah. Itu pun bukan produk baru. Lungsuran dari adik saya, yang sudah lebih dulu dibelikan laptop karena sekolahnya kejuruan jurusan rangkaian perangkat lunak.

Zaman dulu kalau belum mempunyai laptop masih tidak masalah. Karena masih ada rental komputer atau warnet untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Atau, masih bisa juga meminjam laptop milik teman satu kos yang kebetulan sedang tidak dipakai. Tapi tidak enak juga ya kalau keseringan pinjam. Hehe.

Semuanya mulai terasa berubah ketika beberapa tahun kuliah, saya melihat adik-adik angkatan saya, saat mengawali menjadi mahasiswa baru mereka hampir semua sudah mempunyai laptop sendiri. Sepertinya para orang tua sudah mempunyai kesadaran akan kebutuhan laptop di dunia perkuliahan. Jadi, sekarang sudah tidak mengherankan bila melihat mahasiswa tidak bisa lepas dengan fasilitas pribadi yang namanya laptop.

Bahkan pelajar sekolah pun sekarang sudah banyak yang mempunyai laptop sendiri untuk mendukung aktivitas belajar mereka. Zaman kian berkembang, belajar pun kian canggih, tak sekadar dari buku teks, tapi juga multimedia dengan dukungan layanan internet. Makin mantap seharusnya belajarnya!

Nah, itu tadi pelajar-nya. Sekarang apalagi guru. Laptop juga menjadi kebutuhan tak terelakan buat guru. Selain untuk menunjang proses mengajar yang multimedia, laptop juga kerap dibutuhkan untuk melengkapi adminitrasi yang berkaitan dengan profesionalisme guru, seperti merancang perangkat pembelajaran setiap tahunnya.

Kebetulan profesi saya seorang guru. Dulu pertama kali kerja mengajar masih belum mempunyai laptop. Laptop yang lama dibawa adik lagi untuk lanjut kuliah. Baru enam bulan kerja, saya merasa butuh yang namanya laptop. Karena selama tidak punya laptop saya harus sering bolak-balik warnet, hanya buat ngetik media pembelajaran. Dan ketika ada wacana dari pimpinan kerja untuk segera menyiapkan perangkat pembelajaran, saya diskusikan dengan keluarga untuk berencana membeli laptop baru.

Ya, begitulah. Kebutuhan akan laptop di zaman serba digital ini tak bisa terelakan. Banyak tuntutan pekerjaan atau aktivitas tak bisa lepas dengan namanya laptop atau sejenisnya.

Nah, bagi teman-teman yang berencana untuk membeli laptop atau sejenisnya, ada beberapa tips yang bisa dipertimbangkan sebelum membeli. Ini tips versi saya hehe.

Pertama, Ukuran Laptop yang Dibutuhkan

Coba direnungkan kira-kira mobilitas teman-teman tinggi gak. Artinya, sering harus keluar rumah/ruangan atau sering pindah dari satu tempat ke tempat yang lain karena tuntutan pekerjaan atau aktivitas. Bila iya, pertimbangkan ukuran laptop yang akan teman-teman beli. Karena ukuran layar setidaknya mempengaruhi bobot dari laptop yang bisa jadi teman setia kerja kemanapun dan kapanpun.

Kedua, Daya Tahan Baterai

Selain ringan dibawa, pertimbangan lainnya adalah daya tahan baterai laptopnya, awet tidak? Biasanya, kalau saya merasa perlu membawa laptop, saya akan mengecas dulu di rumah sebelumnya sampai full-battery biar saya tidak perlu membawa charger. Kan berat juga kalau sambil membawa charger laptop kemana-mana. Nah, maka dari itu, pilihlah laptop yang daya tahan baterainya bisa berjam-jam sehingga tidak mengganggu aktivitas teman-teman karena harus merasa repot mengecas sana-sini, khususnya saat di luar ruangan.

