February 21, 2014

Overview: How to Master Your Habits


Saat menjadi anak sekolahan dulu saya mempunyai habit (kebiasaan) mencatat bagian isi yang menarik dari buku yang saya baca. Saat ini pun sebenarnya masih, walaupun dengan intensitas yang berkurang. Karena dengan anggapan bahwa akan memakan waktu yang cukup lama untuk membaca sambil menulis di sela-selanya ketika menjumpai bagian isi yang menarik. Tapi entah ini alasan yang tepat atau sekadar dalih pembenaran saya hehehe.


Termasuk buku yang saya tulis bagian isinya yang menarik adalah How to Master Your Habits. Sebuah buku non-fiksi karya Felix Y. Siaw, seorang trainer yang cukup populer namanya di jejaring sosial seperti twitter dan facebook. Sudah dua kali saya membaca buku ini. Tidak membosankan, kecuali hanya membiarkannya menjadi setumpuk teori dalam pikiran kita. Menarik dan bermanfaat. Itulah dua kata yang bisa saya lontarkan sebagai komentar setelah membaca buku ini, tapi sekali lagi kecuali hanya membiarkannya menjadi setumpuk teori dalam pikiran kita. Itulah sebabnya, dalam kesempatan yang kedua kalinya itu, terbesit dalam benak saya untuk menulis bagian isi buku ini yang menarik dan bermanfaat sebagai pengingat saya. Selain itu, juga karena satu alasan, yaitu saya tidak memiliki buku tersebut secara pribadi alias hanya pinjam. :)

Untuk itu, tak ada salahnya saya ingin berbagi hasil kutipan saya di sini. Barangkali Sobat menemukan inspirasi di dalamya dan mendapatkan gambaran mengenai isi buku tersebut.  Secara lebih lengkapnya, Sobat dapat membaca bukunya secara langsung. Selanjutnya, saya hanya bisa berkata, “Selamat membaca!” :)

Ø Tidak perlu memikirkan apa posisi awal kita saat ini. Karena itu tidak penting. Kita dapat menjadi apapun atau menguasai keahlian apapun yang kita inginkan bila kita benar-benar menginginkannya, dengan cara membiasakan dan membentuk habits pada diri kita. Menjadikan yang luar biasa menjadi kebiasaan.

Ø Structure of Habits




 


Ø Genealogy of Habits

Walaupun pada manusia habits yang dipilihnya dipengaruhi oleh cara berpikir. Namun, dalam proses pembentukannya, peran akal tidaklah terlalu dominan. Faktor yang menentukan apakah kita akan memilki habits hanya 2 hal, yaitu practice (latihan) dan repetition (pengulangan), yang tentu saja dilakukan dalam rentang waktu tertentu.

Practise makes right, repetition makes perfect.

Ø Spiral of Habits




 


Marilah kita membaca nasihat Imam Syafi’i kepada siapa saja yang ingin menguasai suatu ilmu:





“Wahai saudaraku, kalian tidak akan dapat menguasai ilmu, kecuali dengan 6 syarat yang akan saya sampaikan: dengan kecerdasan, dengan bersemangat, dengan kesungguhan, dengan memiliki bekal (investasi), bersama pembimbing, serta waktu yang lama.”



Ø Why? What? How?
Memahami “What?”, “Why?” dan “How?” akan melejitkan amal ibadah seorang Muslim.

Seseorang yang memahami kenapa dia harus berbuat akan mempunyai daya dorong yang kuat dalam melaksanakan perbuatannya, dan ketika dia memahami apa yang diinginkannya, maka hal itu akan menjadi daya tarik baginya.



Ø How Many Days?



Untuk membentuk habits baru, maka kita harus melakukan practice dan repetition selama 30 hari berturut-turut secara konsisten, tanpa ketinggalan satu hari pun. Karena habits berarti pembiasaan, dan pembiasaan memerlukan konsistensi.

Ø First is Hardest



Secara umum, ada 3 milestone yang dapat kita jadikan panduan dalam membentuk habits. Para pakar mengatakan begitu juga dari ditunjukkan pengalaman-pengalaman orang banyak, bahwa bila suatu aktivitas dilakukan secara konsisten dan kontinyu dalam 30 hari, maka habits baru telah terbentuk. Hanya saja habits baru ini masih rapuh dan keinginan untuk kembali pada habits lama lebih besar daripada melanjutkan habits baru.

Milestone kedua terletak pada 3 x 30 hari, dimana habits baru yang dibentuk akan lebih kuat, dan keinginan untuk melanjutkan habits baru akan sama kuatnya sebagaimana kita ingin kembali pada habits yang lama.

