December 06, 2014

Inspirational Share for Nabila


Dalam perjalanan sebagai mahasiswa, menjadi guru les privat adalah salah satu aktivitas yang pernah saya lakoni. Sudah silih berganti anak yang saya dampingi belajar, salah satunya Nabila. Cerita bagaimana saya bisa menjadi guru les privatnya menarik karena sebelum-sebelumnya saya menjadi guru les privat melalui informasi mulut ke mulut, atau lembaga. Namun, suatu ketika saya sepi anak-anak yang mau diles-privati dan saya juga sudah berhenti lewat lembaga, saya berinisiatif membuat brosur les privat. Supaya lebih menarik, saya tetap mencetaknya berwarna. Saya tebar pertama kali di depan sebuah sekolah menengah pertama (SMP) yang kata orang sekolah tersebut SMP favorit di kota Jember. Sebenarnya saya maju mundur menyebarkan brosur seorang diri, tapi akhirnya mau gak mau harus ditebar. Sayang banget sudah nyetak ngeluarkan ongkos, masa’ gak jadi ditebar. Akhirnya, saya tebar. Satu.. dua.. tiga.. perlahan satu demi satu brosur beralih tangan kepada siswa-siswa yang hendak masuk melalui gerbang sekolah. Tinggal sedikit lagi, maka habislah brosur itu dari genggaman tangan saya.
Di tengan aktivitas tebar yang saya lakukan, berhentilah sebuah sepeda motor di sekitar depan gerbang, yang dikendarai oleh seorang ibu mengantarkan putrinya sekolah. Saya berikan beliau brosur juga. Ibu tersebut membaca brosur tersebut lalu menoleh ke arah saya. Saya balas dengan senyum. Ibu tersebut juga tersenyum lalu beranjak meninggalkan tempat tersebut. Selang beberapa waktu brosur dalam genggaman saya pun habis. Saya pun pulang menuju kontrakan kembali.
Minggu demi minggu berlalu. Dinanti-nanti, tak ada panggilan yang menunjukkan ketertarikan pada penawaran brosur saya. Tapi, ternyata setelah saya hampir lupa dengan brosur tersebut, ada panggilan yang intinya saya diminta ngelesi salah satu siswi SMP tersebut. Hanya satu siswa. Alhamdulillah meskipun masih satu siswa.
Sekitar satu bulan berlalu. Saya pindah kontrakan di Mumtaz. Ketika saya sedang di dalam warnet, ada panggilan dari HP saya. Ternyata, seorang wali murid yang meminta saya membimbing putrinya belajar untuk persiapan ujian semester. Awalnya saya hampir menolak karena rumahnya terlalu jauh untuk saya tempuh dengan hanya naik sepeda, tetapi akhirnya saya mengiyakan. Ternyata setelah saya sampai di rumah tersebut, ibu yang menelpon saya itu adalah ibu yang menerima brosur saya dulu. Lebih ternyata lagi ibu tersebut bernama sama dengan saya, Weny. Menariknya, ibu tersebut ramah sehingga acapkali saya sering disuguhi minuman manis sesuai dengan permintaan saya, mau yang dingin apa yang hangat. Selain minuman, saya juga sering diajak makan bersama. Makan soto, bakso mercon, ikan bandeng, sayur asem kangkung semua pernah saya jajal. Kebetulan ibu Weny dengan suaminya memilki usaha soto dan bakso mercon. Nah, putri ibu Weny inilah yang bernama Nabila.
Nabila siswa SMP kelas 2 saat itu. Sebenarnya Nabila pintar, dan mudah menangkap materi pelajaran. Tetapi, biasanya ia kurang teliti mengerjakan soal matematika selama les. Saya sih maklum karena mungkin saja Nabila letih setelah setengah hari belajar di sekolah. Selain itu, Nabila siswa yang aktif mengikuti kegiatan ekstra-kurikuler, seperti karate, dance, dan jurnalistik. Mungkin delima saya ketika membimbing Nabila belajar adalah soal matematika yang paling sering dikerjakan pilihan ganda sehingga yang dibutuhkan soal cukup jawaban akhir yang benar. Nabila biasanya menghitung saja di kertas coret-coretan. Menghitungnya cepat sampai saya tidak bisa mengikuti proses hitungnya. Mungkin ini ya kalo anak pintar, ngitungnya cepet. Sebenarnya tidak masalah. Tapi lama-lama pikiran saya melesat jauh pada realita pendidikan di negeri ini.
Pendidikan kita sering mengarahkan siswa pada mendapatkan jawaban akhir dengan benar karena memang pada akhirnya siswa akan dihadapkan pada ujian akhir nasional (UAN) yang bentuk soalnya pilihan ganda sehingga cukup membutuhkan jawaban akhir yang benar. Sedangkan proses berpikir dan kerja siswa bisa menjawab soal dengan benar sepertinya luput dari pemantauan yang mendalam. Bisa saja siswa menjawab jawaban akhir dengan benar, tetapi apakah konsep dan cara hitungnya sudah dalam jalur yang benar, atau jangan-jangan cara asal-asalan, coba-coba (he ini pembahasannya kayaknya nyerempet ke topik skripsi saya). Lebih dari itu, pembelajaran seperti ini menurut saya juga akan mempengaruhi kepribadian siswa. Siswa menjadi terdidik dengan personal bermental instan, tidak menghayati proses. Siswa cenderung berorientasi hasil akhir, tapi tidak menangkap hakikat bersabar dalam menjalani proses ikhtiar.
Karena itulah, saya berpikir gimana caranya supaya aktivitas les saya dengan Nabila tidak sekedar Nabila menjawab soal dengan hasil akhir yang benar saja. Saya membuat perangkat yang saya buat secara manual. Saya menuliskan soal pada kertas warna, lalu saya tempel di kertas HVS. Saya juga sediakan kolom untuk menjawab. Sayangnya, waktu itu saya tidak sempat men-scan-nya untuk dokumentasi pribadi saya. Soalnya, membuatnya lumayan berjam-jam. Di akhir perangkat itu, saya memberikan lembar tambahan, lembar inspirasi. Isinya saya kutip dari tulisan di blog seseorang. Beberapa kata-katanya saya edit. Nah bagaimana isi lembar inspirasi itu? Beginilah rupanya.