Ketiga, Jenis Processor-nya

Jenis brand processor selain Intel kalau mau nyari sebenarnya banyak. Tapi Intel ini sudah lebih dikenal masyarakat dan berdaya jual tinggi. Jadi, processor Intel bisa menjadi pilihan utama. Secara, processor itu ibaratnya otak laptop, yang akan mengontrol jalannya sistem kerja dalam laptop. Kalau ‘otak’nya bagus, otomatis cara kerja mesin juga bagus. Sehingga pekerjaan teman-teman tak kan menemui kendala yang berarti karena alasan lemot atau loading tak berkesudahan.

Nah, sedikit tips-tips sederhana dari saya yang bisa dijadikan sebagai pertimbanagn sebelum membeli laptop. Sudah menemukan laptop dambaan hati, belum?

Kalau belum, ada kabar kembira dari brand ASUS. ASUS sekarang mengenalkan produk barunya, yaitu notebook ASUS E202. Banyak keunggulan yang bisa dijadikan pertimbangan teman-teman untuk memilih ASUS E202 jadi notebook pilihan. Hanya saja di sini saya akan memaparkan 4 poin keunggulan yang saya suka dari ASUS E202 ini.

1. Compact Design to Keep Your Moving


ASUS E202 ini didesain efektif dan efisien bisa dibawa kapanpun dan dimanapun. Kenapa? Karena ukuran dan bobotnya yang handy banget, yaitu berdimensi 193 x 297 mm atau tidak lebih besar dari kertas berukuran A4 dan memiliki bobot 1,21 kg. Sangat ringan kan?

2. Fully Equipped, including USB 3.1 Type C


Meskipun dimensinya minimalis, ASUS E202 tetap memiliki dukungan beberapa USB port seperti sebuah micro HDMI port dan slot Micro SD yang tersedia bagi kegiatan komputasi sehari-hari kita.

Untuk versi dan tipe USB port-nya adalah USB versi 3.1 dan tipe C. Artinya, secara fisik ukuran konektor dan soket-nya cukup kecil atau tipis, hanya sekitar 8,4 mm x 2,6 mm. Kedua sisi soket dan konektor memiliki bentuk dan ukuran yang sama, sehingga walau orientasinya terbalik saat dicolokkan, konektor akan tetap masuk. Sehingga desain ini memudahkan pemakai tidak perlu khawatir akan salah orientasi saat menancapkan konektor ke perangkat.

Selain itu, desain USB 3.1 Tipe C ini memiliki kecepatan puncak berkisar 10 Gbps dan mampu menghantarkan tegangan supply hingga 20 V (100 W) dan 5 A. Jadi, untuk aktivitas mengecas notebook bagaikan mengecas sebuah smartphone atau tablet, hanya menggunakan sebuah kabel USB.

3. Long Battery Life for All Day Computing


ASUS E202 memiliki ketahanan baterai sampai 8 jam sehari sehingga kita tidak perlu khawatir kehabisan baterai saat di luar ruangan atau kelupaan membawa charger.

4. Next Generation Intel Processor


ASUS E202 ini menggunakan Intel processor terbaik sehingga kita tidak perlu khawatir akan kapasitas performanya dalam berkomputasi khususnya pada saat berselancar di web, menonton video, proses pengetikan, dan multi-tasking sehari-hari.

Itu 4 keunggulan ASUS E202 yang saya suka. Keunggulan lainnya dari ASUS E202 adalah

5. A Palette of Four Different Colors


ASUS E202 ini menyediakan 4 pilihan warna yang bisa disesuaikan dengan kesukaan teman-teman. Ada yang Silk-White, Dark-Blue, Thunder-Blue, dan Red-Rouge. Silakan pilih sesuai dengan ekspresi kesukaan masing-masing.

6. ASUS E202 Hadir dalam Versi Windows 10 lho


Sudah tahu belum kelebihan dari Windows 10 ini?

Pertama, Windows 10 memiliki kemampuan yang mendukung multi desktop sehingga dalam satu layar akan tampil tidak hanya satu desktop, tapi bisa hingga tiga dekstop sekaligus. Kemampuan ini memungkinkan kita dapat melihat dokumen secara bersamaan dan melakukan berbagai pekerjaan sekaligus.