Ketiga, 10 x 30 hari atau satu tahun, insya Allah habits yang kita bentuk telah solid dan menjadi program yang hampir permanen, otomatis terjadi pada diri kita seperti gerak refleks.

ØFrom Lame to Fame

  


Habits adalah membiasakan yang pada awalnya dilakukan secara sadar menjadi melakukan secara tidak sadar otomatisasi keahlian kita.

Ø Luck is a part of Habits


Keberuntungan adalah hasil kali dari kesempatan dan persiapan.

Keberuntungan tidak hanya menunggu kesempatan, dia perlu persiapan yang matang. 
“Anytime you see someone more suceessful than you are, they are doing something you aren’t.” (Malcolm X)

Dua orang dengan pilihan yang sama, dan visi yang sama, mencintai pada Dzat yang sama; Allah Swt, cepat atau lambat pasti akan berjumpa. Paling lambat di surganya Allah.

Ø Let’s Make Habits ^_^

1. Mulai dari yang kecil



Mulailah habits baru kita dengan hal-hal kecil terlebih dahulu. Mematok target yang terlalu tinggi hanya akan menghasilkan rasa jenuh dan putus di tengah-tengah.

Misal, bila habits yang ingin dibentuk adalah membaca buku, maka mulailah dengan 10 menit sehari membaca buku, atau 10 lembar per hari membaca buku.

Mematok target besar cenderung gagal, dan lagipula, apabila telah terbiasa, kita akan menaikkan secara otomatis jumlahnya.

2. Temukan tempat Habits



Untuk melatih sebuah habits, maka kita harus menyisipkan habits itu pada habits lain yang sudah solid (sudah jadi).

Kuncinya adalah kata “setelah”.

Mislanya, saya akan membaca “setelah” shalat shubuh, atau saya akan membaca setelah mandi sore, dan sebagainya.

Menyisipkan kata “setelah” membuat habits terotomatisasi oleh waktu sebagai pemicunya, ada trigger, dengan kata “setelah”.

3. Berlatihlah terus!



Pada awalnya, mungkin kita akan seringkali lupa untuk melaksanakan habits baru, maka buatlah pengingat dimana-mana tempat biasa kita beraktivitas.

Misalnya, menempel pengingat habits di kamar tidur, di ruang kantor, ataupun dimana saja, yang biasa berfungsi sebagai reminder.

Atau bisa pula meminta teman untuk selalu mengingatkan tentang habits yang akan kita latih.

Dan ingat untuk melakukan setiap hari!

Ø The Rules of 10.000 hours



Sebuah penelitian menyampaikan bahwa seseorang baru akan menjadi ahli dalam bidang yang dia pilih apabila telah berlatih selama 10.000 jam di bidang tersebut.

Jika, kita berlatih 3 jam sehari dalam bidang yang ingin kita kuasai, maka perlu 10 tahun bagi kita untuk mencapai 10.000 jam itu. Bila kita ingin 5 tahun menjadi seorang ahli, maka haruslah latihan itu kita tingkatkan 6 jam sehari.

Ø The End is Better than Beginning



Ibnu Katsir mengomentari dalam tafsirnya,
“Manusia pada umumnya tidak memiliki ilmu, kecuali ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu Dienul Islam, untuk kebahagiaan akhirat mereka.”

The last but not the least, saya menambahkan kutipan dari sebuah lirik lagu yang maknanya tak jauh berbeda dengan yang di atas. Satu hal, pesan dari saya: to be an expert in certain part, we just necesarry to begin. Jadi, baik aku, kamu, dia, dan mereka atau kita semua punya kesempatan sama untuk melejitkan potensi diri kita. Tidak melihat masa lalu kita atau seberapa baik buruknya kita sebelumnya. Hanya perlu satu, berani memulai. Ok? Let’s do it together! :)

Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya takut
Takut tuk mencoba dan gagal, tapi...
Hey kawan
Pasti kau dan aku sama, sama-sama punya mimpi
Mimpi tuk menjadi berarti karena...


Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan
Tuk jadikan dunia ini lebih indah


Tak perlu tunggu hebat
Untuk berani memulai apa yang kau impikan
Hanya perlu memulai
Untuk menjadi hebat raih yang kau impikan

Seperti singa yang menerjang semua rintangan tanpa rasa takut
Yakini bahwa kamu kamu kamu kamu terhebat

 


~Wenny Pangestuti~

No comments :