Inspirational Share


Bekerja keras itu menghasilkan, bekerja cerdas itu melipatgandakan, dan bekerja ikhlas itu menenteramkan.
(Jamil Azzaini)


Kerja keras mengandalkan satu potensi dari diri kita, yaitu tenaga (ability) dan biasanya lebih bersifat hard skill. Kerja cerdas adalah kolaborasi antara tenaga (hard skill) dan pikiran (soft Skill). Hasil dari kerja cerdas adalah sebuah sikap kerja yang “out of the box”, inovatif, dan imajinatif. Sang pekerja cerdas tidak hanya memikirkan bagaimana caranya segera menyelesaikan sebuah pekerjaan, tetapi juga memikirkan, memahami dan menghayati bagaimana proses kerja tersebut. Orang yang hanya mengandalkan kerja keras akan lebih cepat mengalami kejenuhan dan kelelahan. Tetapi bagi seorang pekerja cerdas, ia akan terus mendapatkan nilai tambah bagi kualitas pekerjaannya sehingga ia pun akan terus meningkatkan kemampuannya, wawasannya, dan pemahamannya. Dalam berusaha, baik kerja keras maupun kerja cerdas pada dasarnya harus dibarengi dengan sikap ikhlas. Ikhlas menerima apapun nantinya hasil kerja yang telah diusahakan dengan maksimal. Jadi, agar kerja keras dan kerja cerdas kita lebih mengasyikkan dan menyenangkan, sertakanlah selalu keikhlasan. Karena dengan ikhlas kita akan lebih tentram.





~Wenny Pangestuti~

No comments :