Kedua, Windows 10 ini juga dilengkapi fasilitas konektifitas antar perangkat melalui fitur Continuum. Cukup menghubungkan smartphone dengan laptop atau PC yang memiliki Windows 10 maka tampilan smartphone akan muncul di layar laptop atau PC atau sebaliknya menjadikan smartphone, tablet memiliki tampilan layarnya desktop atau laptop.

Ketiga, selain interkoneksi ke sesama Windows 10, kompatibilitas dengan berbagai perangkat yang memiliki sistem operasi lainya juga bisa dilakukan dengan mudah menggunakan Microsoft Phone Companion App. Pengguna iPhones, Android, dan Windows Phone dapat terkoneksi dan terhubung dengan semua perangkat Windows 10.

Jadi, dengan kelebihan Windows 10, efektifitas dan efisiensi kita menyelesaikan pekerjaan semakin mudah.

Nah, itu beberapa keunggulah dari produk ASUS E202 yang mendukung aktivitas harian kita dengan efektif dan efisien. Keunggulan lain dari ASUS E202 selebihnya bisa teman-teman akes di www.asus.com.

Sudah mantap dengan produk ASUS E202? ☺


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com


~Wenny Pangestuti~


#E202BlogCompetition

June 17, 2017

Bebas [The Real Human, without Gadget]


Sudah lama tidak begini. Menulis diary di pagi hari. Semua terkesan berubah. Keberadaan smartphone mengubah segalanya, memasung kreativitas dan imajinasi, bahkan mencuri kesibukan.

Generasi terdahulu dengan generasi terkini amat berbeda. Miris. Bahkan lebih baik yang terdahulu walau tak tersentuh teknologi canggih.

Komunikasi terdahulu dengan komunikasi terkini pun berbeda jauh. Dulu, terpisah lalu berkomunikasi kembali adalah anugerah yang membunga-kan hati. Kini, generasi tidak menghargai kemudahan komunikasi. Bahkan rindu kian tak berarti. Hati menjadi dingin. Respon kurang berkenan di hati.

Miris. Sedih. Sekaligus merasa kehilangan sesuatu. Kehangatan. Rasa syukur atas kesederhanaan. Quality time dengan orang-orang yang berharga di hati. Hilang. Nyaris musnah.

Apalah arti semua. Apalah arti smartphone. Bila dengan kemudahannya, tak memberi arti apa-apa, selain jiwa dan pikiran yang sakit. Sakit.

Mendamba kebebasan dengan semilir angin kesegaran, yang membasuh jiwa yang kian terpenjara oleh kukungan dunia maya.

Biarlah lepas sejenak atau bahkan lebih lama tanpa pautan hati dunia maya.

Duniaku.. dunia nyata lebih bahagia, bahkan indah. Dengan hangatnya sinar mentari sebelum pukul 09.00. Atau teduhnya suasana dengan aroma khas tanah basahnya pasca hujan. Mendengar simfoni alam dari nyanyian-nyanyian ternak di pagi hari. Ayam, bebek, atau kicauan burung sang pengembara. Tidak peduli comment dan like. Tidak peduli scrolling. Tidak peduli stalking.

Aku bebas. Menjadi manusia nyata. The Real Human, without Gadget.

Bebas.


~Wenny Pangestuti~

June 09, 2017

Konsep Pendidikan Anak, Harapanku


Sekitar bulan April lalu, saat saya sedang menjaga ujian, sambil menjaga ujian saya corat-coret di atas kertas. Menjaga ujian cukup membosankan juga. Jadi, dengan sambil corat-coret bisa mengusir kejenuhan, bahkan rasa kantuk.

Saat itu yang ada dalam benak saya adalah kualitas generasi sekarang yang banyak mengundang rasa miris dari tingkah laku, cara berpikir hingga pergaulannya. Saya jadi gregetan dan ingin mendobrak keadaan generasi yang kian rusak. Makanya muncul harapan dan komitmen bila kelak saya menjadi orang tua, saya harus benar-benar menjadi orang tua yang berkualitas dalam mendidik anak. Saya tidak ingin nasib anak-anak saya salah arah, salah pikiran, hingga salah pergaulan. Saya ingin anak-anak saya adalah anak yang berbobot ilmu, khususnya ilmu agama. Generasi yang menjadi oase ilmu dan akhlakul karimah di tengah rusaknya tatanan interaksi dalam masyarakat.

