December 07, 2014

Filosofi Kopi-ku



"Kopi. Selalu ada saja cerita tentangnya. Kopi memiliki ruang cerita sendiri dalam kotak hidupku: Lebih dari semacam minuman penghilang kantuk, tetapi menjadi semacam filosofi dalam hidup."


Bapakku semula karyawan PTPN XII yang salah satu hasil perkebunan yang ditangani adalah kopi dan teh. Secara berkala bapak dan para karyawan lainnya biasanya memperoleh jatah beberapa bungkus bubuk kopi dan beberapa kotak teh celup. Otomatis keberadaan kopi dalam dalam keluargaku cukup familiar. Tak perlu membeli kopi merk apa pun yang dijajakan lewat iklan karena cukup dengan bubuk kopi yang dijatah tersebut sudah bisa menyeduh kopi di rumah.
Minum kopi setiap pagi menjadi kebiasaan dalam keluargaku. Biasanya entah bapak atau ibu akan membuat satu gelas besar kopi untuk diminum bertiga secara bergantian, yaitu bapak, aku dan ibu. Sedangkan adikku tak begitu fanatik pada kopi. Biasanya kami meminum kopi dilengkapi dengan kue, entah itu berupa roti atau jajanan pasar.
Saat keluarga kami masih tinggal di Tanggul, salah satu kecamatan di Jember, mudik menjadi aktivitas rutin tahunan bagi kami menjelang Idul Fitri. Kami mudik ke Banyuwangi, rumah mbah-mbahku berada, baik dari pihak ibu maupun bapak. Kalau sudah di rumah mbah, baik itu dari pihak ibu maupun bapak, seperti telah menjadi kebiasaan para wanita akan membuatkan kopi untuk para lelaki, seperti suami atau ayah mereka. Meskipun aku bukan laki-laki, tetapi aku seringkali dibuatkan satu gelas kopi ukuran sedang secara khusus. Ya karena aku suka minum kopi. Sampai ada yang menyeletuk, “Wedok-wedok kok seneng kopi. Koyo’ wong tuwek wae[1]. Tentu saja kopi yang dibuat selama ini adalah kopi hitam yang berampas.
Kebiasaan minum kopi ini tetap kubawa sampai aku memasuki masa kuliah sebagai mahasiswa. Awal-awal semester aku masih dibawakan 1 bungkus plastik 1/4an berisi kopi dan satu lagi berisi gula. Lalu pada semester-semester berikutnya, aku mulai menjajal kopi-kopi sachet yang banyak diiklankan di televisi dan dijual di banyak toko dan supermarket, mulai dari kopi hitam berampas hingga kopi campuran dengan susu atau creamer, yang tak berampas. Semakin hari dengan melakukan perbandingan rasa, aku lebih menyukai kopi campuran. Selain rasanya lebih enak (tidak terasa pahitnya), juga lebih bersahabat dengan lambung menurutku.
Teman-teman yang satu kontrakan denganku sering menyebutku sebagai ratunya kopi karena kegilaanku pada kopi dan seringnya intensitasku meminumnya. Aku lebih suka minum kopi di pagi hari setelah waktu subuh. Kopi yang hangat atau suam-suam kuku terasa nikmat diseruput di kala hawa pagi dingin yang menyegarkan. Selain pagi, minum kopi di kala senja juga tak kalah nikmat. Udara waktu senja menjelang Maghrib memang terasa lebih dingin dan lembab sehingga minum kopi akan membuat tubuh terasa hangat dan nyaman.
Sampai-sampai untuk urusan kopi, aku membawa cangkir lengkap dengan lepeknya secara khusus. Aku senang sekali melihat kopi disajikan dalam cangkir lengkap dengan lepeknya.
Minum kopi menjadi semacam perekat hubunganku dengan keluarga, khususnya bapak. Bapak sepertinya memahami benar kesukaanku pada kopi. Biasanya kalau di rumah Tanggul selepas shalat Shubuh dan membaca Qur’an, aku mendengarkan acara radio favoritku, Voice of Islam. Kalau sudah begitu, aku tidak beranjak keluar dari kamar. Bapak acapkali memanggilku, “Kopi, Wen. Selak adem, lho![2] Bapak kadang sampai ke luar rumah menuju warung untuk membeli roti atau kue bila di rumah tidak ada persediaan kue. Biasanya kami meminum kopi di ruang makan. Namun, tak jarang kami juga minum kopi di depan televisi di ruang tamu. Kalau sudah demikian, biasanya bapak mengajak ngobrol masalah-masalah dari berita di televisi hingga merembet pada petuah-petuah bijak dan aku tak perlu diragukan lagi menjadi pendengar setia yang baik dalam hal ini.
