October 19, 2014

Transformasi Maknawi Ramadhan


Ramadhan adalah bulan yang mulia bagi umat Islam. Setiap amalan ihsan dilipatgandakan pahalanya. Bulan yang penuh dengan ibadah meraih ketaqwaan setinggi-tingginya di hadapan Allah subhanallahu ta’ala. Bulan yang semestinya menjadi bulan taqarub ila Allah. Bulan yang seharusnya me-refresh kembali keimanan kepada Allah. Bulan yang seharusnya menjadi konsentrasi untuk bertaubat pada Allah.
Sungguh beruntung, muslim dan muslimah yang sadar betul akan keutamaan bulan Ramadhan ini. Mereka tak kan menyia-nyiakan bulan ini berlalu begitu saja. Mereka tentu berlomba-lomba mengisinya dengan amalan-amalan kebaikan yang kian mendekatkannya dengan Rabb-nya, Allah subhanallahu ta’ala.
Namun, tak sedikit pula yang tak sadar betul akan keutamaan bulan Ramadhan ini. Terlebih di tengah kehidupan sekuler-kapitalis saat ini umat Islam sangat minim sekali pemahaman akan tsaqafah Islam itu sendiri. Selain hampir mati rasa untuk mempelajarinya, akses yang mempermudah umat Islam memahami ajaran Islam secara komprehensif kian dipersulit. Di sekolah, pembekal tsaqafah Islam alakadarnya. Demikian pula di kampus perguruan tinggi. Porsi pelajaran agama Islam hanya kurang lebih 2-3 jam dalam seminggu di sekolah, sedangkan bobot kuliah agama hanya 2-3 SKS selama masa kuliah. Minimnya penanaman tsaqafah islam di lembaga pendidikan, membuat Islam sadar diri dicari di luar dan tidak sedikit umat Islam yang phobi diajak kajian-kajian Islam. Kompleks. Karena akar permasalahannya adalah asas kehidupan yang mendera umat Islam saat ini adalah pemisahan agama dari kehidupan sehingga wajar melahirkan umat Islam yang ‘bodoh’ terhadap agamanya sendiri. Sungguh ironi!
Maka juga tak kalah mengherankan pula apabila pemahaman keutamaan bulan Ramadhan pun alakadarnya. Ramadhan saat ini bagaikan cukup sebatas menahan lapar dan dahaga saja. Coba perhatikan perilaku umat saat ini dalam menyambut bulan Ramadhan, urusannya tak lain dan tak bukan soal makanan, takjil, dan bla bla bla. Umat berbondong-bondong membuat makanan yang seringkali melebihi batas kebutuhannya. Huru-hara Ramadhan berpusat pada makanan. Ya seperti itulah..
Ketika berbuka, seolah gelap mata, semua hidangan ingin disantap. Tak lagi peduli bahwa sebenarnya kebutuhannya sudah cukup terpenuhi. Ketika tiba panggilan shalat, keluhan kenyang bersahut-sahutan, shalat tarawih dengan payah dan terkantuk-kantuk. Belum lagi, kebiasaan umat yang melepas ba’da sahur dengan tidur di pagi hari. Ya seperti itulah aktivitas-aktivitas umat saat ini memaknai Ramadhan.
Yang juga miris adalah shalat tarawih. Umat saat ini terjebak pada kuantitas dan lalai pada kualitas ibadah. Mereka mengira semakin banyak ibadah yang dilakukan, semakin memberatkan timbangan pahala. Mereka mengabaikan aspek ruhiyah lain, seperti kekhusu’an, rasa berserah diri, rasa takut pada Allah, kesabaran menjalani puasa di siang hari, konsep tawakal dalam berikhtiar, dan lain sebagainya.
Fenomena lainnya adalah jika kita berjalan-jalan di kampus tempat saya belajar, di bulan Ramadhan akan kita temui bejibun anak muda berdiri di kiri-kanan jalan menjajakan ta’jil. Berkelompok, baik laki-laki sendiri, perempuan sendiri, atau campur baur laki-laki dan perempuan, bahkan tidak turut ketinggalan anak-anak kecil turut serta. Tidak salah sebenarnya kalau itu untuk mencari penghasilan. Yang masalah adalah bukan karena mencari nilai materi, tapi sebatas euforia menyambut Ramadhan. 
Saya berpikir mungkin saat ini umat Islam, khususnya Indonesia, menjadikan Ramadhan ibarat bulan khusus yang terdapat perayaan budaya ritual tahunan yang menjadi ciri khas bangsa. Sama halnya ketika kita berkunjung ke negeri orang, mengenal kebudayaan negeri tersebut. Kita temukan ada kebudayaan perayaan adat istiadat yang khas, yang menjadi daya tarik warga asing datang menyaksikannya. Begitulah mungkin posisi Ramadhan di tengah-tengah umat. Akibatnya, esensi Ramadhan sebagai bulan meraih ketaqwaan kepada Allah menjadi perlahan sirna tereliminasi oleh budaya euforia belaka.



~Wenny Pangestuti~

*Ditulis Selasa, 31-07-2012
@an-Nahdhah  
05.20 WIB