Dari benak itulah, tergoreslah uneg-uneg saya dalam beberapa carik kertas yang saya dapatkan di laci meja guru kelas. Dan beginilah uneg-uneg itu:

Corat-coret-ku


Konsep Pendidikan Anak di Masa Depan

  • Menjaga betul interaksi antara laki-laki dan perempuan
  • Kalau memungkinkan memilihkan tempat belajar/ sekolah yang terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan
  • Kenapa?
  • Karena saya menyadari betul bahayanya interaksi antara laki-laki dan perempuan yang kurang terkontrol.
  • Di era sekarang, sekolah bisa menjadi gerbang pertama melencengnya arah yang keliru dalam memahami interaksi antara laki-laki dan perempuan.
  • Menghindari sekolah-sekolah umum -> upaya meminimalisir interaksi laki-laki dan perempuan dari interaksi yang tidak syar’i; meminimalisir tumbuhnya bibit cinta yang kurang tepat.
  • Ini berdasarkan pengalaman masa muda saya. Betapa tidak enaknya kalau sudah terjebak pada konsep cinta yang keliru. Sulit menghilangkannya!
  • Karena itu saya ingin menjaga generasi saya sebaik mungkin.
  • Selain itu, menghindari pengenalan pada musik-musik tentang cinta atau tidak syar’i. agar tidak membuai anak dalam fantasi yang keliru.
  • Menghindari tayangan TV yang tidak mendukung. Bahkan kalau perlu menghindari keberadaan TV di lingkungan rumah. Untuk menjaga pola pikir anak.
  • Mengganti hiburan dengan buku-buku, multimedia yang syar’i dan islami untuk merangsang kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
  • Lebih mengedepankan anak menguasai baca Qur’an dengan tartil, menghafal Qur’an dan hadits serta doa, menguasa bahasa Arab. Itu digunakan sebagai kemampuan yang mendukung spirit dakwah pada diri anak.

Social Media

  • Membatasi mereka ber-social-media hingga mereka cukup matang untuk menggunakannya. Saat menjadi pelajar lebih baik tidak perlu ber-social-media.
  • Ketika baligh (15-21) mereka mungkin boleh memiliki nomor sendiri, social media sendiri dengan anggapan mereka sudah mulai dewasa, memberi keleluasaan dalam mengambil keputusan dalam hidup, mulai mengajarkan kemandirian berpikir. Namun, tetap dalam pengawasan orang tua. Usia sekian menjadikan mereka bukan lagi anak-anak, tetapi sebagai sahabat.

Anak = Investasi Akhirat

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.”
[HR. Muslim]


Bekal untuk Mendidik Anak yang Akan Memasuki Usia Baligh

  • Paham tata cara bersuci dari hadas besar, seperti haid dan mimpi basah
  • Mengajarkan tata cara thaharah lainnya
  • Ilmu fikih seperti tata cara shalat
  • Kewajiban menutup aurat dan berjilbab

Karena ini berkaitan dengan kewajiban fardhiyah yang akan dipikulnya

Dengan semua ini, harapan saya menyiapkan anak dapat tumbuh dan berkembang sekelas generasi sahabat Rasulullah.

Harapan saya di usia memasuki 18-20 mereka sudah memiliki kesiapan dengan tanggung jawab untuk menikah.

Kenapa menikah muda? Karena saya menyadari gejolak syahwat di usia sekian kian membuncah dan godaan dimana-mana.

Daripada anak-anak terkekang bahkan berpotensi salah arah pergaulan, menyiapkan mereka menikah mudah lebih aman. Insya Allah lebih barakah. Intinya menghindarkan anak-anak dari kegalauan seperti kebanyakan generasi masa kini!


“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara:
1. Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,
2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,
3. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,
5. Hidupmu sebelum datang kematianmu.”
[HR. al-Hakim]


Wenny Pangestuti


Sumber gambar: i1.wp.com