Setelah bapak pensiun, keluarga kami pindah ke Banyuwangi, tempat kelahiran bapak. Dengan statusku yang masih belum lulus kuliah, aku beberapa kali pulang kampung dari Jember ke Banyuwangi. Awal-awal pulang kampung, kulihat aktivitas minum kopi di pagi hari tetap berjalan. Tetapi, kopi yang digunakan adalah kopi hitam sachet yang dibeli di warung. Kulihat sepertinya pengonsumsiannya lebih irit. Mungkin mereka memperhatikan keuangan yang sudah tak lagi sama kala bapak masih bekerja tetap sebagai karyawan. Pada kesempatan pulang kampung selanjutnya, kali ini bapak dan ibu mempunyai 1 kaleng bubuk kopi. Kudengar cerita dari ibu bahwa itu hasil menumbuk sendiri. Memang soal cita rasa beda jauh dari kopi dari tempat bapak bekerja dulu atau kopi sachet ber-merk. Tapi, kalau minum kopinya tetap bersama begini tetap nikmat menurutku. Ini adalah sweet memory-ku di rumah.
Bagi sebagian orang, minum kopi cukup riskan. Biasanya, masalah di lambung, entah itu perih atau gemetar. Hal tersebut biasanya terjadi pada orang yang tidak terbiasa meminum kopi. Sebenarnya minum kopi tetap bisa dirasai dengan nikmat, tanpa menimbulkan efek samping lambung perih atau gemetar, asalkan memperhatikan waktu, jenis, kuantitas, dan cara meminumnya.
Soal waktu, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya minum kopi terasa nikmat saat pagi hari sebelum sarapan atau di kala senja. Kalau tujuannya untuk menahan kantuk karena ingin begadang di malam hari, usahakan hindari minum kopi terlalu malam, seperti di atas pukul 21.00. Selain membuat kita sulit tidur hingga larut malam, juga akan membuat badan terasa tidak enak saat bangun tidur keesok paginya, seperti masuk angin atau perut kembung.
Soal jenis, kita sesuaikan dengan selera. Kalau kita tidak terbiasa minum kopi atau rentan bermasalah dengan lambung, lebih baik baik pilih kopi campuran dengan susu atau creamer. Kopi jenis ini menurut saya lebih bersahabat. Sudah banyak merk-merk kopi yang menawarkan kopi jenis ini dan menggoda selera. Merk favorit saya adalah Good Day.
Soal kuantitas, hindari minum kopi dalam satu hari lebih dari dua cangkir karena dikhawatirkan membuat perut kita kembung. Juga harus diseimbangkan, jangan sampai minum kopi, tapi tidak makan. Jelas hal tersebut mengganggu kesehatan tubuh, khususnya masalah pencernaan.
Sedangkan soal cara, alangkah baiknya minum kopi disertai sandingan. Bukan sandingan sesajen lho maksudnya :). Maksudnya, sandingan berupa kue, entah itu roti, jajanan pasar, atau biskuit sesuai selera masing-masing. Ini supaya lambung yang mungkin masih kosong tidak kaget menerima kopi begitu saja karena belum sarapan atau belum makan. Jadi, ada pengganjal berupa makanan ringan untuk menghindari rasa perih pada lambung sesudah meminumnya.
Ya itu sedikit tips dari pengalaman pribadi saya meminum kopi dan semuanya tanpa pertimbangan ilmiah yang akurat. Jadi, untuk lebih detail korelasi kopi dengan kesehatan, bisa digali lebih dalam informasinya. Sebagai tambahan,

“Sesuka-sukanya kita minum kopi, tetap harus menjaga pola makan dengan teratur ya.”



~Wenny Pangestuti~




[1]  “Perempuan-perempuan kok suka kopi. Seperti orang tua saja.”
[2] “ Kopi, Wen. Keburu dingin, lho!”

1 comment :

Arya Poetra said...

Ada kopi yang buruk secara penampilan. Namun, akan berbeda bagi sebagian orang, karena mereka telah mengenalnya lebih jauh. Mungkin saja, mereka jatuh, terpesona oleh rasa nya. Karena tak jarang, aroma tak menggambarkan dengan pasti tentang rasa yang ada di baliknya.