June 04, 2014

Di Stasiun



Menjelang siang kukayuh sepeda menuju stasiun di kota tempatku berada, untuk membeli tiket perjalanan pulang nanti sore. Dengan sistem pelayanan kereta api yang baru, aku menjadi bingung, tak tahu-menahu cara melakukan pemesanan tiket kereta. Ternyata untuk membeli tiket harus mengisi formulir pemesanan dulu. Itu informasi yang kuperoleh setelah bertanya pada salah seorang perempuan, yang juga akan membeli tiket.
“Permisi, Mbak! Itu apa ya? Apa harus mengambil itu dulu ya?” tanyaku ambil menunjuk ke arah lembar formulir yang dipegang oleh perempuan tersebut tatkala mengantri di depan loket.
“Oh iya, Mbak, ngisi ini dulu,” jawab perempuan tersebut sambil mengarahkan ke arah tempat lembar formulir itu bisa diambil.
Ketika aku mulai mengisi formulir, ada beberapa hal yang membuatku bingung, bagaimana cara mengisi beberapa kolom di dalamnya. Aku menoleh kesana kemari. Tak ada petugas yang membimbing dan tak ada contoh pengisiannya. Namun, ternyata contoh pengisiannya telah tersedia di meja penulisan formulir. Hanya saja saat itu tertutupi oleh orang yang juga tengah mengisi formulir di meja tersebut.
Lalu kucoba beranikan diri lagi bertanya pada seorang lelaki di sampingku, “Mas, ini bagaimana maksudnya?” Lelaki itu pun menjelaskan dengan singkat. Aku bertanya dan mendengar penjelasan singkatnya tanpa menoleh sedikit pun pada wajahnya. Setelah beberapa saat, baru kusadari bahwa lelaki itu adalah...teman satu kelasku di salah satu perkuliahan yang aku ikuti, Si Ketua Kelas. Ia melenggang pergi dengan tak acuh meninggalkanku menuju antrian loket. Baginya aku ini siapa, yang perlu diingat. Tapi bagiku dan teman-teman yang lain bagaimana mungkin tidak mengingatnya. Bahkan mungkin memilki nomor handphone-nya perlu agar tak ketinggalan informasi penting mengenai perkuliahan yang kami ikuti.
Aku masih dengan formulir itu. Karena sedikit heboh sendiri melakukan pemesanan tiket, aku nyaris kehilangan handphone. Aku meletakkanya di meja pengisian formulir lalu berlalu ke arah jadwal waktu keberangkatan kereta tanpa teringat sedikit pun pada handphone tersebut. Ketika merogoh isi tas, baru kusadari handphone-ku tak ada. Lalu berlalu lalanglah aku kesana kemari, mencari keberadaan handphone tersebut. Di meja formulir tak ada. Akhirnya, kuputuskan meminta tolong pada petugas security setempat. Alhamdulillah, ternyata ada seorang wanita yang telah menyelamatkan handphone-ku, dengan menyerahkannya ada petugas security di sana. Fiuh, alhamdulillah. Dalam hati, terima kasih kutujukan kepada mbak yang pertama kali memberi tahu prosedur pemesanan tiket tadi, pak ketua kelas dan mbak penemu handphone-ku karena hari ini telah membantuku di stasiun. :)


~Wenny Pangestuti~